Oleh: Muhammad Sadar*

Setiap peristiwa atau kejadian yang pernah dialami akan membekas di alam pikir. Apapun materinya bahkan sikap sekalipun yang berkenaan dengan kehidupan manusia sehari-hari kerap kali menjadi ingatan yang tersave dalam memori hati. Perkembangan lingkungan strategis pada semua hal akan membawa suatu perubahan yang bermakna baik secara visual maupun pemaknaan verbal atau sesuatu yang melekat pada raga.

Tubuh manusia adalah rumah bagi segala aksesori dunia. Segenap perlengkapannya mulai ujung kepala hingga bagian kaki memiliki hiasan semata-mata untuk menciptakan keindahan tampilan, tak terkecuali jenis pakaian yang dengan berbagai macam merk masyhur menyelimuti raga ini. Ia adalah fragmen hidup di alam yang selalu dibalut dengan sandang terkemuka bahkan ia diwajibkan mengenakan seragam tertentu bagi seorang pengabdi negara.

Diantara legalitas pemakaian busana yang mengatur seragam bagi abdi negara adalah Permendagri Nomor 10 Tahun 2024 Tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah. Tujuan pemakaian seragam dinas adalah sebagai identitas nasional dan menguatkan jati diri ASN, membentuk citra pelayanan kepada masyarakat secara profesional, disiplin dan berwibawa. Selain daripada itu, pengaturan keseragaman pakaian dinas bagi ASN adalah untuk menjaga kepercayaan publik dan menjadi simbol perekat persatuan bangsa di tengah masyarakat.

Namun dalam masa lebih dua dekade aturan permendagri tersebut sebelum diterbitkan, bagi penulis telah menggunakan seragam dinas berbeda dari permendagri diatas. Hal itu bermula, ketika surat Ketua Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Gowa, Departemen Pertanian Nomor: 497/SM.510/K.4/7/2003, prihal hasil saringan masuk mahasiswa baru STPP Gowa Tahun Akademik 2003/2004 mengumumkan kepada penulis bahwa telah diterima menjadi mahasiswa program pendidikan D-IV Penyuluhan Pertanian di STPP Gowa (transformasi nomenklatur statuta, kini disebut Polbangtan/ Politeknik Pembangunan Pertanian yang tersebar 7 kampus di Indonesia yang dipimpin oleh seorang Direktur).

Atas penugasan melanjutkan jenjang pendidikan tinggi oleh Pemerintah Daerah Barru berdasarkan surat izin belajar Nomor: 800/236/ D.Pertanian Tahun 2003 dan penulis teregistrasi selama empat tahun menjadi mahasiswa penyuluhan pertanian sebagai bagian dari civitas akademik STPP Gowa hingga yudisium pada medio tahun 2007, selama itu pula seragam Departemen Pertanian Republik Indonesia membalut tubuh penulis setiap hari tanpa jeda kecuali hari libur. Sejak setelah melalui program orientasi studi dan pengenalan kampus, seragam dinas tersebut mewarnai segenap aktivitas perkuliahan, seminar penelitian dan evaluasi semester oleh dosen pengampu mata kuliah hingga kegiatan organisasi mahasiswa di luar kampus bahkan audiensi bersama dengan Menteri Pertanian Republik Indonesia (Prof.Dr.Ir. Bungaran Saragih dan Dr.Ir. Anton Apriyantono), dan para pimpinan BPSDMP atau Direktorat Jenderal Teknis maupun Tenaga Ahli Menteri Pertanian masing-masing pada masanya.

Kegiatan ekstra kurikuler mahasiswa di luar kampus meliputi kunjungan studi banding atau pembelajaran pada instansi vertikal Departemen Pertanian di daerah. Kegiatan belajar out campus yang lain seperti mengunjungi situs bersejarah, praktek kerja lapang atau penelitian dan orientasi mata kuliah tertentu. Penggunaan seragam dinas Deptan bagi penulis paling fenomenal ketika dipadu dengan stelan jas almamater kampus pada forum kepemimpinan mahasiswa seperti sidang senat mahasiswa dan musyawarah badan eksekutif mahasiswa terlebih lagi ketika menghadiri agenda nasional pada Munas Himpunan Mahasiswa Penyuluhan Pertanian Indonesia (HIMAPPI) atau Temu Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Nasional (Tekmanas) di STPP Yogyakarta/Magelang dan Bogor hingga Hari Krida Pertanian di STPP Malang, termasuk didalamnya adalah event tahunan organisasi mahasiswa pertanian seluruh Indonesia, disingkat ISMPI (Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia).

Pengenaan yang lain uniform mahasiswa Departemen Pertanian digunakan pada momentum upacara bendera maupun acara seremonial kampus lainnya seperti peringatan hari-hari besar keagamaan, parade senja di ibukota provinsi atau kegiatan pramuka di luar kampus yang tergabung dalam korps satya wira taruna bumi. Pada tradisi penerimaan mahasiswa baru, seragam tersebut membentuk wibawa senioritas sebagai panitia OSPEK di dalam membimbing dan mengawal mahasiswa baru mengenali lebih awal tentang dunia kampus pertanian dalam pola pendidikan kedinasan berbasis boarding school.

Dunia kampus pertanian telah membawa suatu perubahan alam pikir selain tentunya ilmu pertanian yang diperoleh, namun secara luas nuansa keberagaman peserta didik mahasiswa terdiri atas berbagai latar belakang suku, asal daerah, dan keyakinan ideologi agama ditemukan di kampus STPP Gowa utamanya gambaran pada unsur rasa minimalis primordial yang tidak meninggalkan jejak radikal tetapi panduan harmoni dan penghormatan sesama anak bangsa dijunjung tinggi sebagai representasi kebinekaan Indonesia sesungguhnya.

Bagaimana seragam kampus pertanian sebagai simbol pemersatu aneka bahasa daerah dan penguat keragaman misalnya dari kerabat Papua kanda Manfret Go, atau senior Konn Leonard Meturan dan Antony Berhitu dari Maluku Tenggara dengan logat ketimuran. Bahasa Ambon, Ternate atau dialek khas Manado dari lichting penulis, Acan Mokoginta, Jeffry Lolowan atau Liana Wowor dan Goan Mokodompit, serta Febriyanto Pomalingo dari Gorontalo maupun yang berasal dari Kota Palu adinda Ilham Tondjabi dan tante Canci from Kendari yang mampu mengharmonisasi dialektika adat lokal atau adab budaya Bugis-Makassar. Demikian halnya dengan etnis yang lain seperti Toraja, Selayar, Bantaeng, Bulukumba, Bone, atau Luwu, Mandar, Mamasa, dan Minahasa bahkan sahabat dari Kalimantan Barat hingga NTT turut berbaur bersama dengan seragam kedinasan yang sama tanpa sekat perbedaan yang menonjol sekaligus sebagai pemelihara solidaritas, dan penyelaras komunikasi antar komunitas mahasiswa serta menjadi pilar pelangi identitas kampus pendidikan pertanian Indonesia.

Seragam dinas mahasiswa pertanian yang bawahannya berwarna hijau lumut yang selaras dengan warna hijau keabu-abuan sebagai atasannya telah membentuk landskap persatuan dalam ekosistem kampus yang mengasa intelektual para talenta pemersatu hingga mengantar kepada dunia kerja sektor pertanian. Penggunaan yang terbatas pada lembaga pendidikan kedinasan STPP/Polbangtan se- Indonesia atau hanya dikenakan oleh ASN Kementerian Pertanian di pusat hingga unit kerja vertikal di daerah, namun kini seragam tersebut kembali marak digunakan oleh kaum fungsional penyuluh pertanian lokal yang ada di daerah seiring dengan pengalihan PPL menjadi ASN pusat Kementerian Pertanian, TMT 01 Januari 2026. Uniform tersebut bahkan sudah mudah ditemukan hingga di pelosok desa sebagai pakaian seragam wajib bagi PPL setiap hari senin dan kamis yang melaksanakan tupoksi penyelenggaraan penyuluhan pertanian pada tingkat kelompok tani.

Rupanya secara fungsional organisasi, uniform yang telah digunakan penulis sejak lebih dua dasawarsa silam adalah seragam yang penuh hikmah, nilai sejarah dan sarat kenangan. Pakaian kedinasan yang mengantarkan penulis sebagai status perwakilan delegasi mahasiswa dalam segala event kampus dan membentuk pengalaman dari berbagai bidang. Pengenaan pakaian dinas kementerian memberikan chemistry antar warga kampus pertanian dan penambahan wawasan pada sistem kelembagaan maupun manajemen pendidikan kedinasan pertanian serta membawa kepada hubungan emosional serta relasi kerjasama bagi personal baik sesama alumni atau para penyelenggara pendidikan pertanian Indonesia hingga masa kini.

Pada hakikatnya pakaian kedinasan suatu lembaga yang merupakan bagian dari emblem atau ikon yang hidup selanjutnya akan melahirkan warisan pengabdian bagi pemakainya, menciptakan loyalitas dan dedikasi penggunanya beserta berbagai atribut yang melekat pada seragam tersebut. Dari aura pakaian dinas akan menderek tanggung jawab maupun semangat kerja kepada pegawai yang membalut tubuhnya.
Memang lumrah dan sangat lazim jika sebuah uniform akan membuka memori lama ketika seragam tertentu menjadi ikatan pembuluh rindu kepada almamater dan sekaligus merajut kenangan abadi pada saat telah digunakan dalam setiap kegiatan. Simbol warna sebagai pakaian kerja lingkup pertanian kembali memberi arti dan kedalaman makna bahwa keseragaman warna hijau keabu-abuan melambangkan kemandirian bidang pertanian, sedangkan warna hijau lumut menginterpretasikan kesuburan lahan pertanian. Dengan demikian, maka sebuah seragam kombinasi pada leading sektor pertanian yang mengungkit kenangan sekaligus mendrive titipan pesan yaitu mengajak setiap insan pertanian untuk berkarya dalam kemandirian yang ditopang oleh karakter kesuburan tanah-tanah pertanian di seluruh pelosok negeri.

Barru, 20 Februari 2026

*Angkatan kedua STPP Gowa Departemen Pertanian, 2003

*Delegasi Munas ISMPI, di Batangkaluku, 2004

*Ketua Presidium Munas HIMAPPI di STPP Yogyakarta/Magelang, 2005

*Delegasi Hari Krida Pertanian ke-33 di STPP Malang, 2005

*Ketua Senat Mahasiswa STPP Gowa TA.2005/2006

*Ketua Delegasi
Munas HIMAPPI dan Tekmanas di STPP Bogor, 2006

*Peraih Beasiswa Yayasan Supersemar TA.
2004/2005 dan 2005/2006

*Lulusan Terbaik III
STPP Gowa
Departemen Pertanian, 2007

(Visited 91 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.