Oleh : Tammasse Balla

Malam sudah larut, jam dinding menunjukkan waktu pk. 00.58 dinihari. Desah angin menyusup lembut ke sela-sela dedaunan di depan rumah. Seberkas surat via Whatsapp jatuh di layar ponsel yang kugenggam, lalu kusorotkan pada sepotong pesan yang dikirimkan istriku tercinta dari Pulau Dewata: sebuah surat resmi dari Universitas Hasanuddin, mengundangnya menjadi bakal calon Rektor. Dalam denting waktu, aku tertegun bukan karena isinya, tetapi karena waktu yang seolah-olah hendak mempermainkan niat manusia. Di tengah arus hidup yang penuh perhitungan, kadangkala datang kejutan yang menggoda untuk dicoba, meski hanya “iseng”.

Kujawab dengan lirih penuh keyakinan, “Daftar saja, Say. Tak ada ruginya. Minimal namamu terukir dalam sejarah kampus, pernah mencalonkan diri memimpin lembaga akademik terbesar di Indonesia Timur itu, bahkan saat ini masuk peringkat 5 Besar di Indonesia. Siapa tahu, bisikku dalam hati, tangan-tangan tak kasat mata tengah menulis takdir baru di balik awan yang belum terbelah. Bukankah kehidupan memang kumpulan dari iseng-iseng yang kadang berbuah manis?

Allah menyukai hamba-Nya yang berani mencoba. Bagi yang diam, tak ada gelombang. Namun bagi yang melangkah, sekalipun pelan dan penuh ragu, ada angin yang akan datang untuk mendorong layar bahteranya. Dalam keyakinan itulah, kuingat pesan para bijak: jangan terlalu cepat menolak panggilan takdir, karena seringkali yang datang diam-diam justru adalah undangan langit.

Banyak orang ragu mendaftar bukan karena tak layak, tapi karena takut kalah. Padahal kalah pun kadang adalah kemenangan dalam bentuk lain. Bukankah pohon-pohon besar tumbuh dari benih yang dulu hampir terinjak? Bukankah embun yang jatuh di pagi hari bukan karena hendak mengalah pada matahari, tetapi justru karena ingin memberi kesegaran sebelum fajar purna?

Aku tahu, istriku bukan perempuan biasa. Ia tumbuh dari akar perjuangan, dibesarkan oleh ilmu, dan mengabdi dalam diam. Ia bukan pencari panggung, tapi andai panggung itu datang memanggil, tidak salah jika ia melangkah maju, meski hanya sekadar mencoba langkah-langkahnya sendiri. Karena setiap langkah yang diniatkan Allah Swt., tak akan pernah sia-sia.

Andaikata takdir belum menuliskan nama itu di kursi tertinggi universitas, maka tak apa. Dalam keisengan itu, ada harga diri yang tumbuh. Dalam niat itu ada jalan yang terbuka. Dalam usaha itu ada hikmah yang disimpan. Hadiah terbesar bukanlah jabatan itu sendiri, melainkan keberanian untuk melamar takdir yang lebih tinggi dari sekadar gelar.

Ibu anak-anakku, melangkahlah dengan ringan hati. Jangan bawa beban menang atau kalah. Bawalah niat baikmu, senyum lembutmu, dan nama baikmu yang telah lama harum di lorong-lorong pengabdian rumah sakit. Karena bisa jadi, surat ini bukan hanya undangan dari kampusmu—tapi sapaan halus dari langit, yang berkata: “Aku percaya kamu mampu, meski kamu sendiri belum sempat menyadarinya.” [HTB]

Makassar, 8 Agustus 2025
Pk. 01.25 dinihari

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.