Perilaku seorang anak umumnya ditentukan oleh pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya. Karakter anak pertama terbentuk dari lingkungan keluarga mereka. Keluarga adalah panutan utama. Baik tidaknya lingkungan keluarga itu akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak.
Sahabat, terkadang tanpa disadari, kita sebagai orang tua terlalu protektif terhadap anak. Dalam ilmu psikologi dikenal dengan sebutan pola asuh helikopter ( Helicopter Parenting/Overprotective Parenting ). Pola asuh helikopter merujuk pada pengasuhan orang tua yang terlalu fokus pada buah hatinya.Orang tua mengawasi setiap aspek kehidupan anak mereka secara konstan sehingga diibaratkan seperti baling-baling pada helikopter. Orang tua mengambil terlalu banyak tanggung jawab hingga melakukan intervensi terhadap pengalaman anak-anaknya, terutama yang berkaitan dengan kesuksesan dan kegagalan buah hati di masa depan.
Gaya pengasuhan ini tentunya bisa berdampak negatif terhadap tumbuh kembang seorang anak. Di bawah ini adalah dampak buruk pola asuh helicopter parenting;
- Anak Jadi Penakut Dan Tidak percaya Diri
Orang tua yang selalu takut dan khawatir berlebihan, dapat membuat anak juga mengalami ketakutan yang sama. Keterlibatan orang tua dalam segala hal yang dilakukan anak bisa menjadikan anak takut untuk melakukan hal-hal tanpa pengawasan dari orang tua.
Tak hanya saat anak masih kecil, hal ini bisa terus terbawa dan membentuk kepribadian anak hingga dewasa. Anak yang dulunya dibesarkan orang tua yang selalu mengekang dan melarang akan tumbuh jadi pribadi yang berkecil hati, tidak percaya diri, takut mengambil resiko, dan tidak punya inisiatif.
2. Anak Tidak Bisa Menyelesaikan Masalahnya Sendiri
Lauren Feiden, psikologi dengan spesialisasi bidang hubungan orang tua dan anak dari Amerika Serikat (AS) menyatakan dalam laman Psych Central bahwa helicopter parenting adalah masalah yang dapat membuat anak menjadi ketergantungan dan tidak dapat menghadapi masalahnya sendiri.Hal ini karena orang tua selalu ikut campur dalam setiap tantangan yang dihadapi anaknya sehingga keputusan yang diambil selalu bergantung kepada orang tua. Akibatnya anak akan selalu mengandalkan orang tuanya dalam menyelesaikan sesuatu.
3. Anak Jadi Mudah Berbohong
Sikap orang tua yang terlalu mengekang bisa mendorong anak untuk berbohong. Pahamilah bahwa anak juga butuh ruang gerak yang cukup untuk mengembangkan diri. Jika ruang gerak itu dibatasi, anak akan mencari celah dan akhirnya sering berbohong supaya bisa lolos dari kekangan orang tua.
4. Anak Mudah Stres Cemas
Survei yang dilakukan oleh Center for Collegiate Mental Health Pennsylvania State University, seperti dikutip dari The Mercury News, menunjukkan bahwa gangguan cemas adalah masalah kesehatan jiwa yang sering dialami mahasiswa.
Dari hasil survei yang dilakukan terhadap seratus ribu mahasiswa tersebut, 55 persen mahasiswa menginginkan konseling tentang gejala kecemasan, 45 persen soal depresi, dan 43 persen soal stres.
Itulah dampak buruk dari pola asuh helicopter parenting bagi perkembangan anak. Jadi, pola asuh seperti ini sebaiknya dihindari. Melindungi dan mengawasi anak memang perlu, tetapi pastikan juga mereka punya ruang gerak untuk mengeksplorasi dan mengembangkan diri. Dengan begitu, anak akan jadi lebih siap akan banyak tantangan di usia dewasanya nanti.
Sumber : 1. Kemdikbud.ri
2. Halodoc, Jakarta
Watansoppeng, 4 Juli 2021
