Mulai Sabtu (3/7/2021), pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di sejumlah daerah. PPKM Darurat mulai berlaku hari ini hingga Selasa, 20 Juli 2021 mendatang. Kebijakan ini diumumkan Presiden Joko Widodo melalui siaran live YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (1/7/2021).
Menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia yang menginstruksikan agar melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat COVID-19 di wilayah Jawa dan Bali sesuai dengan kriteria level situasi pandemi berdasarkan asesmen dan untuk melengkapi pelaksanaan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat COVID-19 di Wilayah Jawa dan Bali serta mengoptimalkan Posko Penanganan COVID-19 di Tingkat desa dan kelurahan untuk Pengendalian Penyebaran COVID-19.
Setelah sekian kali dilakukan pembatasan – dengan istilah dan format yang berbeda – perilaku masyarakat pun secara bertahap (dipaksa) berubah. Dihubungi secara telewawancara oleh Bengkel Narasi, Agus Purnomo, S.Psi., M.Psi., Psikolog berbagi informasi penting tentang perubahan perilaku dari sudut pandang psikologi massa. Berikut rangkumannya.
Seperti apa perubahan perilaku masyarkat di masa pandemi COVID-19?
Ketika aktivitas di luar rumah dibatasi, sebagian besar kegiatan dilakukan secara daring. Akibatnya, perilaku masyarakat pun ikut berubah. Misalnya dalam perannya sebagai konsumen.
Perubahan perilaku konsumen tidak hanya sebatas pada barang yang dibeli, juga pada bagaimana konsumen mencari dan memesan barang tersebut. Perubahan ini diprediksi akan secara permanen membentuk perilaku dan kebiasaan baru, bahkan setelah pandemi berakhir.
Bisnis pun berlomba-lomba untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen lewat berbagai cara. Karena itu, sebagai pebisnis perlu mengetahui perilaku konsumen yang baru agar dapat bertahan, bersaing, dan menyesuaikan strategi bisnis ke depan.
Saat ini, konsumen semakin peduli dengan kesehatan, fokus pada harga dan kebutuhan, lebih sering memasak, layanan serba daring, menggunakan model bisnis berlangganan, memanfaatkan layanan bebas kontak, pembayaran Cashless, dan layanan yang cepat dan efisien.
Bagaimana perubahan perilaku dalam konteks yang lebih luas?
Dampak pandemi terhadap perekonomian, sosial, keamanan, serta politik akan mempengaruhi kondisi psikologis dan perubahan perilaku yang sifatnya lebih luas dalam jangka waktu yang lebih panjang. Perubahan perilaku tersebut mencakup perilaku hidup sehat, perilaku menggunakan teknologi, perilaku dalam pendidikan, perilaku menggunakan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilaku sosial keagamaan.
Sebagian orang menunjukkan rasa takut yang berlebihan. Bagaimana menurut Anda?
Ya, social panic berpengaruh pada perilaku masyarakat. Ada yang masih terlihat tenang. Ada juga yang melakukan panic buying, bahkan menunjukkan indikasi gangguan kejiwaan. Orang yang tidak tahu jadi tahu, lalu panik. Mereka jadi sangat gelisah, paranoid, rigid, dan kesejahteraan jiwanya terganggu. Alhasil, perilakunya pun terganggu. Ada banyak hal yang kemudian terganggu dan menjadi goncang.
Mungkin sebagian orang termakan hoax juga?
Itulah, kita harus bisa memilah dan memilih informasi yang benar. Tidak semua berita di sosmed itu benar dan objektif. Jadi, harus selektif terhadap informasi. Analisis dulu sebelum menyimpulkan. Cek dan ricek kebenaran data agar tidak terjerumus pada hoax campaign. Masyarakat sekarang sudah mulai cerdas dan melek informasi. Namun, dampak banjir informasi negatif pun luar biasa. Jadi, edukasi tentang antisipasi hoax information penting untuk memfilter dampak negatif, terutama dari sosial media.
Pada kenyataannya, sebagian orang masih bersikap abai?
Literasi dan sosialisasi edukasi masyarakat secara kontinu dan masif diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melindungi kesehatan diri, orang lain, dan lingkungan. Sikap abai, cuek, dan menyembunyikan informasi dikarenakan lemahnya pengetahuan dan pemahaman tentang COVID-19 itu sendiri dan dampaknya.
Sikap abai, cuek dan closing information terjadi karena lemahnya kesadaran akan peran dan tanggung jawab sosial. Sikap yang cenderung individualis atau mementingkan diri sendiri inilah yang sedang terjadi. Nilai-nilai akan tanggung jawab sosial semakin menurun.
Lemahnya kesadaran masyarakat akan standar protokol kesehatan bisa disebabkan oleh banyak hal. Menyalahkan masyarakat secara total juga tidak adil. Masyarakat mungkin sudah mulai jenuh dengan berbagai aturan pembatasan yang belum berujung kejelasannya, malah berdampak pada penurunan ketahanan finansial.
Bukankah “lost” akibat COVID-19 secara nonmateri lebih besar dari sekadar kematian?
Tentu saja, ada istri yang kehilangan suaminya. Anak-anak yang tiba-tiba menjadi yatim piatu. Orang tua kehilangan anak yang diharapkan dapat mengangkat harkat dan derajat keluarga, dan banyak lagi. Itu lebih dari sekadar angka kesakitan, angka kematian, atau biaya perawatan kesehatan.
Tidak adil, dong? Akibat ada yang abai, orang lain pun akan banyak kehilangan?
Masing-masing individu tentu tidak sama. Ada standar yang berbeda terhadap persepsi tentang kehilangan. Ada yang bisa menerima sehingga bisa ikhlas dan move on dari rasa kehilangan. Sebaliknya, ada yang tidak bisa menerima sehingga menjadi beban luka batin dan pikiran
Perasaan sedih dan rasa kehilangan pasti pasti ada. Itu alamiah dan manusiawi. Namun, berat atau ringannya rasa kehilangan itu subjektif pada masing-masing individu. Mengapa? Karena persepsi dan cara menyikapi stressor atau sumber stres pada masing-masing orang pasti berbeda, bergantung pada tingkat kematangan mental seseorang. []
