Potong saja tangan ini, demikian doa seorang pencopet yang menyadarkan koruptor..
Setiap kali naik angkutan umum, otak ini tak pernah berniat mencopet…
Tapi…
tangan ini seperti punya naluri sendiri, diam-diam merayap di balik tas punggung, lalu
menyomot dompet penumpang yang duduk di sebelahnya…
Pantaslah kiranya,
potong saja tangan ini.
Namun, ya Tuhan,
aku ingin bertanya lirih,
“jika tanganku pantas dipotong karena selembar uang ribuan,
maka tangan siapa
yang mencopet hutan,
yang mengeruk tanah dan laut, yang menelan dana rakyat dengan senyum sopan?”
Potong saja tangan ini, Tuhan, tapi jangan biarkan tangan-tangan itu
menandatangani proyek fiktif…
Jangan biarkan tangan ini bertindak dzalim….
Jangan biarkan tangan terhormat ini menjarah, menjamah, menjajah bangsa sendiri…
Jangan biarkan tangan ini menggenggam amplop tebal hasil gratifikasi…
Namun faktanya tangan-tangan perkasa itu kau biarkan suci di balik jas mahalnya…
Potong saja tangan ini,
agar koruptor tahu,
betapa ringan dosa kecilku dibanding rakusnya mereka yang bersarung kehormatan…
Aku mencopet karena lapar, mereka mencuri karena rakus dan tak pernah kenyang….
Makassar, 25 Oktober 2025

