Oleh: Ruslan Ismail Mage*

Ungkapan klasik yang menarik dikedepankan dalam konteks demokrasi kekinian Indonesia adalah, “Tidak ada yang abadi di dunia selain perubahan”. Dalam bahasa Siddhartha Gautama sang Buddha, “Tidak ada yang bertahan selamanya kecuali perubahan”. Itu berarti satu-satunya hal yang pasti terjadi dalam kehidupan di dunia ini adalah perubahan.

Sesungguhnya perubahan itu tuntutan alami setiap jiwa yang tidak akan pernah bisa dihindari. Lalu bagaimana sikap orang menghadapi perubahan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu meminjam pepatah Cina yang mengatakan, “Saat angin perubahan bertiup, sebagian orang membangun tembok dan sebagian lainnya membangun kincir angin.”

Diksi “Keberlanjutan” dan “Perubahan” yang akhir-akhir ini menghiasi langit demokrasi Indonesia, terjawab sudah dari pepatah Cina di atas. Yang ingin keberlanjutan pasti membangun tembok menghalangi perubahan itu. Sementara yang menginginkan perubahan membangun kincir angin agar bisa menghembuskan angin perubahan itu ke segala penjuru.

Menyadari perubahan itu sebagai tuntutan alami setiap jiwa, koalisi rakyat dengan beberapa elemen di dalamnya, sepakat dan berkomitmen memilih Anies Rasyid Baswedan untuk membangun kincir angin perubahan itu. Kini hembusannya terus-menerus membesar melewati batas-batas daerah, kota, negara, bahkan benua. Beberapa ramalan cuaca politik menuju Pilpres 2024 memperkirakan hembusan angin perubahan itu bisa jadi terakumulasi menjadi badai yang akan menjebol tembok raksasa sekalipun.

Fenomenanya sudah mulai nampak. Hembusan angin perubahan itu semakin hari semakin membesar yang datang dari segala penjuru. Bukan hanya datang dari hampir setiap sudut wilayah nusantara, tetapi juga terus berhembus kencang dari beberapa negara tempat domisidi WNI. Data dan fakta tidak terbantahkan berikut menjelaskan fenomena itu.

Indonesia Punya Kelebihan

Adalah Ibu Erita yang sudah 25 tahun bermukim di Belanda tidak pernah berhenti mencintai ibu pertiwinya yang memiliki kecantikan dan keindahan yang tidak kalah dengan negeri lain. Menurutnya kecantikan dan keindahan ibu pertiwi harus dirawat dan dijaga. Tentu kita butuh pemimpin yang tulus, ikhlas, tangguh, dan visioner yang bisa membawa Indonesia sejajar dengan negara lain.

Dari Belanda Ibu Erita menghimbau kepada sahabat-sahabat Anies lintas negara, mari kita bersama-sama mendukung Anies memenangkan Pilpres 2024. Khusus yang tinggal di Belanda saatnya mengajak dengan hati sahabat kita, saudara, teman, alumni dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi untuk bersama Anies membangun Indonesia. Saatnya membuktikan cinta negara sebagai tumpah darah kita dengan memilih pemimpin yang tepat dan benar.

Kita ingin Indonesia maju, minimal setara dengan negara maju lainnya. Negara kita tidak ketinggalan, punya potensi, baik manusianya maupun budayanya. Saya yang sudah 25 tahun di Belanda, dan hampir semua negara Eropa sudah didatangi. Jujur negara kita mempunyai kelebihan yang beragam, baik bahasa, suku, dan budayanya. Saya cinta indonesia mari kita jaga semuanya.

Senapas dengan itu, Umi Aprah dari London Inggris mengatakan sangat tertarik dengan visi dan misi Pak Anies. Dengan pendekatan kebersamaan sudah banyak bergabung mendukung perubahan yang digagas Pak Anies. Biarlah kita diserang dengan kalimat tidak baik, sakit hati ini rasanya Pak Anies dituduh dan difitnah macam-macam, tapi kami tetap sabar, yang penting kami terus menyampaikan kenyataan. Semua karya-karya nyata hasil Pak Anies kita sampaikan dengan jujur tanpa melebihkan. Hal inilah yang membuat sampai ratusan dan terus bertambah bergabung menjadi simpatisan Pak Anies.

Saya ingin menangis melihat mereka dengan kesadaran sendiri pindah bergabung mendukung Pak Anies. Visi kesejahteraan Pak Anies sangat menarik, itu yang membuat saya bersemangat menghimbau ke teman-teman di London, “Jangan kita hanya partisipan, tetapi kita harus melangkah menjadi leader yang menginspirasi semua keluarga di Indonesia untuk memilih Pak Anies.

Umi Aprah yang sudah berumur hampir 70 tahun ini sangat bersemangat sebagai simpatisan Anies di London. Dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan sebagaimana visi Anies, ia keliling mencari orang indonesia di London yang belum punya pekerjaan, atau yang telat bayar sewa rumah, untuk diminta tinggal di rumahnya dan makan gratis sampai mendapatkan pekerjaan. Katanya ini terlepas dari dukung-mendukung dulu, yang penting kita berbuat baik kepada sesama orang Indonesia yang hidup di negeri orang. Dengan jalan itu mereka pada akhirnya tanpa arahan apalagi paksaan tertarik mendukung Pak Anies, jelasnya Umi Aprah semangat.

Jika memaknai salam perubahan Ibu Erita dari Belanda dan Umi Aprah dari London di atas, jadi teringat ungkapan bijak Gail Sheehy seorang penulis, jurnalis, dan dosen kelahiran Amerika 27 November 1936 yang mengatakan, “Jika kita tidak berubah, kita tidak tumbuh. Jika kita tidak tumbuh, kita tidak benar-benar hidup”.

*Inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi dan politik

(Visited 51 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.