Oleh: Andi Akbar Herman

Gema suara riuh rendah di dalam aula besar perlahan menyusut, digantikan oleh keheningan yang magis. Dari atas panggung, kami duduk manis memberikan senyum manis, menatap hamparan kain toga yang berbaris rapi dihadapan kami. Para mahasiswi Program Studi Kebidanan Fakultas Sains dan Keguruan duduk dengan tegak, diselimuti rona bahagia dan selempang kelulusan yang berkilau tertimpa cahaya lampu.

Namun, atmosfer ruangan tiba-tiba berubah ketika tongkat diangkat dan menapak bumi, kemudian Senat Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara melangkah masuk menuju ruang sidang terbuka. Suasana khidmat yang pekat mulai merayap, menyelimuti setiap sudut ruangan.

Tak kalah hebat. Saat Bapak Rektor menuju mimbar menyampaikan sambutan. Suaranya yang berwibawa namun bergetar penuh ketulusan menggema melalui pengeras suara, mengetuk pintu hati siapa saja yang mendengarnya.
“Bapak, Ibu, para orang tua wisudawati yang saya hormati dan saya muliakan. Jika hari ini anak-anak kita, mahasiswi Kebidanan, duduk dengan toga yang megah, dengan selempang kelulusan yang indah, maka ketahuilah. Keindahan hari ini bukan milik kami para dosen, bukan pula sepenuhnya milik anak-anak kita. Hari ini adalah hari kemenangan milik Bapak dan Ibu sekalian. Kami, pihak universitas, hanya menemani mereka selama beberapa tahun di ruang kelas dan laboratorium. Namun Bapak dan Ibu sekalian, telah menemani mereka sepanjang hayat.”

Mendengar untaian kalimat itu, saya melihat seluruh audiens tertegun dan merasakan getaran emosi yang menjalar di dalam ruangan. Di barisan kursi orang tua, pundak-pundak yang biasanya tegap mulai berguncang pelan. Seorang ibu tampak menyeka sudut matanya dengan ujung jilbab, sementara di sebelahnya, seorang ayah, menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan air mata yang terlanjur luruh membasahi pipinya.

Nasihat Bapak Rektor kian mendalam, merasuk bagai mantra yang menyadarkan semua orang tentang hakikat perjuangan di balik selembar ijazah. Beliau melanjutkan dengan nada yang penuh haru.
“Menjadi seorang bidan adalah tugas yang sangat mulia. Tanganmu nanti akan menjadi perantara lahirnya kehidupan baru ke dunia. Kamu akan menyentuh tubuh-tubuh yang lemah, menguatkan ibu yang bertaruh nyawa melahirkan anaknya. Namun ingat, sejauh apa pun kamu melangkah, setinggi apa pun pangkat dan jabatanmu nanti, seberapa banyak pun pasien yang kamu selamatkan. kamu tidak akan pernah menjadi apa-apa tanpa keridaan orang tuamu.”

Saya menyaksikan keheningan di dalam aula pecah oleh isak tangis yang tertahan. Ruangan itu seolah menjelma menjadi ruang kontemplasi yang penuh haru. Saya menyaksikan sendiri bagaimana para wisudawati, yang tadinya tersenyum bangga, kini menundukkan kepala. Air mata mereka mulai mengalir merusak riasan wajah, mengalirkan rasa syukur, haru, dan rindu yang membuncah kepada orang tua mereka.

Kalimat penutup dari Bapak Rektor menjadi puncak dari seluruh gelombang emosi hari itu.
“Maka, setelah sidang senat ini ditutup, hampiri mereka. Bersujudlah di kaki ibumu, ciumlah tangan ayahmu. Katakan kepada mereka: ‘Ibu, Ayah. terima kasih. Ini adalah piala kemenangan kita bersama.’ Jadikan air mata yang menetes hari ini sebagai saksi bahwa kamu siap membahagiakan mereka di masa depan.”

Saat kata terakhir diucapkan, waktu rasanya berhenti berputar. Udara di dalam ruangan terasa begitu padat oleh rasa cinta dan hormat penuh takzim. Kami semua yang menyaksikan momentum luar biasa itu dari atas panggung dapat merasakan dengan jelas. Ini bukan sekadar upacara seremonial kelulusan. Ini adalah sebuah ruang sakral di mana perjuangan, doa sepertiga malam para orang tua, dan tetesan keringat ayah-ibu di masa lalu, akhirnya dibayar tuntas oleh air mata kebahagiaan yang paling murni.

Hingga sebelum berkahirnya sidang senat Universitas Muhammadiyah Kolut (UMKOTA). Air mata tak henti-hentinya mengalir, ketika seorang wisudawati kembali menyanyikan lagu bertema ungkapan terima kasih kepada ibundanya, lalu semua wisudawati berdiri memberikan bunga indah kepada ayah dan ibundanya.

Kami semua larut dalam rasa haru dan bahagia. dengan penuh harap, mereka kelak bisa menjadi orang-orang sukses membahagiakan kedua orang tuanya dimasa depan.

AH

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.