Oleh: Juharman Muliadi*
Seni dalam mementaskan pertunjukan sudah seharusnya dimiliki oleh seorang politikus untuk memberikan tontonan yang menarik pada khalayak. Pertarungan menjadi yang terbaik dari yang baik tentu tak boleh dilupakan demi kepentingan bersama. Tentu, untuk bisa duduk di kursi kehormatan diperlukan ide dan gagasan demi perkembangan dan kemajuan desa pastinya. Seorang politikus sudah seharusnya mampu memenangkan dirinya melalui solusi pemikiran dari segala keresahan masyarakat yang kemudian itu disampaikan melalui pemaparan visi-misi yang tidak hanya sekadar janji kebutuhan hari ini, tapi sebagai bentuk ikhtiar dari desain kemaslahatan umat untuk mencapai ridho Allah Swt.
Namun, sungguh menjadi ironi saat ini karena masih banyak dari politikus yang tidak bertarung dengan gagah sebagai orang yang bakal dianggap terhormat di tempat tinggalnya. Ada yang sampai belum bisa move on dengan permainan lamanya yaitu permainan petak umpet yang biasanya dimainkan sebelum pemilihan terjadi.
Contoh pertama politik petak umpet adalah di mana salah satu kelompok pendukung untuk calon si A tidak diberikan hak pilihnya untuk ikut serta merayakan pesta demokrasi meskipun menunjukkan kartu tanda penduduk sebagai bukti mereka masih bagian dari warga setempat. Seperti permainan petak umpet, nanti ketahuan setelah semua data keluar bahwa yang tidak diberikan hak suaranya hanya orang-orang yang sudah menjadi suara pasti dari si calon A. Sesuai aturan permainan petak umpet, karena calon si B telah terbukti dengan si penjaga tiang maka diputuskan untuk kemudian tutup mata dan kembali menghitung ulang.
Contoh kedua politik petak umpet, ini biasanya dilakukan setelah pemilihan. Individu atau pun kelompok yang kalah dalam permainan akan menunjukkan kebenciannya dengan segala cara kepada kelompok yang menang. Sangat banyak sekali yang terjadi setelah pemilihan. Banyak yang memindahkan rumahnya dan ada juga yang terpaksa membongkar rumahnya karena terbukti tidak mendukung daripada individu yang kalah tadi. Padahal dirinya tahu bahwa dia masih menumpang di atas tanah milik dari individu yang kalah. Namun, bukankah sudah seharusnya memilih seorang pemimpin bukan atas dasar keterpaksaan atau pun kepentingan individu.
*Penulis adalah penggiat dan penikmat literasi Kolut
