Ketika jarum waktu berputar perlahan, dan angka di kalender mendekati hari kelahiran….

Di usia ini, aku belajar bahwa waktu bukan milik, melainkan pinjaman….

Aku termenung menerawang langit beserta bintang-bintangnya, mendengar gema sunyi yang makin sering memanggil dari kejauhan…

Bukan lagi denting riang gembira dan tawa, tapi bunyi halus yang samar di dada,
seperti lonceng kecil dari langit, menyentuh kesadaran bahwa ulang tahun bukan pesta, melainkan pengingat bahwa langkah semakin dekat ke ujung cerita….

Sudah lima puluh dua kali matahari kembali ke titik yang sama, menyapa aku dengan sinar yang kian lembut, seolah tahu kulit ini tak lagi sekuat dulu, dan hati mulai pandai membaca makna kehilangan….

Dulu, usia hanyalah angka di undangan, alasan untuk tertawa, bernyanyi, menari….

Kini, usia adalah renungan, adalah catatan amal dan sisa waktu yang menipis perlahan.

Aku mendengar…
ada suara samar di antara napas malam, suara yang bukan datang dari luar,
melainkan dari dalam dada sendiri, suara yang berbisik lembut namun tegas, “Bersiaplah…sebab setiap ulang tahun adalah langkah menuju pulang.”

Maka kusebut ia, alarm kematian.

Ia tak menakutkan, hanya jujur.
Ia tak kejam, hanya mengingatkan…

Ia berdentang bukan untuk menghentikan, melainkan untuk membangunkan….

Bahwa tubuh hanyalah pakaian sementara, dan jiwa sedang menunggu saatnya menanggalkan semuanya.

Aku menatap cermin, kulit yang mulai berkerut bukan tanda tua, melainkan peta perjalanan…

Setiap garis adalah kisah, setiap noda adalah pelajaran, dan setiap uban adalah cahaya dari dalam….

Aku tersenyum kecil, bukan karena bangga telah sampai sejauh ini, tapi karena akhirnya mengerti, hidup bukan soal panjangnya napas, melainkan dalamnya makna di setiap helaannya…

Alarm itu terus berdentang di hati, kadang pelan, kadang nyaring, kadang hanya hadir lewat mimpi yang aneh, atau lewat keheningan subuh yang terlalu sunyi….

Ia berkata, “Tak perlu takut pada akhir, karena akhir hanyalah awal yang lain…

Tak perlu menyesali usia,
karena usia adalah tanda kasih Tuhan yang masih memberimu kesempatan untuk bertobat, untuk memaafkan dan untuk menutup setiap luka dengan doa.”

Aku pun belajar mencintai waktu…

Bukan dengan menahannya,
melainkan dengan mensyukurinya…

Aku tidak lagi berlari mengejar masa lalu,
tidak pula tergesa menatap masa depan, aku hanya ingin tinggal sebentar di detik ini,
menikmati napas yang masih ada, menikmati denyut jantung yang masih bekerja,
menikmati cahaya mentari yang masih sudi menyapaku..

Jika usia adalah tangga, maka setiap tahun adalah anak pijak yang menuntun ke langit.

Dan kini aku menanjak anak tangga ke-52, menatap ke atas masih ada langit yang belum kusentuh, tapi aku tahu, di ujung sana bukan gelap, melainkan cahaya yang lembut, tempat segala letih berakhir…

Alarm kematian bukan untuk ditakuti, tapi untuk disadari…

Ia memanggil, agar aku tak tertidur terlalu lama dalam gemerlap dunia yang menipu…

Ia menyapa, agar aku kembali, menghadap Sang Pencipta dengan hati yang tenang, tanpa hutang, tanpa bimbang.

Dan bila nanti alarm itu berbunyi untuk terakhir kalinya, aku ingin tersenyum,
menyambutnya seperti sahabat lama yang datang menjemput pulang….

Sebab aku tahu, di balik kematian ada kehidupan yang sejati, di balik usia yang pudar ada kekekalan yang menanti.

Maka pada usiaku yang ke-52 ini, aku tak pesta pora, tak memotong kue,
tak memanjatkan harapan duniawi…

Aku hanya ingin berkata lirih pada diri sendiri, “Terima kasih, Tuhan, telah meminjamkanku waktu sejauh ini.

Jika esok alarm itu berbunyi lebih keras, izinkan aku pulang dengan tenang, karena aku telah belajar bahwa hidup sejati bukan dimulai dari lahir, melainkan dari kesadaran akan mati….

(Visited 26 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.