M Basri Jafar, kedua dari kanan, tersenyum lebar

Melbourne, awal Juni 2003. Musim dingin baru saja tiba. Bagi Warga Negara Indoensia (WNI), apalagi yang baru saja tiba di Melbourne, tubuh mereka perlu adaptasi dengan cuaca itu. Meski di Indonesia ada juga beberapa daerah yang suhunya dingin, kondisinya berbeda. Dingin di Indonesia masih lembab sedangkan dingin di Australia kering dan menusuk tulang.

Melbourne adalah ibukota Negara Bagian Victoria. Pada 2003, penduduk Kota Melbourne tercatat sekitar 3.5 juta jiwa. Pusat kotanya dikenal dengan nama Central Business District atau CBD. Wilayahnya berbentuk kotak atau grid. Area di luar CBD dikenal dengan nama pinggiran kota, atau suburb. Salah satunya, Footscray, yang terletak di sebelah barat CBD.

Di Footscray, ada sebuah perguruan tinggi yang kala itu bernama Victoria University of Technology (VUT), lalu berubah menjadi Victoria University (VU) pada 2005. Kampus VUT ini diberi nama VUT Footscray Park Campus, karena ia punya beberapa kampus di CBD dan di suburb lain, seperti St Albans dan Werribee.

Seperti halnya kampus pada umumnya di Australia, banyak mahasiswa internasional yang kuliah di VUT, di semua kampusnya yang tersebar itu. Termasuk mahasiswa dari Indonesia. Baik yang kuliah dengan beasiswa, maupun biaya mandiri.

Salah satunya, Muhammad Basri Jafar. Biasa dipanggil pak Basri atau Basri. Dia adalah mahasiswa S-3 yang kuliah di VUT sejak 2002, dengan beasiswa dari Australian Agency for International Development (AusAID). Selama kuliah, Basri bersama istri dan tiga anaknya menempati sebuah flat di Eldridge Street, Footscray.

Basri berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Makassar (UNM). Istrinya, Hudriati, juga dosen di Akademi Ilmu Gizi Indonesia (AIGI) Makassar. Demi mendampingi suami dan mengurus ketiga anaknya, Hudriati sementara istirahat mengajar dan tinggal di Australia selama masa pendidikan suami. Meski demikian, Hudriati bukan murni Ibu Rumah Tangga (IRT). Selama di Melbourne, dia mencari kesibukan dengan bekerja paruh waktu di beberapa tempat. Seperti di toko warehouse Savers (Footscray), lalu di hotel Saville on Russel (Melbourne City).

Pada 2002-2004, kediaman mereka sering jadi tempat pertemuan para mahasiswa Indonesia. Terutama di malam-malam hari saat mereka mencoba berbagi informasi bagaimana bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan hasil yang bagus. Juga sebagai tempat silaturahmi dan perkenalan bagi mahasiswa Indonesia yang baru datang di VUT.

Di suatu malam awal Juni 2003, Basri duduk bersama beberapa mahasiswa baru di ruang tamunya. Para mahasiswa itu baru beberapa hari di Australia. Seorang rekan Basri, yaitu Muhammad Ali Hapsah yang juga mahasiswa S-3 di kampus yang sama, membawa mereka perkenalan dengan’pemimpin’ wilayah.

Pertemuan malam itu diawali dengan makan malam sebagai ucapan selamat datang. Lalu dilanjutkan dengan tukar informasi, meskipun Basri lebih banyak berbicara terkait kehidupan di Australia, masyarakat Melbourne, lingkungan kampus, dan tata cara sosialisasi dengan penduduk lainnya yang berasal dari banyak negara, mayoritas India dan Vietnam.

Gayanya yang berbicara sambil sesekali diselingi tawa khas terkekeh-kekeh membuatnya langsung akrab dengan penduduk baru dari Indonesia. Seketika suasana menjadi cair, dan para mahasiswa baru langsung merasa diterima keberadaannya. Tren ini, sowan ke beliau, menjadi semacam kewajiban tak tertulis bagi mahasiswa baru beberapa tahun setelahnya, sampai selesai kuliahnya dan pulang ke tanah air. For good.

Namun bukan sekadar menerima di rumahnya. Lebih dari itu. Kalau ada mahasiswa baru, keluarga mahasiswa akan datang dari Indonesia, atau mahasiswa yang akan pulang ke Indonesia, mobilnya selalu siap untuk menjemput di Bandara Tullamarine. Dan dia selalu luangkan waktunya untuk itu.

Di sini terlihat Basri yang cerdas. Tidak mau pintar sendiri, untuk tugas ini dia menurunkan ilmunya kepada mahasiswa lain. Mulai dari mencarikan mobil murah layak pakai plus bisa dicicil, sampai memastikan sang murid hapal jalanan menuju bandara. Syarat lain, SIM tidak boleh P (provisional/masa percobaan), apalagi L (learner/pemula). Harus full/penuh. Tujuannya tentu saja agar mahasiswa itu bisa langsung ‘ditugaskan’ jika ada yang perlu dijemput atau diantar.

Selama kuliah di VUT, Basri cukup aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Di lingkungan masyarakat Indonesia, dia pernah diundang memberikan sosialisasi tata cara Pemilihan umum sebelum pemilihan Presiden RI 2004.

Di lingkungan mahasiswa Indonesia di VUT, Basri lebih berperan sebagai orang tua, atau pengarah. Bersama mahasiswa lain, dia membentuk organisasi perhimpunan mahasiswa Indonesia yang diberi nama Victoria University Indonesian Students’ Association. Disingkat VUISA. Pimpinan VUISA dijabat oleh seorang presiden. Sebagai presiden pertama VUISA disepakati Muhammad Ali Hapsah. Saat selesai kuliahnya pada 2004, jabatan ini diserahkan ke Ridwan Nasution.

Anggota VUISA rutin mengadakan kegiatan. Seperti rekreasi bersama keluarga. Paling sering di Footscray Park. Selain itu, mereka juga berkumpul dalam satu komunitas mailing list (Milis) Yahoo. Ini bertransformasi di zaman milenial menjadi komunikasi melalui grup WhatsApp VU Alumni Indonesia, yang hingga akhir Juli 2026 anggotanya berjumlah 121 nomor WhatsApp.

Selain VUISA, Basri dan kawan-kawan juga menggagas perkumpulan khusus mahasiswa muslim di Footscray. Dengan mengadopsi nama komunitas pengajian di Brunswick (wilayah sebelah utara CBD dimana banyak muslim dari Indonesia) yang disingkat p-Brunswick, komunitas muslim VUT ini diberi nama p-Footscray. Singkatan dari pengajian Footscray. Ini juga punya Milis Yahoo sendiri.

Sesuai namanya, kegiatan yang paling rutin dan utama adalah pengajian. Ini dilaksanakan di flat mahasiswa secara bergantian setiap awal bulan, setelah salat isya. Penceramahnya, adalah anggota p-Footscray sendiri, bergiliran model khutbah Jumat. Kata Basri, tujuan dari kegiatan ini selain meningkatkan pengetahuan keislaman, juga melatih anggotanya agar nanti kalau sudah pulang ke Indonesia, mereka siap jadi khatib salat Jumat.

P-Footscray ini berafiliasi dengan Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV), yang pada Desember 2004 cukup aktif selama dua pekan menggalang dana di CBD untuk membantu korban gempa di Aceh.

Untuk hubungan dengan mahasiswa di luar VUISA, Basri dikenal sebagai sosok yang memiliki jiwa sosial tinggi. Pintu flatnya selalu terbuka jika ada mahasiswa Indonesia dari kota lain, seperti Sydney, Brisbane, Adelaide, Perth, Wollongong dan Canberra sang ibukota, yang berkunjung ke Melbourne saat liburan kuliah. Kadang mereka menginap sampai beberapa hari.

Basri sendiri saat liburan semester biasa mengajak beberapa mahasiswa Indonesia untuk mencari pekerjaan musiman. Biasanya ada paket pekerjaan di pabrik atau di perusahaan yang bisa dikerjakan dalam beberapa hari. Perusahaan ini meliburkan pegawainya untuk Natal, sehingga ada waktu untuk membersihkan alat-alat yang istirahat beroperasi. Itulah yang dikerjakan Basri dan kawan-kawan. Salah satunya, Cryovac Australia Pty Ltd di Fawkner, sekitar 13 kilometer ke utara dari CBD.

Dan yang yang unik dari sosok Basri adalah jiwa penolongnya yang tinggi, terutama kepada mahasiswa yang masih bujangan. Dia paling rajin menjodohkan mahasiswa. Tentu dengan mahasiswa Indonesia juga. Banyak yang berhasil. Dan langgeng hingga kini.

Tahun 2006 Basri menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia bersama keluarganya. Kembali ke UNM, mengabdi kembali. Mengajar, meneliti, dan kerja sama dengan pihak lain seperti Pemerintah Daerah, memanfaatkan jejaring yang sudah terbentuk. Salah satunya dengan Pemerintah Kabupaten Paser, Basri mengadakan kerja sama dalam banyak hal. Seperti kajian untuk mengukur keberhasilan pendidikan gratis (2014), dan peningkatan Sumber Daya Manusia dengan pelatihan bagi guru-guru Bahasa Inggris (2015).

Juni 2026 beredar berita di grup WhatsApp VUISA bahwa Basri sedang dirawat intensif di sebuah Rumah Sakit di Makassar. Dan di penutup bulan, Jumat 31 Juli 2026, pukul 08.14 Wita, di Rumah Sakit Primaya Makassar, Basri berpulang, menghadap Yang Maha Kuasa. Allahummag firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Semoga Allah Swt., mengampuni segala kesalahan dan kekhilafan beliau.

Secara bersamaan pohon elm dan oak kehilangan seluruh daunnya di musim gugur dan musim dingin, VUISA kehilangan sosok yang rendah hati dan ramah. Selamat jalan Prof.

Paser, Kalimantan Timur, 31 Juli 2026

(Visited 17 times, 18 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.