Oleh: Rosmawati

Di bawah langit Lasusua yang membentang biru, sebuah gerakan sunyi namun bertenaga sedang merambat masuk ke ruang-ruang kelas, kedai-kedai kopi, hingga ke relung sanubari para pendidik. Ini bukan sekadar tentang pembangunan fisik gedung-gedung tinggi, melainkan tentang membangun fondasi peradaban melalui deretan kata. Di Kolaka Utara, denyut nadi literasi kini terasa lebih kencang berkat sentuhan inspiratif dari sang penggerak, Ruslan Ismail Mage (RIM).

Bagi saya, menata aksara di Kolaka Utara bukan sekadar menyusun kalimat di atas kertas. Melalui wadah Bengkel Narasi Indonesia, Sang guru Ruslan Ismail Mage telah mengajarkan kita bahwa setiap huruf yang ditorehkan adalah investasi masa depan. Beliau mengajak saya, rekan-rekan guru, dan seluruh putra-putri daerah di Bumi Kakao untuk tidak lagi menjadi penonton sejarah, melainkan menjadi pencatatnya.

Beliau hadir membawa pesan sederhana namun mendalam: “Menulislah, maka engkau akan abadi.” Saya menyaksikan sendiri bagaimana antusiasme membuncah di berbagai sekolah yang dikunjungi beliau di Kolaka Utara—mulai dari tingkatan PAUD hingga sekolah menengah. Kita sedang melihat sebuah “ledakan” kesadaran kolektif. Para pendidik kini menyadari bahwa pena bukan lagi sekadar alat untuk memberi nilai di buku rapor, melainkan senjata untuk menginspirasi dunia.

Seminar-seminar literasi yang dipeloporinya menjadi saksi betapa haus masyarakat kita akan ilmu dan keberanian untuk menuangkan ide. Inspirasi yang dibawa RIM telah berakar kuat dalam sanubari saya. Beliau tidak hanya mengajarkan teknik menulis yang sistematis, tetapi juga menyalakan api keberanian bagi setiap individu di pelosok Kolaka Utara untuk berani bersuara dan berbagi makna melalui tulisan.

Lewat kedekatan pemikiran itulah, saya tergerak menyusun “Ensiklopedia Sang Penggerak” sebagai bukti bahwa inspirasi beliau mampu menjelma menjadi karya nyata. Kolaka Utara kini bukan hanya dikenal karena keharuman aroma kakaonya atau kekayaan alamnya yang melimpah. Lewat gerakan menata aksara ini, kita sedang bersiap menjadikan Kolaka Utara sebagai lumbung pemikiran; tempat di mana ide-ide besar dirawat, dituliskan, dan disebarluaskan ke seluruh Nusantara.

Sebab, ketika aksara telah tertata dan pena telah digoreskan, daerah kita tidak akan pernah kehilangan jati dirinya.

(Visited 21 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.