Oleh: Juharman Muliadi
Awal digelarnya Sea Games 2023 di Kamboja, timnas sepak bola Indonesia berangkat dengan penuh optimis dan harapan untuk membawa pulang medali emas. Beberapa pecinta olahraga banyak yang merasa pesimis dengan Timnas sepak bola Indonesia. Bahkan ada yang sempat mengkritik pelatih karena hanya membawa pemain cadangan klub bahkan ada beberapa pemain yang hanya bermain di liga 2. Inilah salah satu alasan mengapa pecinta sepak bola menjadi pesimis pada mimpi para pemain untuk membawa pulang medali emas setelah 32 tahun yaitu 1987. Sejak saat itu kita tak pernah lagi merasakan euforia juara meskipun memiliki kesempatan berkali-kali yaitu final pada 1997, 2011, 2013, dan 2019, namun selalu dipaksa puas berada di podium kedua.
Seperti orang awam yang menonton sepak bola, selalu merasa hebat dari para pemain dan pelatih tanpa melihat track rekor dari sang pelatih itu sendiri. Di sini kita bakal sedikit belajar dari seorang coach Indra Safrie. Dengan bekal mindset, dia percaya dengan talenta sepak bola yang ada di pelosok. Sampai harus turun ke setiap daerah terpencil termasuk Alor yang sejak itu tidak pernah diperhitungkan adanya talenta sepak bola di sana. Namun, ternyata Alor yang begitu terpencil menyimpan seorang Yabesh Rohny yang begitu lincah dalam mengolah bola dan punya speed yang luar biasa, mampu membawa Indonesia menjadi juara piala AFF U-19.
Beberapa menit sebelum sampai ke lapangan, kala coach Indra Safrie membakar semangat para pemain dengan mengingatkan beberapa alasan mengapa para pemain suka dengan sepak bola. Kemudian beliau juga berkata, “jangan pernah takut dengan nama besar para pemain Korea yang bermain di Eropa, karena di antara kalian ada juga yang pajang foto pemain top yang bukan hanya foto Ponaryo Astaman. Kita tidak bisa selalu menundukkan kepala ketika berhadapan dengan negara besar. Kita tidak bisa seperti katak dalam tempurung, keberhasilan anda semua hanya selangkah. Kumpulkan memori kesenangan kalian dan bawah masuk kelapangan dan raihlah kejayaan” kata coach Indra Safrie saat itu.
Motivasi membangun mindset para pemain kembali di terapkan oleh ketua PSSI Erick Thohir sebelum final melawan Thailand. Ketua PSSI membakar semangat para pemain dengan mengawali pertanyaan kepada seluruh pemain. “Apa yang membuat kalian yakin bisa membawa pulang emas? Bagas Amiruddin menjawab, satu tujuan, Beckham putra menjawab saling menguatkan, Rizki Ridho menjawab kerja keras, dan Witan Sulaiman menjawab, kerja sama. Ketua PSSI Erick thohir pun melanjutkan, jika semua yang kalian katakan kalian resapi dan lakukan di lapangan, maka kita akan juara. Karena bukan coach atau ketua PSSI yang bakal melakukannya, tapi kalian semua yang ada di lapangan” kata ketua PSSI Erick Thohir.
Ternyata motivasi ekstrinsik inilah yang membuat semangat para timnas Garuda tidak merasakan kelelahan dan terus berlari sepanjang 120 menit pertandingan. Di final ini bukan hanya sekadar menghilangkan dahaga juara setelah 32 tahun. Namun akan tercatat sebagai final yang paling seru sepanjang sejarah, di mana gol kedua di babak pertama Ramadhan Sananta sempat diprotes oleh para staf pelatih dari Thailand karena terjadi di penghujung laga babak pertama.
Tensi pertandingan begitu tinggi. Pelatih dan pemain sempat melakukan selebrasi kemenangan. Namun ternyata pertandingan belum berakhir dan bunyi peluit pertanda pelanggaran. Pemain Thailand pun berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2 : 2 di penghujung babak kedua. Dengan kedudukan imbang, wasit terpaksa memberikan extratime. Di sinilah pengalaman seorang pelatih berbicara. Coach Indra Safrie memasukkan Beckham Putra, dan pertandingan pun berakhir dengan skor 5 : 2 untuk kemenangan Indonesia.
Salam Olah raga
