Oleh: Sumardi
Gendhing (lagu) Jawa yang satu ini berjudul “Gugur Gunung”. Lagu berirama rancak dan gembira tersebut diciptakan oleh dalang kondang Ki Narto Sabdo. Lagu ini juga seringkali dilantunkan dalam pagelaran wayang kulit dalam sesi “Cangik-Limbuk” (simbol rakyat jelata), atau sesi jeda terjadinya “goro-goro” (hura-hara) yang menampilkan celotehan lucu para abdi dalem dari Dusun Karang Kadempel yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Tidak hanya dalam pakeliran wayang kulit, lagu tersebut juga sering ditampilkan pada karawitan dalam hajatan sunatan atau pesta pernikahan di berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesekali juga diperdengarkan dalam tanggapan di wilayah Jabodetabek dan beberapa daerah transmigran di luar Pulau Jawa.
Lirik lagu dalam bahasa Jawa dan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:
Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyane praja |marilah kawan mengerjakan tugas negara
Kene-kene-kene-kene gugur gunung tandang gawe |kemarilah bahu-membahu untuk bekerja
Sayuk-sayuk rukun bebarengan ro kancane |menyatu, rukun bersama-sama dengan kawan
Lila lan legawa kanggo mulyaning negara |bekerja dengan ikhlas untuk kejayaan negara
Siji loro telu papat maju papat-papat |satu dua tiga empat – aba-aba – maju empat-empat
Diulang-ulungake mesthi enggal rampunge |dilakukan secara estafet agar pekerjaan segera selesai
Holobis kontul baris holobis kontul baris |aba-aba
Holobis kontul baris holobis kontul baris |aba-aba
Dari lirik lagu atau gendhing tersebut mengandung makna bahwa dalam melaksanakan tugas negara hendaknya dilakukan secara bersama-sama, bahu-membahu, dan menyatu rukun bersama-sama dengan lainnya. Setiap pekerjaan dilakukan secara ikhlas untuk kejayaan negara dan dilakukan secara estafet agar pekerjaan segera selesai.
Dalam konteks praktik kekinian lagu tersebut sesungguhnya masih sangat relevan untuk dipedomani oleh segenap bangsa Indonesia. Namun kondisi saat ini dalam hal tertentu sungguh sangat memprihatinkan. Sebagai contoh adanya oknum aparatur penegak hukum yang semestinya bekerja untuk negara dengan penuh pengabdian dan penuh dengan keikhlasan namun kenyataannya malah sebaliknya “berselingkuh” dengan buronan negara atas nama “uang atau kemewahan yang berkuasa”. Bukan keikhlasan untuk kejayaan negara namun yang terjadi justru keserakahan diri untuk menghancurkan negara. Naudzubillah min dzalik.
Selain itu oknum aparatur penegak hukum yang semestinya mengadili sebuah perkara dengan menggunakan nurani seadil-adilnya ternyata menggunakan pertimbangan yang sulit diterima oleh logika dan menciderai rasa keadilan masyarakat umum. “Discount hukuman” yang luar biasa padahal masih jauh dari lebaran. Sebuah pemandangan miris. Pantas kiranya rakyat jelata, kaum pinggiran dan kaum miskin berseloroh seakan menjadi sebuah kebenaran bahwa hukum di negeri ini tajam ke bawah atau terhadap si miskin, namun tumpul ke atas atau terhadap si kaya.
Lalu pertanyaannya siapa sesungguhnya yang membangun negara ini?. Jangan-jangan rakyat jelata yang bergotong royong membangun kampung. Jangan-jangan si abang becak, petani kecil atau pedagang kecil di pasar yang dengan perjuangan keras menghidupi keluarganya. Jangan-jangan guru, dokter dan bidan di daerah terpencil yang dengan penuh dedikasi dan kesetiaan melaksanakan tugasnya. Merekalah yang sungguh-sungguh membangun negeri ini. Bukannya mereka yang memainkan ketentuan pasal dan ayat sebuah regulasi untuk kepentingan sebuah kemewahan dalam bentuk mobil pribadi, plesir pribadi, dan rumah pribadi. Wallahualam bishawab……..
Referensi: http://tamansari-mranggen.desa.id/2018/02/12/ayo-kanca-ngayahi-karyane-praja/
Matraman, 29 Juni 2021
Penulis: Praktisi Manajemen SDM Aparatur
