Oleh: Muhammad Sadar*
Rotasi waktu terus bergulir dari musim tanam ke musim panen begitupun juga sebaliknya musim panen berlalu kembali lagi menghadapi musim tanam berikutnya. Pergiliran proses tersebut diiringi oleh perubahan iklim yang sudah menjadi suatu keniscayaan dan bahkan dialami saat ini yang menghendaki juga penyesuaian berbagai sikap dalam menghadapi dinamikanya. Tantangan alam memerlukan kearifan utamanya euforia untuk penumbuhan komoditas pangan pokok bangsa Indonesia yaitu beras yang dihasilkan dari proses budidaya tanaman padi.
Seakan tiada jedanya, silih berganti dalam bercocok tanam hingga menuai padi dan memang harusnya demikian karena warga dunia butuh pangan untuk hidup. Semua faktor pembatas yang menghalangi pertumbuhan padi akan dibereskan oleh kebijakan solusi yang dilakukan oleh pemerintah. Pernyataan Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman, kerap kali menyentil bahwa ASN Pertanian Indonesia diciptakan untuk menyelesaikan setiap masalah petani, penguasaan keilmuan pertanian dikatakan kadaluarsa jika tidak mampu menyelesaikan tantangan dunia pertanian di lapangan.
Zaman telah berubah baik dari keadaan iklim dan geopolitik dunia, transformasi teknologi, prilaku konsumen atau population lifestyle hingga transisi hilirisasi berbagai produk dan jasa pertanian. Demikian halnya dengan pemerintahan di Indonesia yang memiliki visi negara untuk meraih swasembada pangan nasional khususnya komoditi beras sebagai bahan makanan yang sangat esensial dalam struktur fundamental ketahanan bangsa.
Report swasembada telah dilakukan riset maupun penilaian oleh berbagai kalangan termasuk lembaga pangan dunia dan pemerintahan luar negeri. Indikator evaluasinya berdasarkan surplus pasokan domestik hingga kemampuan serapan produksi oleh Bulog sebagai pengumpul logistik negara. Metode sergap yang dilakukan Bulog hingga (laporan data akhir Juni 2025 telah mencapai 4,2 juta ton setara beras). Klimaks ini merupakan capaian terbesar sepanjang sejarah republik ini.
Ditengah melimpahnya produksi beras dalam negeri bahkan mengekspor ke negara tetangga hingga memberi bantuan beras kepada Palestina, namun komoditi beras tak lepas dari berbagai isu tidak sehat diantaranya pemberitaan media terkait pengoplosan beras premium dari beragam brand yang defisit kualitas sampai bersoal ke ranah hukum. Permasalahan lain dari sisi harga beras di pasar-pasar lokal yang dinilai melebihi kewajaran. Oleh karena itu, reaksi para pemerhati agar Bulog sebagai pemegang kunci cadangan beras pemerintah untuk segera melepaskan stoknya dan menjalankan strategi stabilisasi pasokan dan harga pangan yang selama ini menjadi jalur pengaman pangan dari negara.

Sensitifitas isu beras sangat seksi dipermainkan dari segala arah. Walaupun pemerintah belum secara resmi mendeklarasikan swasembada pangan utamanya beras tetapi peta jalan produksi oleh decision maker menuju swasembada yang sejak awal ditetapkan dalam asta cita pemerintahan. Pada akhir tahun 2024 hingga kuartal pertama 2025 yang beriringan dengan pelaksanaan musim tanam dan musim panen padi telah dilakukan berbagai upaya dan kegiatan yang mendukung peningkatan produksi padi.
Kebijakan pangan pemerintah sangat tepat ditengah melemahnya pasokan produksi yang melanda dunia saat ini. Tata kelola pangan berikutnya adalah pemenuhan bahan pangan yang tersedia sekarang untuk kebutuhan lokal dan domestik hingga ekspor. Manajemen swasembada agar memastikan kinerjanya diatur berdasarkan skala prioritas. Program bantuan pangan kepada kelompok masyarakat penerima manfaat sebagai salah satu tujuan produksi pangan negara.
Teknis pekerjaan swasembada pangan ini, mulai dari penyiapan instrumen undang-undang, pembahasan anggaran dan sumber daya pendukung meliputi ketersediaan lahan budidaya, dan tenaga kerja, sarana produksi, kebijakan harga melalui Inpres HPP, infrastruktur pengairan maupun alsintan serta kerjasama lintas sektoral yang terjalin dalam satuan tugas swasembada pangan reguler. Penguatan semua lini berharap selalu diwujudkan pada setiap menghadapi musim tanam dan panen.

Prestasi maupun sasaran swasembada pangan tidaklah berlebihan dan segenap ikhtiar yang dilakukan menjadi pertaruhan kredibilitas para penyelenggaranya. Narasi swasembada pangan Indonesia kian di depan mata atau pangan Indonesia on the right track, walau baru satu musim tanam yang dilalui. Fakta produksi yang telah menumpuk- stuffle di gudang Bulog maupun para mitranya menjadi saksi sejarah bahwa swasembada pangan telah berada dalam genggaman. Sementara persediaan bahan pangan disetiap pelosok negeri masih tersisa dari hasil panen lalu menjelang panen lagi pada musim kedua dan terus berkelanjutan ke musim ketiga tahun 2025.
Barru, 20 Juli 2025
*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru.
