Oleh: H. Tammasse Balla
Kemarin dulu [30/7) aku datang langsung menyaksikan salah seorang sahabat memetik buah dari pohon panjang perjuangannya. Di Gedung Teater Pinisi lt. 3 UNM, langit seolah-olah menurunkan cahaya yang lebih teduh untuk mengiringi langkah Prof. Dr. Maemuna Muhayyang, S.Pd., M.Pd. menuju singgasana kehormatan seorang profesor. Sahabatku itu dikukuhkan sebagai Profesor dalam bidang Sosiolinguistik. Di balik tepuk tangan yang bergemuruh, aku membawa kisah yang hanya diketahui oleh hatiku sendiri.
Aku sebenarnya masih harus berada di Jakarta menemani adikku menjalani proses pemulihan kesehatannya di RSUP Fatmawati Jakarta. Namun, ada undangan yang memanggil bukan sekadar fisikku, melainkan jiwaku. Persahabatan kami mempunyai suara yang lebih nyaring daripada urusan yang lain. Pk. 02.30 WIB dini hari, aku berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta, menembus kantuk yang masih menggantung di langit. Pesawat Citilink; QG 212, kursi 17 A membawaku pulang ke Makassar, seolah- olah angin sendiri ingin mengantarkanku menjadi saksi bagi hari bersejarah sahabatku.
Bu Mae, begitu sapaan familiarnya, bukan sekadar teman. Ia adalah halaman lama dalam lembaran buku perjalanan akademikku. Sejak masa S3 pada tahun 2006, kami selalu bertukar pikiran, bertukar canda, bahkan bertukar letih dalam perjuangan akademik. Bersama Prof. Dr. Sukardi Weda, M.Hum. dan Dr. Arna, S.Pd., M.Pd, telepon dan chatting menjadi jembatan yang tak pernah mengenal siang atau pun malam. Persahabatan kami tumbuh seperti akar yang saling menguatkan di bawah tanah, meski tak selalu terlihat oleh mata. Karena itulah, diam-diam aku menyimpan harapan kecil. Harapan yang sederhana, namun bagi hatiku mempunyai makna sebesar langit. Aku membayangkan, di tengah orasi ilmiah yang agung itu, namaku akan mengalir dari bibir sahabatku sebagai sebutir kenangan yang ikut membangun perjalanan panjangnya. Bukan demi kemasyhuran, melainkan demi pengakuan bahwa aku pernah menjadi bagian dari jejak langkahnya. Tripot dan HP full charge telah kusiapkan untuk mengabadikan momen sakral itu
Satu demi satu nama disebut dan dieja gelar akademiknya. Nama para guru, para pimpinan UNM, keluarga, dan sahabat-sahabat terdekatnya memenuhi ruangan. Prof. Sukardi Weda disebut dua kali. Bu Arna pun disebut. Nama-nama lain bersemi seperti bunga yang dipetik satu per satu. Aku menunggu dengan senyum yang semakin lama semakin lelah. Harapan berdiri di depan pintu, tetapi pintu itu tak kunjung terbuka.
Lalu tibalah akhir orasi. Tepuk tangan bergelombang memenuhi gedung megah itu. Semua orang berdiri dalam sukacita. Hanya di dalam dadaku, ada kupu-kupu kecil yang mendadak kehilangan arah pulang. Ia mengepakkan sayapnya dalam sunyi, lalu jatuh perlahan-lahan di taman kesunyian yang tak seorang pun melihatnya.
Dalam hatiku ada bisikan lirih, “Oh, rupanya hanya aku yang merasa begitu dekat. Mungkin aku hanyalah seorang pengembara yang pernah singgah di halaman hidupnya, bukan penghuni rumah di dalam jiwanya” Kata-kata itu tidak keluar dari bibirku. Ia hanya menjadi hujan gerimis yang turun diam-diam di dalam dada.
Perasaanku saat itu ibarat “cinta yang bertepuk sebelah tangan”. Bukan karena aku mengharap balasan, tetapi karena setiap persahabatan diam-diam menanamkan harapan untuk dikenang. Betapa uniknya hati manusia. Ia mampu menerima ribuan penghargaan, tetapi tetap terluka oleh satu nama yang tak sempat disebut.
Aku ikut bertepuk tangan. Namun tepuk tanganku terasa seperti daun kering yang saling bersentuhan ditiup angin. Tanganku bergerak, tetapi jiwaku diam. Senyumku hadir di wajah, tetapi mataku sedang berbicara kepada langit yang tak menjawab apa-apa.
Barangkali begitulah hati. Ia sering menulis cerita yang tidak pernah diketahui oleh orang lain. Ia pandai menyembunyikan luka di balik jas resmi dan senyum yang sopan. Tidak semua kesedihan menetes menjadi air mata; sebagian memilih tinggal sebagai gema yang hanya terdengar oleh pemiliknya.
Namun Tuhan tidak pernah membiarkan hatiku terlalu lama memeluk prasangka. Pada saat aku masih sibuk berdamai dengan secuil rasa baper, sebuah pesan singkat datang mengetuk layar HP-ku. Rupanya sahabatku yang baru saja usai orasi meminta maaf dan menyatakan penyesalannya. Dengan tulus ia menjelaskan bahwa beberapa nama, termasuk namaku, terlewati karena keterbatasan waktu saat membaca naskah. Bukan karena dilupakan, melainkan karena keadaan yang tergesa-gesa. Dalam chatnya dilampirkan screenshoot namaku dan istri yang luput dibaca.
Saat membaca pesan singkat itu, aku merasa embun turun perlahan-lahan membasuh dedaunan yang layu. Kecewa yang semula menjelma batu pelan-pelan berubah menjadi pasir yang hanyut bersama aliran sungai. Aku tersenyum. Ternyata prasangka sering kali lebih cepat berlari daripada kebenaran. Hati yang terlalu tergesa-gesa menafsirkan diam, kerap melahirkan luka yang sebenarnya tak pernah disengaja.
Sejak hari itu aku belajar bahwa persahabatan bukanlah tentang seberapa sering nama kita disebut di hadapan manusia, melainkan seberapa tulus nama kita disimpan di dalam doa. Bunga tidak pernah kecewa ketika angin lupa menyebut harum namanya. Ia tetap mekar, tetap mengharumkan taman, karena ia tahu bahwa nilai sejatinya bukan terletak pada tepuk tangan, melainkan pada keikhlasan untuk terus memberi keindahan.
Di penghujung kisah ini, aku hanya ingin menitipkan doa kepada langit. Semoga sababatku, Prof. Mae senantiasa dikaruniai kesehatan yang lapang, umur yang penuh keberkahan, dan kekuatan untuk terus menyalakan pelita ilmu bagi generasi yang akan datang. Semoga gelar profesor yang kini tersemat di pundaknya bukan sekadar mahkota akademik, melainkan mata air yang tak pernah kering mengalirkan kebijaksanaan. Semoga persahabatan yang telah kami rajut sejak bangku kuliah tidak pernah lapuk dimakan waktu, tetapi justru semakin kokoh seperti pohon tua yang akarnya saling menggenggam di dalam bumi, meski ranting-rantingnya menjulang ke arah langit yang berbeda.
Adapun aku, perjalanan ini belum usai. Aku memilih menyimpan kisah kemarin bukan sebagai luka, melainkan sebagai pelita yang menerangi langkah-langkahku. Jika Tuhan mengizinkan, aku pun ingin mengikuti jejak indah itu berdiri di mimbar kehormatan sebagai Profesor Neurolinguistik di Universitas Hasanuddin, bukan untuk meninggikan nama, melainkan untuk mengabdikan ilmu kepada bangsa dan kemanusiaan. Kelak, jika hari itu benar-benar tiba, aku berharap dapat mengenang peristiwa ini dengan senyum yang lebih dewasa. Aku sudah cukup belajar bahwa setiap bunga memiliki musim mekarnya sendiri, dan matahari tidak pernah lupa menyinari bunga yang setia bertumbuh dalam kesabaran. Selamat sahabatku, Bravo Adek “Bondeng!!!![HTB]
Makassar, 1 Agustus 2026
Pk. 08.27 WITA
