Dari Rahim Perjuangan, Lahir Tangan yang Menyelamatkan Kehidupan

Oleh: H. Tammasse Balla

Lebih tiga dasawarsa telah berlalu, tetapi waktu seperti kehilangan kuasanya untuk menghapus sebuah peristiwa yang tertanam amat dalam di lubuk hatiku. Pada hari Sabtu, ketika adzan Magrib bersahut-sahutan, 8 April 1995, di Rumah Sakit Bersalin Pertiwi, Jalan Sawerigading Nomor 3, Makassar, seorang perempuan muda sedang bertaruh antara rasa sakit dan harapan. Dialah istriku, perempuan yang sedang berjuang menghadirkan buah cinta pertama kami ke dunia. Dua belas jam lamanya ia menanggung nyeri persalinan, sementara jarum jam terus bergerak tanpa belas kasihan. Para bidan, perawat, hingga Dokter Spesialis Kandungan dibuat cemas. Hasil pemeriksaan Ultrasonografi (USG) menunjukkan bahwa bahu bayi kami agak lebar. Kamar operasi pun telah dipersiapkan. Dalam kecemasan itu, aku menyadari bahwa kelahiran bukan sekadar datangnya seorang manusia ke bumi, melainkan perjumpaan antara perjuangan seorang ibu, keterbatasan manusia, dan keagungan kasih sayang Allah.

Di antara ketegangan yang menyelimuti ruang persalinan, Dokter Kandungan yang bertugas memilih mencoba satu ikhtiar terakhir sebelum operasi sesar dilakukan. Tindakan itu bernama Vakum Ekstraksi. Vakum Ekstraksi (vacuum extraction) adalah tindakan medis dalam bidang kebidanan (obstetri) untuk membantu proses persalinan melalui jalan lahir dengan menggunakan alat pengisap khusus yang ditempelkan pada kepala bayi. Alat tersebut berbentuk mangkuk (vacuum cup) yang dihubungkan dengan pompa penghasil tekanan negatif. Dokter kemudian melakukan tarikan secara hati-hati dan terarah, bersamaan dengan kontraksi rahim dan usaha mengejan ibu, untuk membantu bayi lahir.

Detik-detik itu terasa lebih panjang daripada dua belas jam yang telah berlalu. Aku tak mampu berbuat banyak, selain menitipkan segala doa kepada Allah Yang Maha Menentukan. Alhamdulillah, pertolongan itu berhasil. Tangisan pertama bayi kami akhirnya memecahkan ketegangan. Tangisan yang bagi orang lain mungkin terdengar biasa, tetapi bagiku merupakan suara terindah yang pernah turun dari langit. Hari itu, seorang ibu memenangkan perjuangannya, seorang ayah menemukan kebahagiaannya, dan seorang bayi perempuan memulai perjalanan panjang menuju takdir yang belum kami ketahui.

Kami menamainya Iin Fadhilah Utami Tammasse, sebuah nama yang kami titipkan sebagai doa sepanjang hidupnya. Kami berharap ia tumbuh menjadi perempuan yang sehat, berkeutamaan, berilmu, dan memiliki kelebihan yang kelak membawa manfaat bagi sesama. Betapa sering manusia memberi nama kepada anak-anaknya tanpa mengetahui bahwa di balik nama itu Allah sedang menyiapkan perjalanan yang jauh lebih indah daripada angan-angan orang tuanya. Kami memanggilnya Iin. Sejak kehadirannya, rumah kami mengenal bahasa baru, yaitu bahasa tangisan bayi, senyum pertama, langkah-langkah kecil, dan kebahagiaan yang tak memerlukan alasan. Ia tumbuh dari pelukan ibunya, dari doa-doa panjang kami, dan dari harapan sederhana agar kelak kehidupannya menjadi lentera bagi orang lain.

Waktu kemudian berjalan seperti sungai yang tak pernah kembali ke hulunya. Bayi kecil yang dahulu harus dibantu kelahirannya dengan vakum ekstraksi itu tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa. Ia meliwati masa kanak-kanak, menempuh pendidikan, bergulat dengan ilmu pengetahuan, hingga akhirnya memilih jalan pengabdian sebagai dokter. Betapa menakjubkan rahasia kehidupan! Anak yang dahulu kehadirannya membuat seisi ruang persalinan diliputi kecemasan, kini justru berada di ruang-ruang persalinan untuk membantu ibu-ibu lain melahirkan buah hatinya. Ia sedang menempuh pendidikan menjadi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, atau Obgin. Prosedur vakum ekstraksi yang dahulu menyelamatkannya dari kelahiran melalui operasi sesar, kini menjadi bagian dari ilmu dan keterampilan klinis yang dipelajarinya. Seakan-akan Allah sedang menuliskan sebuah lingkaran kehidupan, yaitu dulu ia ditolong oleh tangan seorang dokter, sekarang kedua tangannya sedang dipersiapkan untuk menolong kehidupan orang lain.

Kini, putri sulungku sedang menjalani penugasan selama dua bulan di Rumah Sakit Umum Daerah Siwa, Kabupaten Wajo. Belum genap sepekan, bahkan baru tiga hari menjalankan tugas, ia telah bergelut dengan puluhan pasien yang memerlukan tindakan operasi. Ruang operasi seolah-olah menjadi ruang belajar kehidupan yang sesungguhnya. Di sana, ilmu pengetahuan tidak lagi berhenti sebagai barisan teori dalam buku, tetapi menjelma menjadi keputusan yang menuntut ketepatan, keberanian, dan tanggung jawab. Di balik setiap tindakan medis terdapat seorang ibu yang berharap pulang dengan selamat, seorang suami yang menanti dengan cemas, dan sebuah keluarga yang menggantungkan doa. Betapa besar amanah yang diletakkan Allah pada tangan seorang dokter. Di hadapan meja operasi, manusia tidak hanya berhadapan dengan tubuh yang membutuhkan pertolongan, tetapi juga dengan kehidupan yang memiliki cinta, harapan, dan masa depan.

Anakku Dokter Iin, ketahuilah bahwa menjadi Dokter Kandungan bukanlah semata-mata memperoleh gelar spesialis atau menguasai keterampilan melakukan operasi. Kehebatan seorang dokter tidak hanya terletak pada ketajaman pisau bedah, kecanggihan peralatan, atau ketepatan diagnosis, melainkan juga pada kelembutan hati ketika berhadapan dengan manusia yang sedang menderita. Jadilah dokter yang mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum memutuskan, dan menenangkan sebelum melakukan tindakan. Jangan pernah memandang pasien semata-mata sebagai nomor antrean, lembar rekam medis, atau objek tindakan klinis. Pandanglah mereka sebagai manusia yang memiliki keluarga, ketakutan, dan pengharapan. Seorang dokter yang cerdas dapat membantu menyembuhkan penyakit, tetapi dokter yang humanis menghadirkan rasa aman, bahkan ketika kesembuhan belum dapat dijanjikan.

Kelak, apabila engkau berdiri di ruang persalinan dan melihat seorang ibu menggenggam erat tepi tempat tidurnya karena menahan sakit, ingatlah ibumu lebih tiga puluh tahun silam. Ingatlah bahwa engkau pun pernah berada di antara ketidakpastian dan harapan. Ingatlah bahwa sebelum tanganmu belajar membantu kelahiran seorang bayi, ada tangan dokter lain yang lebih dahulu membantumu melihat cahaya dunia. Jangan biarkan ilmu menjadikanmu tinggi hati, sebab semakin dalam pengetahuan seseorang, semakin luas pula seharusnya ruang kerendahan hatinya. Jangan biarkan kesibukan memadamkan belas kasih, dan jangan biarkan kelelahan menghilangkan keramahan. Tanganmu boleh terlatih menggunakan instrumen bedah, tetapi hatimu harus tetap mampu merasakan air mata seorang ibu. Jadikan profesimu sebagai jalan ibadah, ilmu sebagai amanah, dan keberhasilan sebagai alasan untuk semakin bersyukur kepada Allah.

Tiga puluh tahun lalu, Papa dan Mama menunggu kelahiranmu dengan dada penuh kecemasan. Kini, Papa dan Mama menyaksikanmu membantu kelahiran anak-anak orang lain dengan dada penuh kesyukuran. Betapa indah cara Allah mempertemukan masa lalu dengan masa depan. Dahulu, engkau datang ke dunia melalui pertolongan seorang Dokter Kandungan; kini, engkau sedang menapaki jalan untuk menjadi Dokter Kandungan yang akan dikenang karena pertolongannya. Anakku, Papa tidak menuntutmu menjadi dokter paling terkenal, paling kaya, atau paling tinggi kedudukannya. Papa hanya berdoa agar engkau menjadi Dokter Obgin yang Humanis; cemerlang ilmunya, terampil tangannya, lembut tutur katanya, jernih pikirannya, dan luas kasih sayangnya.

Keunggulan seorang dokter bukan diukur dari berapa banyak operasi yang telah dilakukannya, melainkan dari seberapa besar manfaat kehadirannya bagi kehidupan manusia. Apabila kelak namamu dilupakan oleh dunia, semoga masih ada seorang ibu yang menengadahkan tangannya ke langit sambil berdoa, “Ya Allah, berkahilah dokter yang dahulu menolongku melahirkan anakku.” Itulah kemuliaan yang sesungguhnya, Anakku, ketika tanganmu selesai bekerja, tetapi kebaikanmu terus hidup dalam doa orang lain.
(Papa HTB dan Mama JT)

Makassar, 5 November 2026
Pk. 19.37 WITA

……. sambil membuka lipatan-lipatan memori dan bertamasya di taman hati, lebih tiga dasawarsa lalu ……

(Visited 7 times, 7 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.