Kabut asap di Kota Palembang. Foto diambil dari lantai 3 Hotel The Rids.

Bukan hanya Kalimantan yang mendekam bersama asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Di Indonesia bagian barat, tepatnya Palembang, ibukota Provinsi Sumatera Selatan, sebagian besar penduduknya yang berjumlah sekitar 1.7 juta mengeluh akibat asap mengepung dari segala penjuru. Langit biru tak pernah terlihat sepanjang hari, jarak pandang (visibility) sekitar 100 meter, puncak gedung-gedung tinggi tampak samar, mewarnai hari-hari Bumi Sriwijaya.

Semua orang mengeluh. Sopir taksi online, pengunjung café warung dan resto, penjual dan pembeli di pasar-pasar, yang datang di jembatan Ampera nan ikonik, jemaah masjid agung Sultan Mahmud Badaruddin I, juga para mahasiswa. Semua membicarakan satu hal di sela kesibukan. Yaitu kabut asap.

Penduduk juga tahu, kabut asap di kota yang pernah jadi kekuasaan Kerajaan Sriwijaya ini berasal dari luar daerah. Terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) di sebelah selatan dan timur, dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) di barat. Hanya sebagian kecil kabut asap yang berasal dari Kota Palembang sendiri.

Fakta di Media

Pemerintah Kota Palembang melalui situs palembang.go.id merilis fakta bahwa hanya ada 3 titik api di dalam kota, berbanding 63 kiriman dari luar. Yang 3 itupun kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palembang Ratu Dewa, bisa padam dengan kerja cepat. Asapnya tetap tak mau beranjak, dan itu cukup dignifikan untuk melumpuhkan banyak aktifitas di dalam kota. Contoh kegiatan belajar mengajar yang libur sementara.1

Kebijakan meliburkan siswa dan mengganti dengan belajar dari rumah ini mencegah para siswa terpapar penyakit akibat menghirup terlalu banyak kabut asap. Seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, bronkitis, pneumonia, serta iritasi mata pekat dan gangguan tenggorokan.

Selain sekolah, pengurangan aktifitas juga terjadi di bandar udara internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Penerbangan dari dan ke bandara ini berkurang. Para sopir taksi mengeluh, jumlah penumpang menurun dari biasanya.

Lebih jauh, Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut kualitas udara Palembang berbahaya. Itu sebabnya sehingga aktifitas di luar ruangan harus dibatasi. Jika terpaksa keluar, wajib menggunakan masker dengan filtrasi tinggi serta pelindung mata. Udara di dalam ruangan pun harus diisolasi dengan menutup seluruh ventilasi dan disaring menggunakan pembersih udara (air purifier) jika ada.2

BMKG mengatakan bahwa konsentrasi PM2.5 di Palembang mencapai 903,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada awal pekan kedua Oktober 2026. Ini tertinggi sepanjang tahun 2026. Artinya, kualitas udara di kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan itu berada pada tingkat polusi ekstrem yang sangat berbahaya bagi kesehatan makhluk hidup.3

Nasib Palembang serupa Palangkaraya

Palembang tidak sendirian. Ada daerah lain yang juga terdampak parah oleh asap karhutla. Yaitu Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah.4 Sama dengan Palembang, penerbangan ke bandar udara Cilik Riwut Palangkaraya juga sempat dibatasi. 

Bahkan beberapa kegiatan yang sedianya berlangsung di kota itu berpindah ke kota lain. Salah satunya, Apresiasi Pemerintah Daerah Beprestasi 2026 batch II Regional Kalimantan awal September 2026 yang kembali ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Padahal kegiatan yang sama Batch I pada Mei 2026 sudah berlangsung di tempat itu. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan langsung pemindahan kegiatan ini saat memberikan pidato pada acara malam itu. Penerbangan ada, tapi terbatas. Khawatir banyak kepala daerah dari 5 provinsi di Kalimantan terkendala hadir karenanya.

Benarkah Pemerintah Apatis

Pertanyaan pun muncul, apakah manusia tidak punya cara untuk mengatasi masalah ini dan harus membiarkannya berlalu secara alamiah dengan datangnya hujan yang entah kapan? Atau menunggu keajaiban dari cerita dongeng Avatar sang pengendali udara terakhir?4

Kepala daerah punya kewenangan absolut untuk mengatasi masalah ini. Tentu saja untuk kasus Palembang, bola ada di tangan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru. Tinggal mau atau tidak mengeluarkan kebijakan mengatasi masalah kabut asap.

Semua yang mengeluhkan kabut asap juga tahu, bahwa mengusir kabut asap tidak bisa tuntas dengan cepat. Mengatasi asap dengan kipas raksasa tidak menghilangkan kabut itu. Hanya memindahkan. Jadi satu-satunya cara paling efektif samapai kini adalah memadamkan api sebagai sumber asap. Dari udara dengan helikopter, atau di darat dengan lembaga berwenang dengan melibatkan masyarakat secara swadaya.

Malaysia pernah menawarkan pemadaman api di Sumatera dan Kalimantan dengan menggunakan helikopter. Tapi tidak ada respon resmi dari Pemerintah Republik Indonesia. Mungkin karena merasa bisa sendiri.

Buktinya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sudah melakukan ini dengan 9 unit helikopter. Tetangganya, Pemerintah Provinsi Lampung memadamkan kebakaran dengan water bombing di wilayah Taman Nasional Way Kambas pada Agustus 2026.

Biaya untuk pamadaman dengan metode ini sekitar 80 juta sampai 250 juta rupiah per jam terbang. Antara News melaporkan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengelurakan biaya sebesar 100 juta sampai 200 juta rupiah per jam untuk satu unit helikopter.5

Angka ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan APBD perubahan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2026 sebesar 9.53 triliun rupiah.6 Di Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) APBD Perubahan Provinsi Sumatera Selatan ada alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar 40 miliar rupiah. Penanganan kabut asap masuk dalam kategori force majeure yang alokasi anggarannya ada di BTT itu.

Alokasi anggaran ada, kebijakan juga punya. Tinggal political will pak Gubernur Herman Daru memberikan perintah kembali menggunakan helikopter memadamkan Karhutla di OKI dan Muba, dan kabupaten lain yang berpotensi karhutla. Banyuasin, dan Muara Enim.

Pertanyaan selanjutnya, maukah pak Gubernur melakukan itu lagi? Hanya dia yang bisa menjawab. Atau menunggu perintah Presiden RI Prabowo Subianto yang baru saja berulang tahun ke-75. 

By the way, satire di media sosial dengan gambar ilusttrasi presiden meniup lilin bercampur hutan yang terbakar itu sangat elok. Lilin ulang tahun ditiup sementara hutan lahan terus membara. Kata seorang sahabat nun jauh di Pulau Sulawesi.

Referensi

1 Pemerintah Kota Palembang, Fakta Palembang Dikepung Asap: Di Palembang Hanya 3 Titik, 63 Titik Karhutla Dari Luar Kota https://palembang.go.id/berita/berita-691

2 BMKG, Imbas Asap Kebakaran Hutan dan Lahan, Kualitas Udara di Palembang Tergolong Berbahaya, https://www.instagram.com/p/DeG7WDwGviA/,  

3 Channel NewsAsia (CNA) Indonesia, PM2.5 tembus rekor 903,6, kualitas udara Palembang berbahayahttps://www.cna.id/indonesia/kabut-asap-palembang-pm25-karhutla-51506

4 Bengkel Narasi, Kalimantan Menanti Avatar, https://bengkelnarasi.com/2026/08/30/kalimantan-menanti-avatar/

5 Antara News Jawa Timur, Water Bombing masih jadi Andalan Pengendalian Karhutla, https://jatim.antaranews.com/berita/849929/water-bombing-masih-jadi-andalan-pengendalian-karhutla

6 Sumsel Satu, APBD Perubahan Sumsel 2026 Defisit Rp 209.,9 Miliar, https://sumselsatu.com/apbd-perubahan-sumsel-2026-defisit-rp2099-miliar/

Palembang, Sumatera Selatan, 17 Oktober 2026

(Visited 15 times, 15 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.