Akhir pekan di awal Juli 2025.

Ada telepon masuk, satu kali. Tidak diangkat. Lalu tak lama kemudian ada pesan singkat, melalui WhatsApp. Isinya, tolong diangkat pak, penting. Karena katanya ‘penting’ bukannya menunggu ditelepon lagi, melainkan langsung menelpon balik.

Sesaat kemudian terdengar suara perempuan di seberang sana. Dengan nada sedih. Katanya, anaknya tidak diterima di SMP pilihan pertama, melainkan di SMP pilihan ketiga, jaraknya jauh dari rumah, tapi masih satu kota. Kota kecil, ibukota kabupaten. Sementara tetangganya, yang juga sahabat anaknya beberapa tahun terakhir di SD, diterima di SMP pilihan pertama.

Mereka berdua daftar dengan jalur zonasi, dan menempatkan SMP dekat rumah jadi pilihan pertama. Jaraknya sekitar 300 meter, dibandingkan dengan SMP pilihan ketiga, 3 kilometer.

“Trus?”

“Kalau masalah prestasi, nilai mereka berdua seimbang saja. Sama-sama di 5 besar, baik waktu kenaikan kelas maupun saat lulus.”

“Lalu?”

“Bisakah minta tolong sampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar bisa diterima di SMP dekat rumah. Soalnya Senin lusa daftar ulang.” Ini intinya.

Mendesah, saya coba beri jawaban: “Saya usahakan, tapi tidak janji.”

Siang harinya, dia kembali kirim pesan: “Bagaimana pak? Adakah hasil?” Karena memang belum menghubungi pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, ya pertanyaan itu dibalas dengan emoticon, tersenyum.

Tidak puas, lalu dibalas dengan kata-kata: Tolongah pak, semoga ada jalan ya. Anak saya tidak mau sekolah kalau berpisah dengan temannya, saya juga susah mengantar jemput, bla-bla-bla.

Saya bilang, akan usahakan menghubungi Kepala Bidang yang menangani. Dia lalu mendesak agar saya menghubungi Kepala Dinas langsung. “Insya Allah, diusahakan,” jawabku singkat.

Sebenarnya apa yang terjadi? Untuk menghubungi siapapun di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, langsung saat menerima keluhan ini, sangat mudah dilakukan. Semua nomor mereka tersimpan di HP. Dan begitu saya telepon, pasti diangkat. Namun itu tidak terjadi. Saya tidak pernah menghubungi mereka.

Saya menyadari betul perasaan orang tua dan anak itu. Bahwa ini pahit untuk diterima oleh anak dan orang tuanya, itu benar. Bahwa sakit hati karena tidak diterima di sekolah dekat rumah, juga manusiawi.

Tapi, alasannya sederhana. Satu hal perlu disasari, bahwa alam berproses sebagaimana adanya, bukan atas kemauan kita. Keadaan tidak harus selalu mengikuti apa yang kita inginkan. Kadang, atau sering, kita harus mengikuti ke mana alam mmebawa kita.

Anak-anak, di proses pencarian jati diri, tidak harus selalu diikuti kemauannya. Sebaliknya, ajari mereka bahwa tidak semua apa yang dia mau harus dipenuhi. Untuk sukses tidak harus berpatokan pada satu cara. Dan jangan lupa, bahwa ada kekuatan gaib yang selalu memberikan petunjuk kepada kita, asal yakin dan percaya, serta selalu berdoa pada-Nya.

Banyak jalan menuju Roma. Dan cara untuk mencapai kesuksesan tidak harus melewati jalan penuh bunga. Terkadang harus melewati jalan berliku, penuh batu kerikil yang runcing, mendaki, onak dan duri di kiri kanan, sepi dan diganggu hantu, hehe.

Karena, kita sedang mempersiapkan generasi emas, yang tahan banting, dan berdaya saing. Kita memberikan pendidikan karakter, membimbing mereka untuk menangani masalah dengan belajar menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan.

Kita tidak sedang menciptakan generasi stroberi, yang cengeng, sedikit-sedikit mengadu pada orang tua, minta perlindungan, minta pembelaan, mengharap pembenaran meskipun (dia sadar) yang dia lakukan itu keliru. Ingat kriminalisasi Supriyani di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, anak kelas 2 SD bisa menciptakan sebuah fitnah untuk gurunya.

C’mon. Jika kita tak mampu mengubah dunia, ubahlah pandangan kita terhadap dunia.

Epilog. Enak ya bicara begitu karena tidak berada di posisinya. Coba tempatkan diri Anda di posisi saya, pasti akan melakukan hal yang sama. Karena apapun dilakukan, yang terbaik, untuk buah hati tercinta.

Paser, 7 Juli 2025

Catatan: Penulis adalah seorang yang penakut terhadap hantu.

(Visited 56 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.