Oleh: Muhammad Sadar*

Dalam kamus pertanian telah tersebar berbagai definisi tentang kegiatan-kegiatan teknis yang mengarah kepada pengembangan suatu program. Istilah ataupun singkatan merupakan penyederhanaan kalimat untuk penjabaran pekerjaan di lapangan. Penyebutannya terkadang merujuk kepada nama obyek tempat dan menjadi suatu ikon daerah atau sebutan lain agar menularkan efek energi pembangkit maupun sebagai magnetik daya penarik.

Dunia pertanian masa kini khususnya di subsektor tanaman pangan dengan lokus di bidang produksi padi sedang dalam perhatian yang sangat serius oleh pemerintah. Tanaman padi merupakan komoditas dominan dan musiman yang diusahakan petani satu atau dua kali bahkan tiga kali penanaman dalam range waktu setahun pada bentangan luas baku sawah yang tersedia di desa atau nagari sampai di kota sekalipun. Budidayanya juga diterapkan pada lahan sawah beririgasi, lahan rawa atau non rawa, lahan kering dan sawah tadah hujan dengan jaminan air melalui sistem pompanisasi yang berasal dari air permukaan, atau cadangan air di dalam tanah hingga aliran air pegunungan.

Keunikan masa vegetatif hingga fase generatif padi adalah didalam pertumbuhannya memerlukan air yang banyak karena penanamannya pada hamparan sawah yang luas disertai kepadatan populasinya. Namun di dalam siklus hidup tertentu, tanaman padi tak perlu membutuhkan air berlimpah, sehingga filosofinya disebut padi bukan tanaman air. Tetapi perlakuan petani dalam setiap musim tanam sering kali menggenangi tanamannya sampai titik jenuh sehingga tanaman padi terkesan boros dalam penggunaan air.

Neraca keseimbangan antara defisit dan kejenuhan air bagi tanaman sangat penting diperhitungkan dalam teknologi pengairan berselang atau biasa disebut periode basah kering, untuk terus digalakkan di tingkat lapang agar petani memahami proporsionalitas kebutuhan air tanaman. Selain itu penggunaan varietas yang toleran kekeringan dan beradaptasi baik pada lingkungan yang kekurangan air pada musim kemarau tak hentinya diterapkan.

Beberapa varietas padi unggul yang adaptif terhadap kondisi kemarau atau identik dengan kurangnya persediaan air diantaranya adalah mekongga. Varietas mekongga berasal dari blasteran A2790/2*IR64 dengan nomor seleksi S4663-5D- KD-5-3-3 pada umur pertumbuhan antara 116-125 hari. Mekongga tergolong jenis padi cere dan berumur dalam yang mampu memberikan potensi hasil panen gabah kering giling mencapai 8,4 ton per hektare dengan rata-rata produktivitas 6,0 ton per hektare. Tingkat ketahanan hama yaitu agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 2 dan 3, sedangkan ketahanan penyakit yakni agak terhadap hawar daun bakteri strain IV.

Petunjuk dan anjuran budidaya baik ditanam pada lahan sawah dataran rendah hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Alasan utama dilepas karena mutu dan rasa nasi pulen setara Ciherang walaupun indeks glikemiknya berklasifikasi tinggi pada angka 88 yang tak cocok dengan pola diet karbohidrat yang bersumber dari nasi. Legalitas varietas mekongga dilepas melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 952/Kpts/SR.1207/ 2008, Tangga 17 Juli 2008 (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2022).

Luas penanaman mekongga di Kabupaten Barru selama dua musim tanam gadu terakhir yaitu MT. 2024 seluas 1.696 hektare dan MT. 2025 mencapai 2.350 hektare. Peningkatan luas tanam varietas tersebut didorong oleh pengadaan swadaya petani dan bantuan benih pemerintah untuk mendukung swasembada pangan nasional. Varietas mekongga tergolong kedalam kategori tiga besar jenis padi inbrida terluas yang ditanam petani setelah Ciliwung dan Inpari 32 di daerah ini.

Mekongga telah menjadi varietas andalan petani pada musim tanam kedua atau gadu yang kesesuaiannya sangat baik di lahan sawah tadah hujan maupun di sawah beririgasi. Mekongga seakan telah melegenda sebagai sebuah varietas fanatis diminati para petani di daerah ini. Selain produktivitas yang tergolong cukup tinggi, agroklimatnya pun sangat cocok. Varietas tersebut sudah bisa dinilai spesifik lokasi yang beradaptasi baik dengan lingkungannya. Padahal mekongga merupakan jenis padi inbrida yang indukan gennya bersumber dan dikembangkan oleh para pemulia di Balai Penelitian Padi Sukamandi dan BPTP Provinsi Sulawesi Tenggara.

Untuk melanggengkan jenis varietas mekongga atau varietas padi apapun dan menumbuhkembangkan lebih luas lagi penggunaannya, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan kegiatan penangkaran di tingkat lapang. Jika menggerakkan penangkaran benih padi unggul, baik berskala luas untuk tujuan komersil maupun penangkaran berskala kecil antara 0,5-1,0 hektare bertujuan untuk pemenuhan mandiri benih secara swadaya oleh petani. Kegiatan penangkaran sesungguhnya adalah untuk memperbanyak atau mempertahankan sumber daya genetik padi unggul inbrida sebagai bagian dari melestarikan bahan tanam berupa benih padi bersertifikasi untuk kebutuhan sarana produksi bagi petani.

Pola penangkaran yang berbasis kemitraan dengan petani, selain untuk menjaga kesinambungan atas tersedianya benih padi unggul pada wilayah setempat, juga meningkatkan pengetahuan petani didalam menerapkan SOP teknis memproduksi calon benih berkualitas. Hanya saja tantangan penyelenggaraan penangkaran dibatasi dalam hal penguasaan lahan. Petani yang berstatus sebagai penggarap tak memiliki kewenangan penuh dalam manajemen lahan hingga panen.

Kedaulatan atas lahan tangkaran masih menjadi masalah klasik bagi para petani didalam mengambil keputusan waktu panen yang tepat. Penentuan waktu panen pada varietas tertentu masih diliputi intervensi oleh pemilik lahan bahkan petaninya sendiri terkadang menghendaki momentum panen yang kurang tepat sehingga menghasilkan calon benih yang tidak bermutu. Petani keburu panen lebih awal untuk mengejar asumsi harga gabah tinggi oleh tawaran pedagang namun pengurangan angka timbang rafaksi yang tidak diperhitungkan petani.

Tantangan lain penangkaran benih padi adalah dari sisi harga yang ditawarkan para trader gabah jauh diatas melampaui dasar harga yang ditetapkan pemerintah, nilainya sangat kompetitif walaupun dengan rafaksi tinggi antara 5 -10 kilogram per karung. Perang tarif harga gabah kering panen di lapangan mampu mempengaruhi keputusan petani untuk memilih serapan gabah oleh pedagang umum. Gejolak tarif inilah yang menumbangkan para mitra penangkar gagal memperoleh calon benih padi yang telah mereka bina selama musim tanam hingga panen.

Terlepas dari polemik perang tarif gabah antar pedagang, namun report mekongga pada musim panen kedua tahun 2025 tetap menampakkan produktivitas yang cukup tinggi. Capaian rata-rata dari berbagai survei kerangka sampel area maupun ubinan petak langsung antara 6,3 hingga 7,8 ton per hektare. Perolehan produktivitas tersebut merupakan angka yang relatif stabil karena lingkungan tumbuh mekongga memberikan dukungan yang cukup adaptif utamanya pada ekologi sawah tadah hujan berpengairan intermitten.

Varietas mekongga yang berasal dari daratan Sulawesi Tenggara dan juga merupakan salah satu nama suku bangsa yang mendiami provinsi tersebut, kini mekongga sedang bertengger sebagai top varietas di kalangan suku Bugis pada tanah sawah Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Barru. Rupanya kedua suku bangsa di wanua Sulawesi ini, bisa jadi memiliki chemisty sejarah atau asimilasi budaya yang berkaitan dalam peradaban dunia serealia.

Petani di wilayah ini sangat menaruh respek jika mekongga selalu menjadi varietas recomended oleh pembuat kebijakan di bidang pertanian. Capaian produksi mekongga sangat menentukan peningkatan pendapatan petani maupun penambahan nilai tukar petani secara kolektif. Kontribusi nyata varietas mekongga sebagai salah satu jenis padi non hibrida bisa diunggulkan untuk mengisi kantong- kantong logistik negara dalam meraih asta cita swasembada pangan nasional.

Barru, 01 Agustus 2025

*Pemerhati Varietas Padi Nasional

(Visited 99 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.