7. Guru sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan terasa semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Keprihatinan, kerendahan, kemalasan dan rasa takut harus dipisahkan dari seorang guru agar menjadi teladan atau dipertimbangkan untuk menjadi model.
Sebagai teladan, pribadi seorang guru apa yang dilakukannya akan mendapat sorotan peserta didik , serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru.
Sehubungan dengan itu, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan perlu didiskusikan oleh para guru antara lain:
- Sikap dasar: postur psikologis yang akan tampak dalam masalah-masalah penting seperti, keberhasilan, kegagalan, pembelajaran, kebenaran, relasi antarmanusia, agama, pekerjaan, permainan dan diri.
- Bicara da gaya bicara: penggunaan bahasa sebagai berpikir.
- Kebiasaan bekerja: gaya yang dipakai oleh seseorang dalam bekerja yang ikut mewarnai kehidupannya.
- Sikap melalui pengalaman dan kesalahan: pengertian hubungan antara luasnya pengalaman dan nilai serta tidak mungkinnya mengelak dari kesalahan.
- Pakaian: merupakan perlengkapan pribadi yang amat penting dan menampakkan ekspresi seluruh kepribadian.
- Hubungan kemanusiaan: dirujudkan dalam semua pergaulan manusia, intelektual, moral, keindahan, terutama bagaimana berperilaku.
- Proses berpikir: cara yang digunakan oleh pikiran dalam menghadapi dan memecahkan masalah.
- Perilaku neurotis: suatu pertahanan yang dipergunakan untuk melindungi diri dan bisa juga untuk menyakiti orang lain.
- Selera: pilihan yang secara jelas merefleksikan nilai-nilai yang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan.
- Keputusan: ketrampina rasional dan intuitif yang dipergunakan untuk menilai setiap situasi.
- Kesehatan: kualitas tubuh, pikiran dan semangat yang merefleksikan kekuatan, perspektif, sikap tenang, antusias dan semangat hidup.
- Gaya hidup secara umum: apa yang dipercaya oleh seseorang tentang setiap aspek kehidupan dan tindakan untuk menwujudkan kepercayaan itu.
Apa yang diterapkan di atas hanyalah ilustrasi, para guru dapat menambah aspek-aspek tingkah laku lain yang sering muncul dalam kehidupan bersama peserta didik, yang dieskpresikan oleh guru dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari.
Guru yang baik adalah, yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian ia menyadari kesalahan ketika melakukan kesalahan supaya tidak mengulanginya.
8. Guru sebagai Pribadi
Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan ini lebih berat dibandingkan profesi lainnya. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah, “guru bisa digugu dan ditiru”.
Digugu maksudnya bahwa, pesan-pesan yang disampaian guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Guru sering dijadikan sebagai panutan oleh masyarakat, untuk itu guru harus mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat sebagai tempat melaksanakan tugas dan tempat tinggal.
Sebagai pribadi yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, seperti; kegiatan olahraga, keagaam dan kepemudaan.
Selain satu hal yang perlu dipahami guru untuk mengefektifkan proses pembalajaran adalah, semua manusia (peserta didik) dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan, dan mereka semua memiliki potensial untuk memenuhi rasa ingin tahunya.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa prestasi belajar peserta didik cenderung rendah? Mengapa banyak peserta didik yang malas belajar? Mengapa banyak yang membolos? Mengapa banyak yang memilih main di mall atau berkelahi daripada belajar? Jawabannya singkat; karena para guru tidak menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif.
9. Guru sebagai Peneliti
Pembelajaran itu merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian yang melibatkan guru. Oleh karena itu, guru adalah seorang pencari atau peneliti. Dia tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, oleh karena itu dia sendiri merupakan subyek pembelajaran. Dengan kesadaran bahwa, ia tidak mengetahui sesuatu, maka ia berusaha mencarinya melalui kegiatan penelitian. Tujuannya adalah untuk mencari kebenaran.
Tentang kebenaran ini, Plato pernah mengungkapkan: “Wise, I may not call them; for that is a great name which belongs to God alone-lovers of wisdom or philosphers is their modest and be fitting title”.
Kebutuhan untuk mengetahui sesuatu merupakan kebutuhan semua manusia. Dalam diri orang tua iamenjadi lebih sistematis, lebih tearahkan, mengekspresikan dirinya secara khusus sebagaimana profesi itu, atau lebih umum dari para ilmuwan, penyair dan peramal. Bagi remaja, usaha untuk mengetahui bersifat umum dan tidak dilakukan dengan baik, sedangkan pada anak merupakan hal yang ia alami.
Sebagai peneliti, guru tidak berpura-pura mencari sesuatu, karena hal itu merupakan pekerjaannya yang lain, berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak.
10. Guru sebagai Pendorong Kreativitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dari guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut. Ia juga sebagai sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Ia ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu.
Sebagai seorang guru yang kreatif menyadari bahwa, kreativitas merupakan yang universal dan oleh karenanya semua kegiatannya ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran itu. Ia sendiri adalah seorang kreator dan motivator, yang berada di pusat proses pendidikan.
11. Guru sebagai Pembangkit Pandangan
Dunia dipandang sebagai panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Sehingga guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada peserta didiknya.
Mengembang fungsi ini, guru harus terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur sehingga setiap langkah dalam proses pendidikan yang dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
Pandangan tentang manusia dipengaruhi oleh pengetahuan tentang sejarah manusia itu. Banyak pemikir yang telah mengekspresikan gagasannya, tentang manusia, sikap dan kepercayaan manusia, sehingga beda pandangan orang tentang manusia mengakibatkan perbedaan perlakuan. Kita tahu bahwa ada satu masa ketika terdapat perbudakan dan kita tahu pula munculnya perlawanan terhadap perbudakan manusia.
Sebagai guru, kita tidak ingin peserta didik menjadi orang yang akan memperbudak orang lain, melainkan menjadi orang yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, sehingga terjadi kehidupan bermasyarakat yang sejahtera lahir batin.
12. Guru sebagai Pekerja Rutin
Guru bekerja dengan keterampilan, dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang sangat diperlukan dan sering kali memberatkan. Jika kegiatan tersebut dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi atau merusak kefektifan guru pada semua peranannya.
Sedikitnya ada 17 kegiatan rutin yang sering dikerjakan guru dalam pembelajaran di setiap tingkat yaitu:
- Bekerja tepat waktu baik di awal maupun akhir pembelajaran.
- Membuat catatan dan laporan sesuai dengan standar kinerja, ketetapan dan jadwal waktu.
- Membaca, mengevaluasi dan mengembalikan hasil kerja peserta didik.
- Mengatur kehadiran peserta didik dengan penuh tanggung jawab.
- Mengatur jadwal, kegiatan harian, mingguan, semesteran dan tahunan.
- Mengembangkan peraturan danprosedur kegiatan kelompok, termasuk diskusi.
- Menetapkan jadwal kerja peserta didik.
- Mengadakan pertemuan dengan orang tua dan peserta didik.
- Mengatur tempat duduk peserta didik.
- Mencatat kehadiran peserta didik.
- Memahami peserta didik.
- Menyipakan bahan-bahan pembelajaran, kepustakaan, media pembelajaran.
- Menghadiri pertemuan dengan guru, orang tua peserta didik dan alumni.
- Menciptakan iklim kelas yang kondusif.
- Melaksanakan latihan-latihan pembelajaran.
- Merencanakan program khusus dalam pembelajaran, misalnya karyawisata.
- Menasihati peserta didik.
Secara umum dikatakan bahwa, kegiatan rutin yang diterima oleh semua pihak merupakan syarat yang diperlukan bagi kebebasan, pemahaman dan kreativitas. Tanpa adanya kegiatan rutin, tidak terdapat kekuatan atau kesempatan untuk mencoba alternatif kegiatan sebagai hal pokok dari kebebasan, pemahaman yang mendalam, dan kreativitas.
Bersambung…..ke part-3
Fonte: Menjadi Guru Profesional & Pengalaman Penulis
by prof. EdoSantos’25
