Kalau ada satu saja tulisan di muka bumi ini yang ngawur, maka inilah contohnya. Lagi bad mood? Jangan dibaca. Nanti semakin bete. Bisa-bisa benda di sekitar melayang.
Ceritanya penulis ingin menikmati suasana malam di salah satu café di Yogyakarta, lalu langkah kaki membawa ke Warung Iga Cak Erwan, di area Stasiun Tugu Yogyakarta. Warung, yang suasananya lebih tepat disebut café, menyajikan atmosfer taman eksotis berhiaskan lampu temaram.
Pengunjung juga dimanjakan dengan live music yang mengalun hingga jam 10 malam. Lagu-lagunya menggugah selera makan, dan menghadirkan rasa nyaman di hati. Terdengar indah senandung khas café yang disukai banyak kalangan, mulai dari Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y (milenial), Generasi Z, hingga Generasi Alpha. Tak ketinggalan Generasi Stroberi dan Generasi Sandwich. Dan lain-lain.
…
Hari ini hari ini
Aku mencoba berdiri dan melangkah lagi
Bila esok sinar mentari pagi kan bersinar lagi
Aku kan menuju cita-cita yang pasti
…
Lalu di antara gempitanya malam, di balik tembang-tembang yang mengalun indah dan mampu memukau setiap telinga yang mendengarnya, terdengar nyaring suara lain yang iramanya khas tapi kontras dengan musik café itu. Setiap 3 sampai 5 menit, suara itu muncul, terdengar nyaring. Itulah suara sirine dari stasiun yang disusul peluit kereta, bunyi mesin, dan perpaduan besi di rel ketera api.
Kedua suara saling bersahutan. Saling menimpali. Saling tumpang tindih. Tapi tidak ada yang saling curiga-mencurigai, saling menuduh, apalagi memfitnah. Justru, mereka ibarat dua kutub berlawanan yang saling melengkapi. Saat salah satunya tak terdengar, maka telinga merindukan kehadirannya untuk kembali mengisi ruang dengar. Seperti salah satu lirik lagu Utha Likumahua yang dinyanyikan malam itu: kau di sana, aku di sini. Satu rasa dalam hati. Namun hanya kau yang kusayangi …
Lalu, muncullah satu lagi suara yang tak kalah garang. Yaitu suara kendaraan roda dua yang konvoi dalam jumlah besar. Berkelompok-kelompok. Pengendaara motor berteriak-teriak sambil membawa bendera bergaris 3 horizontal: biru muda, putih, biru muda. Itu adalah bendera kebesaran PSIM, atau Perserikatan Sepakbola Indonesia Mataram, tim kebanggaan masyarakat Yogyakarta.
Yang konvoi itu, dikenal luas oleh masyarakat Yogyakarta dengan sebutan Brajamusti, singkatan dari Brayat Jogja Mataram Utama Sejati, yang merupakan kelompok suporter PSIM terbesar. Ada pula kelompok lain yang menyebut dirinya The Maident. Dua kelompok ini sejatinya berbeda, tapi satu tujuan, yakni mendukung PSIM.
Rupanya, malam itu Brajamusti dan The Maident bersatu meluapkan kegembiraan di jalan karena baru saja tim kebanggaannya menang tipis di kandang Persebaya dengan skor akhir 0-1. Gol semata wayang PSIM atau Laskar Mataram dicetak oleh Norberto Ezequiel Vidal atau E. Vidal di masa injury time, menit 90+2. Istimewanya, hasil ini di kandang tim yang selama ini termasuk salah satu yang paling sangar di Indonesia, yaitu Persebaya, pemilik 7 trofi level bergengsi nasional, dibanding PSIM yang baru 2 trofi.
Suara live music, sirine stasiun kereta, dan fans PSIM, bersatu, seirama dan bekerja sama menghadirkan nuansa berbeda bagi pengunjung café (eh warung) Cak Erwan. Sendok dan garpu yang beradu dengan piring tak lagi terdengar. Suara bibir menyeruput kopi panas juga samar di telinga.
Terima kasih Cak Erwan. Terima kasih Stasiun Tugu. Terima kasih PSIM. Kalian telah memberi warna untuk sebuah hati yang galau, hingga tanpa terasa jari-jari menari di atas keyboard. Lalu lahirlah tulisan ini. Tulisan receh. Tulisan tanpa makna. Yang haus validasi.
Di warung Cak Erwan, malam ditutup dengan menyanyi bersama kru:
Country road, Take me home, To the place, I belong, …
sambil tangan-tangan mereka lincah membereskan meja dan kursi serta peralatan dapur untuk kembali digunakan keesokan harinya.
Penulis pun mengucapkan selamat tinggal Yogyakarta. Entah kapan kembali lagi. Mungkin esok, lusa, atau di lain hari.
Diary AKS
Yogyakarta, 8-8-2025
