Oleh: Ghinda Aprilia
Sosok wanita tangguh yang pernah aku kenal itu Pipiet Senja atau nama aslinya Etty Hadiwati Arief, dikenal sebagai penulis, novelis, cerpenis. Lahir di Sumedang 16 Mei 1957 anak dari pasangan SM Arief seorang pejuang 45 dan ibu Siti Hadijah. Nama Pipiet Senja terinspirasi dari gerombolan burung Pipit yang sering beliau saksikan di waktu Senja.
Ibu dari Haikal Siregar dan Adzimattinur Siregar seorang ibu pekerja keras, humble, yang seumur hidupnya harus transfusi darah karena kelainan darah bawaan atau Thalassemia.
“Manini,” begitu aku biasa memanggilnya, entah tahun berapa, tetapi itu tahun terakhir beliau ke Hong Kong, pernah ketemu di depan Bank Mandiri. Aku perhatikan dia celingukan sambil melihat seseorang.
“Manini sedang apa di sini?” Tanyaku
“Ini Neng, Manini sedang menunggu yang jemput, kita ada acara.” Jawabnya dengan senyum sumeringah ciri khasnya.
Aku aktif komunikasi dengan Manini hanya lewat status-status di Facebook yang membuat pembacanya terkadang menangis dan ketawa. Ya masih aku ingat, dia menceritakan kisahnya saat koma beberapa hari, sehingga diduga meninggal. Ketika dia terbangun, para suster lari terbirit-birit, ketakutan dikira hantu.
Suatu hari ada perlombaan menulis, aku iseng ikut, tulisan itu sudah aku daftarkan di tempat lain, aku tarik kembali, aku perbaiki lagi tulisannya, terkadang menangis terbawa arus cerita sendiri. Aku tidak tahu yang salah satu jurinya Manini. Ketika dinyatakan menang aku sempat menolak.
“Maaf Manini, bukan aku tidak menghargai, tetapi batalkan saja, sepertinya aku belum layak,” aku merakjuk.
“Tidak bisa, kamu layak mendapatkan itu, kisah nyata perjuanganmu sendiri, ditulis sendiri dan seribu satu orang macam kamu, jadi pembantu bisa mendirikan sekolah di kampung halaman,” begitu beliau mejawab sambil bersungut-sungut.
Hubunganku semakin dekat ketika pihak Mandiri Amal Insani menggandeng Manini sebagai narasumber, yang melibatkan putriku dan MI Al Bayan Mandiri di Jawa Tengah. Tentu sebagai ibunya aku bangga putriku bisa satu panggung dengan beliau.
Menurut putriku Manini itu orangnya unik, nenek gaul, dan ketika ngobrol selalu memotivasi. Harus menjadi anak yang kuat, bisa membanggakan orang tua, setiap topik pembicaraan jadi inspirasi, intinya selalu banyak bersyukur dalam keadaan apapun.
Beliau orang yang tak pernah kenal lelah memberi semangat bagi kami para pemula, dan itulah yang selalu dilakukannya menyebar virus menulis dimanapun berada. Begitu juga keberadaannya di Hong Kong. Biasanya pihak Dompet Dhuafa sering mendatangkan beliau sebagai narasumber para penulis di Hong Kong. Tidak heran jika di Hong Kong banyak PMI yang menjadi penulis dan berhasil membuat buku.
Selain penulis Manini juga seorang aktivis, ketika ada demo di Monas, pasti beliau hadir. Pernah suatu ketika waktunya demo dia sakit, akhirnya dia ngumpet-ngumpet takut ketahuan keluarganya pergi ke tempat demo. Yang melekat tentu saat beliau berorasi dengan membacakan, “Surat Berdarah untuk Presiden.”
Kisah beliau yang pernah aku baca di sebuah tabloid, dijual di toko-toko Indonesia di Hong Kong, itu salah satu hiburanku, waktu itu belum terlalu booming medsos. Masih aku ingat kehidupan rumah tangganya yang banyak menguras air mata. Seorang suami yang temper heart, kurang bertanggung jawab dan selingkuh. Beliau sering menunggu hasil honornya supaya dapurnya tetap ngebul, atau untuk biaya berobat ke Rumah Sakit.
Untuk sekaliber penulis seperti Manini, jika terkumpul hartanya mungkin sudah jadi orang kaya, tetapi besarnya biaya Rumah Sakit dan memerlukan biaya yang besar, pernah melihat postingan teman yang membantu menjual Rukonya untuk berobat.
Setelah Manini bergabung di Bengkel Narasi, aku banyak belajar dari beliau, terkadang malu pada diriku sendiri. Manini dengan segala keterbatasannya, hidupnya tergantung dari donor darah orang lain. Tetapi kekurangan itu beliau jadikan sebuah kelebihan, terbukti bisa menghasilkan seratus lebih buku, tidak heran jika beliau dapat julukan teroris menulis.
Karena kondisi kesehatannya, Manini hanya lulusan SMP, tetapi sejak kecil sudah hoby membaca berbagai buku. Dan menulis catatan harian sebagai bentuk ekspresi dan terapi mentalnya.
“Ghinda, Manini mau mengangkat kisahmu ke dalam layar lebar,” begitu pesan yang aku baca di chat.
“Muhun Manini, boleh jika itu membawa manfaat positif untuk banyak orang,” aku balas chatnya.
Lalu dia membuat group “Biography dan Film,” dia sendiri yang akan menulis buku biographyku. Kita hanya bisa berencana, tetapi Allah punya rencana yang lebih indah.
Wacana dan catatan indah bersamamu, adalah cambuk bagiku untuk bisa bangkit kembali. Tiga tahun aku tertidur, tanpa interaksi dengan teman-teman, kegiatan menulis pun aku abaikan.
Pagi ini 30 September 2025, pukul 04.00 entah kenapa tiba-tiba ingin chat di group tapi aku urungkan, aku memilih sahur lebih dulu, lanjut shalat subuh.
Sehabis subuh iseng membuka Facebook, vada lewat dinding pak ustadz Herman, sepertinya aku tidak percaya ada pemberitahuan Manini meninggal. Aku sempat copas dan share tapi hati seolah-olah tidak percaya, akhirnya aku chat pak ustadz. Entahlah ketika dapat kabar meninggal dari orang yang aku kenal, sepertinya sulit untuk percaya.
Innaalillaahi wainna ilaihi rooji’uun. Seminggu berlalu kepergianmu, adalah duka besar bagi kami, anak-anak didikmu, keluarga, pegiat literasi, komunitas penulis di pelosok negeri. Hanya untaian doa yang kami panjatkan, kini sakit itu tak dirasakan lagi, syurga menantimu, Al fatihah Manini.
