Oleh: Ulfa

Aku tidak tahu kapan tepatnya ia pergi. Mungkin saat aku terlalu sibuk mengejar angka di layar ponsel, sampai lupa rasanya menatap langit sore. Mungkin saat aku mulai menjawab “aku baik-baik saja” padahal dada sesak oleh hal-hal yang tak bisa kujelaskan. Atau mungkin saat aku berhenti menulis, berhenti bercerita, berhenti menjadi diriku sendiri.

Yang kutahu, suatu hari aku bangun dan merasa asing di tubuhku sendiri. Tertawa karena harus tertawa. Bekerja karena harus bekerja. Hidup, tapi seperti tidak benar-benar hidup.

Jiwaku hilang. Bukan dicuri, tapi kutinggalkan pelan-pelan di tikungan hari yang terlalu cepat.

Aku mencarinya di tempat-tempat yang dulu ramai. Di kafe tempatku biasa menulis, tapi yang kutemui hanya notifikasi dan deadline. Di ruang keluarga, tapi semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Bahkan di cermin, yang menatap balik hanya wajah lelah yang lupa caranya tersenyum tulus.

Sampai suatu pagi, aku tidak sengaja membuka kotak tua di dalam lemari, Isinya buku harian SMA, kertas gambar yang belepotan, kalimat -kalimat curhatan bahkan kata -kata puitis dan sebaris puisi.

Debu menempel di jemariku, tapi ada sesuatu yang lain: hangat. Seperti berjumpa teman lama. Aku baca satu halaman, lalu dua halaman. Tanpa sadar air mata jatuh.

Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya ingat: _oh, ini aku_.Ternyata jiwaku tidak pergi ke mana-mana. Ia hanya bersembunyi di balik hal-hal kecil yang dulu membuatku hidup.

Bau tanah sehabis hujan. Terngiang suara Almarhum Bapak yang sering Bercerita sebelum tidur. Saat detik ketika pena menyentuh kertas dan dunia jadi diam, menyisakan aku dan kata.

Maka pelan-pelan kumulai ritual memanggilnya pulang. Mematikan ponsel satu jam sehari, hanya untuk mendengar detak jantung sendiri. Berjalan tanpa tujuan, membiarkan kaki menuntun ke tempat yang kangen.

Menulis lagi, meski kalimatnya patah-patah. Karena ternyata jiwaku paling betah tinggal di antara paragraf-paragraf jujur.

“Kembalikan jiwaku yang hilang,” pintaku pada Tuhan disepertiga malamku. dan Tuhan menjawab bukan dengan sulap, tapi dengan kesempatan. Kesempatan untuk memilih: terus berlari sampai hampa, atau berhenti sejenak dan menjemput apa yang kutinggalkan.

Hari ini aku belum sepenuhnya utuh. Masih ada bagian yang bolong, masih ada hari di mana aku merasa kosong. Tapi aku sudah tahu jalannya pulang. Pulang ke hal-hal yang membuat mataku berbinar. Pulang ke orang-orang yang memeluk tanpa menghakimi.

Pulang ke diriku, yang pernah percaya bahwa hidup bukan sekadar bertahan, tapi juga merayakan. Karena jiwa yang hilang, sesungguhnya hanya rindu untuk ditemukan.

(Visited 21 times, 21 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.