Oleh: Besse Risma

Panggung jiwa tempat sunyi yang tak pernah benar-benar sepi. di sanalah kata-kata lahir, bukan sekadar dari pikiran, tetapi dari rasa yang paling dalam. Terima kasih, karena telah menjadi ruang yang sabar menampung segala riuh yang tak sempat terucap.

di antara gelisah, harap, dan rindu yang tak selalu menemukan jalannya, engkau hadir sebagai rumah yang menerima tanpa syarat. dalam diam, engkau mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dipahami orang lain untuk menjadi berarti. Bahwa luka pun punya bahasa, dan air mata memiliki cerita yang pantas dituliskan.

Terima kasih, karena telah memberi keberanian untuk jujur pada diri sendiri, pada rasa yang kadang ingin disangkal, namun justru perlu dirangkul.

Panggung jiwa ini bukan hanya tempat menulis, tetapi juga tempat pulang. Tempat di mana segala yang berserakan perlahan disusun kembali menjadi makna. Di setiap huruf yang terangkai, ada proses berdamai yang tak terlihat, ada kekuatan yang tumbuh perlahan. dan untuk semua itu, terima kasih karena telah menjaga api kecil dalam diri agar tetap menyala, bahkan ketika dunia terasa redup.

Semoga panggung ini selalu hidup, menjadi saksi perjalanan yang terus bertumbuh. Karena pada akhirnya, dari sinilah kita belajar: bahwa setiap rasa, sekecil apa pun, layak untuk didengar dan diabadikan.

(Visited 7 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.