Apa yang paling diingat oleh seseorang ketika berultah? Banyak hal yang perlu disyukuri atas dirinya yang telah diberi kesempatan oleh Yang Maka Kuasa, sehingga jantungnya masih berdenyut hingga detik ini. Hal ini merupakan suatu anugerah dan rahmat terbesar dalam hidupnya.
Aku yang telah lupa akan hari jadiku, dimana aku datang pertama kali di dunia keduaku ini. Hari itu tanggal 3 juni 1969, adalah suatu hari dan moment paling berharga dalam hidupku. Harus disyukuri pada orang tuaku yang menjadikanku, menjagaku, menghidupiku, mendidikku, menyekolahkanku, hingga aku seperti saat ini, berbeda dengan orang lain, jadi manusia terunik di dunia tiada duanya.
Banyak hal yang perlu kita syukuri dalam hidup ini. Pertama pada orang tuaku yang telah merawatku dalam dunia pertamaku, melindungiku dari serangan roh-roh jahat yang ingin meronrong kehadiranku dalam dunia keduaku ini. Bagaimana tidak? Ketika muncul di dunia keduaku, aku sudah tidak bernyawa lagi, karena ulah mereka. Namun karena ketaatan dan doa yang tak terputus dari sang penciptaku yakni bapaku, pada sang Khalik, sehingga Ia mengijinkanku untuk hidup bernafas kembali. Jika tidak, mungkin aku tidak akan melihat terang dan indahnya dunia ini, dan sudah berada di dunia ketigaku.
Aku banyak berhutang budi atas jasa besar ayahku, yang telah mendapatkanku, merawatku, melindungiku melebihi dirinya, mengingat dirinya yang semata wayang, yang baru saja menemukanku pertama kali. Bagaikan ia menemukan emas permata di dasar laut, yang sulit ditemukan dan dijamah oleh orang lain. Akulah anak perdananya, hingga ia rela mati menjagaku dari roh-roh jahat, hingga ia cepat-cepat membaptisku agar terhindar dari roh-roh jahat itu, dan dilindungi oleh roh Tuhan.
Memang benar kata orang tuaku, setelah aku menerima roh kudus, ketika aku dibaptis pada tanggal 28 juli sebulan setelah kelahiranku, aku telah terlindungi dari roh kudus, dan terhindar dari roh jahat, yang ingin menelanku hidup-hidup.

Setelah aku mulai mengenal dunia luarku, aku didik keras ala portu oleh ortuaku, terutama ayahku yang pertama kali mengajariku untuk mengenal dunia literasiku lewat sebuah buku bernama “Cartilha” dibaca “Kartila”. Dari situlah aku memulai dunia literasiku. Keinginan ortuaku agar aku cepat-cepat menguasai letter by letter dan membacanya dengan leluasa layaknya orang berpendidikan.
Setelah bisa membaca dan menulis, dari buku dasar Cartilha hingga buku-buku besar lainnya, aku menghabiskan waktuku untuk membacanya, dalam bahasa portu. Walau tak mengerti artinya, yang penting bisa membacanya. Hingga saat kami mengungsi ke hutan-hutan karena pergolakan perang saudara dan invasi besar oleh tetangga Indo.
Saya dipercayakan untuk membacakan sebuah puisi yang berjudul “Sete de Dezembro”, pada saat kunjungan seorang menteri pada “Serakey” di pengngsian kami di Aldeia Ramahana, dimana kala itu aku dibimbing oleh sang guruku almarhum “Mateus de Oliveira”. Serta sebagai sekretaris pribadi bapaku yang kalal itu menjabat sebagai seorang Utusan Khusus Fretilin (Delegado Fretilin) di Aldeia Foholulik.
Kami mengungsi dari satu tempat ke tempat lainya demi menghingdari serangan dari invasi tersebut hingga ke gunung Matebian. Sekembalinya dari Matebian, aku mulai mulai masuk sekolah pada tahun 1980 di SDN I Iliomar, diajari oleh para tentara dan polisi kala itu, karena tidak ada guru asli yang mendidik kami. Setelah saya duduk di bangku kelas 6 baru dua orang guru asli dari Kupang bernama Yosep Bean Loli, dan Yustin, yang mengajariku hingga menamatkan pendidikan dasarku pada tahun 1985.
Setelah itu aku melanjutkan pendidikan SMP dan SMA ke kota Lospalos, sebagai anak gelandangan karena tiada tempat permanen bagiku untuk menetapnya demi menikmati pendidikanku. Dari satu tempat ke tempat lain, dari barak tentara, kolega sekolah, para guruku, semuanya aku laluinya, demi menghidupi diriku dalam meniti dan menimba aneka ilmu literasi. Hingga kelas 3 SMP baru aku menetap di asrama D.Bosco Lospalos hingga tamat SMA di sana. Memang benar kata pepatah, “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian; bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian”.
Duniaku terus berputar, setelah menamatkan sekolahku dari SMA di Lospalos pada tahun 1992, aku langsung terjung ke dunia kerja, dimana aku langsung turun ke lapangan pendidikan, mencoba mengajar di salah satu sekolah faforitku SMPK João Paulo II Iliomar, hingga tahun 2002. Selanjutnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi ke perguruan tinggi di salah satu institut, yakni “IKIP Kristal Dili”.
Lalu kembali ke tempat kota asalku Lospalos dan mengabdi di sani sebagai seorang pendidik, yang ingin membagi ilmu literasi yang telah ku dapat di bangku sekolah, pada generasi muda Timor Leste, agar dapat mengembangkan dunia literasi dalam beraneka ragam ilmu sesuai seleranya masing-masing. Dari sinilah aku memperoleh banyak gelar dari teman-temanku, sesuai dengan selera mereka.
Aku bersyukur pada orang tuaku, para pendidikku dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Para imam, suster yang membentuk dan mendidikku dalam dunia literasi, yang bermoral, beragama, berkahlak, berbudi-luhur, sebagai insan citra Tuhan di bumi. Menjaga, melindungi dan merawat bumi, serta membagi apa yang kita milik pada sesama kita yang memerlukannya. Selalu sehat-walafiat berkarya di dunia pendidikan, dunia literasi, dan aktivitas gereja.
Mesyukuri atas rahmat dan anugerah yang dicurahkan oleh Tuhan Tritunggal Mahakudus padaku, dalam menjalankan kehidupan ini, sesuai dengan amal ibadah kita padanya, hingga suatu saat kita kembali padaNya di dunia ketiga, bahagia bersamaNya di taman Eden surga abadi.
Terima kasih banyak atas semua anugerah dan rahmatNya yang terindah padaku hingga detik ini aku masih bernafas, membina keluargaku, mendidik anak-anakku, yang haus akan dunia literasi. Bersama KPKers-TL, kita akan menjelajahi dunia literasi, dunia keabadian, dunia yang mengabadikan nama kita, kini dan sepanjang masa.
By prof EdoSantos’25
