Merasa nyaman sendiri dengan hari-hari yang silih bergantian justru ancaman Yano terus datang lewat chat.
Dexas bingung apa yang harus aku lakukan agar ia mejauh selamanya dariku. Tiap pagi Dexas berdoa, Tuhan mohon jauhkan ia dariku karena aku benar-benar telah khilaf selama mengenal Yano. Pindah-pindah tempat justru bukan solusi baik bagi Dexas untuk mencoba menghindari Yano, justru membuat Yano makin gila.
Yano terus menelfon ke nomor Dexas. Namun Dexas tidak ingin melayani panggilan Yano. Seiring berjalannya waktu, Dexas tetap tak ingin menjaling lagi hubungan komunikasi dengan Yano. Capek amat terasa ketika Dexas sadar untuk apa merindukan pria yang beristri. Jika istri saja yang mampu khianati apakah dia akan mampu membahagiakan diriku? Tanya Dexas dalam hati.
Hari berganti hari, hingga minggu berganti minggu, serasa semua usaha Dexas sukses justru tetap saja terjadi sebaliknya. Karena Yano merasa Dexas adalah wanita satu-satu bagi dirinya juga pola pikirnya maka tanpa basa-basi, Yano terus bejuang mencari solusi dengan meluluhkan hati Dexas untuk bisa bertemu Dexas face to face seperti sebelumnya.
Ketika Yano chat Dexas cuek dan tak membalas sampai membuat Yano jadi jengkel dan inbox Dexas entah kau berjuang membenci, bahkan menghindari akupun aku akan terus bejuang untuk mencari keberadaanmu Dexas, ingat itu.
Kamu tahu Dexas, aku mencintaimu anjing, aku begitu mencintaimu sampai kamu mencaci-maki diriku bahwa aku jelek, orang miskin, tak punya apa-apa, juga aku tetap mencintaimu. Bukan hanya mencintaimu Dexas, bahkan aku rela bertanggung jawab layaknya pasangan lainnya, yang mampu hidup untuk bertahan dan saling mencintai.
Dexas justru tidak menanggapi setiap perkataan Yano, adalah keseriusan melainkan lelucon dan Dexas tidak peduli apa yang sedang Yano katakan.
Dexas lalu membalas, cukuplah jangan terlalu jadi korban dari kata cinta, karena cinta itu abstrak yang tidak mampu, kita jelaskan lewat kata. Aku wanita reality bukan basa basi yang senang sekarang besok tidak, karena aku adalah sebuah kenyataan, bukan abstrak Yano.
Jikapun kamu mengatakan jika kamu mencintaiku, itu karena tekadku selalu menyadarkan kamu ke jalan yang benar. Jika tidak mungkin bukan kata-kataku mencintai kamu, yang bakalan kamu ungkapin buatku melainkan bahwa aku, adalah seorang wanita hina di hadapan kamu Yano, ujar Dexas.
Dexas berharap jika Yano akan tahu diri, untuk tidak lagi chat dengan Dexas. Tiap hari ia sibuk dengan kesibukannya tanpa membalas lagi kata-kata gombal dari Yano. Betapa berharganya waktu bagi Dexas dan tak ingin lagi ada relasi seperti yang sudah terjadi. Namun, kita tidak pernah tahu mengapa Yano sampai segila itu.
Hari terus berganti, Yano terus berjuang chat bahkan mencoba call dengan harapan Dexas mampu, bahkan bisa membalas bahkan melayani ketika ia call. Akan tetapi Dexas justru cuek tanpa membalas apa-apa. Hari-hari terus berlangsung, sikap Yano tidak pernah berubah, dan masih seperti yang dulu.
bersambung….
