Oleh : Lolita Eka Putri*

Tangan saya masih sedikit gemetar saat melihat piagam itu. Di atas kertas itu, nama saya terukir di sana: Penulis Pendatang Baru Terbaik – Bengkel Narasi.

Rasanya baru kemarin saya hanyalah seseorang yang menulis dalam sunyi, merangkai kata di sela-sela lelah, tanpa pernah berani bermimpi bahwa tulisan itu akan melangkah sejauh ini.

Antara Honor dan Hati, begitulah tiba-tiba ingatan saya terlempar pada sebuah percakapan beberapa bulan lalu.

Seorang teman pernah bertanya dengan nada penasaran yang kental, “Menulis terus seperti itu, memangnya berapa honor yang kamu dapat? Apa sebanding dengan waktu yang kamu habiskan?”

Saat itu, saya hanya tersenyum tipis. Sulit menjelaskan padanya bahwa ada kepuasan yang tidak bisa dikonversi ke dalam rupiah. Bagi saya, melihat seseorang berhenti sejenak untuk membaca paragraf yang saya susun adalah sebuah kemenangan.

Bagi saya, mengetahui pesan dalam tulisan saya sampai ke hati pembaca adalah kemewahan yang tiada tara. Uang bisa habis, tetapi jejak literasi akan abadi. Kebahagiaan saat karya kita diapresiasi bukan karena nominalnya, melainkan karena keberadaan kita diakui lewat gagasan.

Perjalanan ini tidaklah instan. Saya ingat betul bagaimana rasanya menjadi “lumpur”—tercecer, tidak berbentuk, dan mungkin tidak dilirik oleh siapapun.Di Bengkel Narasi inilah, proses metamorfosis itu dimulai. Di Bengkel Narasi inilah huruf, kata, kalimat, diksi dibongkar pasang hingga menjadi anak tangga menuju langit.

Berbagi ilmu dengan para senior dan penulis yang jauh lebih hebat bukan membuat saya merasa kecil, melainkan membuat saya merasa haus untuk terus bertumbuh. Terutama kepada sosok mentor yang luar biasa, sang penggerak jiwa Bang Ruslan Ismail Mage (RIM) yang mengajarkan, “Menulis adalah ibadah sunyi yang tidak menuntut pengakuan, karena ia dialog dengan semesta”.

“Terima kasih, Bang RIM, karena telah menemukan saya di dalam tumpukan lumpur itu. Terimakasih telah memberiku pedang pena untuk menucul kepermukaan.

Terima kasih telah bersabar menyeka kotoran yang menempel, memoles setiap sisi yang kasar, hingga lumpur itu perlahan berubah menjadi mutiara yang perlahan mulai berkilau.”

Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, saya menyadari bahwa penghargaan ini bukanlah garis finish. Ini adalah amanah.

Bangga? Tentu saja. Haru? Luar biasa. Namun di atas itu semua, ada rasa syukur yang membuncah.

Ternyata, keberanian untuk mulai menulis adalah keputusan terbaik dalam hidup saya.

Malam ini, piagam ini akan saya simpan sebagai pengingat: bahwa siapa pun bisa bersinar, asalkan ia bertemu dengan tangan yang tepat untuk menempa dan hati yang tulus untuk berbagi.

Terima kasih, Anugrah Award Bengkel Narasi. Mohon genggam terus tanganku melangkah di panggung literasi Indonesian. Mohon bimbing terus mengikuti jejak tokoh idolaku Buya Hamka menerbitkan buku-buku karya sendiri.

*BNsiana sejati dan penggerak literasi menulis

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.