Oleh Besse Rismawati
Pagi di pegunungan selalu datang dengan kabut yang menggantung rendah. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, dan jalanan yang menanjak tajam menjadi teman setia setiap langkah perjuanganku.
Di sinilah aku mengabdi di sebuah sekolah kecil yang berdiri sederhana di lereng perbukitan, jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kemewahan fasilitas, tetapi begitu dekat dengan makna pengabdian.
Setiap hari, motorku harus menaklukkan tanjakan ekstrem yang licin saat hujan, berdebu saat kemarau. Kadang aku harus turun dan menuntunnya perlahan, menahan napas di tikungan curam yang seolah menguji tekad.
Namun di setiap tanjakan itu, aku selalu mengingat wajah-wajah kecil yang menunggu di kelas dengan mata berbinar. Mereka adalah alasan mengapa aku terus melangkah. Sekolah kami mungkin tidak memiliki dinding yang sempurna atau meja yang seragam, Papan tulisnya sudah mulai kusam, Tetapi di balik papan tulis itu, ada hati yang bekerja dan tak pernah lelah memikirkan bagaimana caranya agar anak-anak tetap memiliki mimpi sebesar langit yang menaungi desa mereka.
Aku belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan pelajaran.tetapi tentang memahami anak yang datang tanpa sarapan, tentang memeluk yang diam-diam menyimpan luka, tentang menyemangati yang hampir menyerah karena jarak rumah ke sekolah pun harus ditempuh dengan berjalan kaki berjam-jam melewati jalan setapak berbatu.
Di ruang kelas kecil itu, aku menyaksikan peradaban sedang bertumbuh. Bukan dalam bentuk gedung tinggi atau teknologi canggih, tetapi dalam huruf-huruf yang mulai mereka rangkai, dalam angka-angka yang mulai mereka pahami, dan dalam nilai-nilai kejujuran serta gotong royong yang kami rawat bersama.
Kadang pertanyaan pada diri sendiri muncul, apakah perjuangan ini terlihat oleh dunia? Namun kemudian aku sadar, peradaban tidak selalu dibangun dengan sorotan lampu. Ia tumbuh pelan, di tempat-tempat sunyi, di tangan-tangan yang bekerja dengan tulus.
Jalanku mungkin menanjak dan melelahkan, tetapi hatiku selalu menemukan dataran lapang setiap kali mendengar mereka berseru, “Ibu Guru datang!” Sapaan sederhana itu menghapus letih, menghangatkan jiwa, dan menguatkan langkah untuk esok hari.
Di balik papan tulis yang sederhana itu, bukan hanya pelajaran yang kutuliskan. Ada doa-doa yang kuselipkan, harapan yang kutanamkan, dan keyakinan bahwa suatu hari nanti, anak-anak ini akan berdiri tegak, membawa cahaya bagi negerinya.
Karena sesungguhnya, di balik papan tulis, ada hati yang bekerja diam, setia, dan percaya bahwa setiap huruf yang diajarkan hari ini adalah batu bata kecil yang membangun peradaban masa depan.

