Nov 3, 2026 · @Emiliano dos Santos
Kata Pengantar
Setiap tahun pada tanggal 2 November, Gereja Katolik merayakan Hari Arwah Semua Orang Beriman, yang di Timor-Leste kita kenal sebagai Finadu. Meski hari ini hadir dalam kehidupan kita, sebagian orang belum memahami dengan baik apa yang ingin Gereja tunjukkan kepada kita: Finadu bukanlah hari untuk berkumpul dengan makanan dan minuman, melainkan hari doa bagi saudara-saudari kita yang telah meninggal.
Artikel ini berusaha menjelaskan makna sebenarnya dari Finadu, alasan pemurnian di Api Penyucian, cara kita dapat menolong jiwa-jiwa, syarat memperoleh indulgensi penuh, serta pesan bagi umat terkasih. Dengan demikian, kita dapat merayakan Finadu sesuai iman Katolik yang benar.
1. Makna sebenarnya Hari Finadu
Untuk memahami arti Hari Finadu dengan benar, kita perlu mengerti maknanya: pada Hari Arwah Semua Orang Beriman, 2 November, Liturgi Suci memperingati umat beriman yang telah meninggal dengan cara istimewa.
Santo Odilo menetapkan “Pesta Arwah” dalam kalender liturgi Cluniac, untuk memberi umat kesempatan khusus berdoa bagi orang-orang yang telah meninggal, agar mereka dibantu memperoleh berkat surgawi.
Sejak masa Cluny, peringatan ini menyebar di kalangan umat hingga masuk ke dalam kalender liturgi Gereja, dan menjadi devosi yang lazim di seluruh dunia Katolik. Kini Finadu juga dirayakan di Timor-Leste, karena mayoritas orang Timor beragama Katolik, dan iman Katolik telah menjadi budaya kita untuk percaya kepada Allah serta mengikuti ajaran Yesus.
Finadu ini diperuntukkan bagi jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian, supaya mereka dibebaskan dan masuk ke dalam Surga.
Oleh karena itu, Finadu bukanlah untuk:
- berpesta pora atau menyuguhkan makanan kepada arwah;
- meletakkan sirih pinang untuk arwah;
- meletakkan tuak untuk arwah.
Sebaliknya, Finadu adalah saat kita mengangkat doa kepada Allah, supaya jiwa-jiwa di Api Penyucian dibebaskan dan masuk ke dalam Surga.
2. Mengapa Gereja Katolik menghormati arwah
Dalam ajaran Gereja Katolik, umat menghormati arwah umat beriman yang telah meninggal karena kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan peralihan menuju kehidupan kekal bersama Allah.
Penghormatan kepada arwah bukan berarti menyembah orang yang sudah meninggal. Ada dasar iman, kasih, dan harapan Kristiani di balik tradisi tersebut.
a. Karena ikatan kasih tidak terputus oleh kematian
Gereja Katolik percaya bahwa hubungan kasih antara mereka yang masih hidup dan mereka yang telah meninggal tidak berakhir karena kematian. Kita tetap mengenang, mengasihi, dan mendoakan mereka.
b. Karena kita percaya akan kehidupan kekal
Yesus sendiri berkata:
“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yoh.11:25)
Kematian bukan akhir segalanya. Kita percaya bahwa Allah menyediakan kehidupan kekal bagi umat-Nya.
c. Karena kita mendoakan arwah
Umat Katolik mendoakan mereka yang telah meninggal agar, melalui belas kasih Allah, mereka memperoleh pemurnian dan akhirnya menikmati kebahagiaan surgawi. Hal ini berkaitan dengan ajaran tentang api penyucian (Purgatorium).
d. Karena menghormati mereka adalah bentuk kasih dan penghargaan
Kita mengenang jasa, pengorbanan, teladan hidup, dan kebaikan orang-orang yang telah mendahului kita. Mengunjungi makam, menyalakan lilin, berdoa, dan merayakan Ekaristi bagi arwah merupakan ungkapan iman dan kasih.
e. Karena kita percaya pada persekutuan para kudus
Dalam iman Katolik dikenal istilah Communio Sanctorum atau Persekutuan Para Kudus. Artinya, seluruh umat beriman tetap dipersatukan dalam Kristus, baik mereka yang masih berziarah di dunia, yang sedang dimurnikan, maupun yang telah menikmati kemuliaan surgawi.
Apakah menghormati arwah sama dengan menyembah mereka? Tidak.
- Menyembah (Latria): hanya ditujukan kepada Allah.
- Menghormati (Dulia): diberikan kepada para kudus.
- Penghormatan khusus kepada Bunda Maria (Hyperdulia): sebagai Bunda Allah, tetapi bukan penyembahan.
Renungan singkat
“Kematian boleh memisahkan kita secara fisik, tetapi kasih tidak pernah kehilangan tempatnya di hadapan Tuhan. Mereka yang telah mendahului kita tidak dilupakan. Nama mereka tetap hidup dalam kenangan, doa, dan kasih kita. Sebab dalam Kristus, kehidupan tidak berakhir oleh kematian.”
Inilah makna terdalam penghormatan terhadap arwah dalam Gereja Katolik: bukan menyembah orang yang telah meninggal, melainkan mengasihi, mengenang, mendoakan, dan menyerahkan mereka kepada kerahiman Allah.
3. Pemurnian yang diperlukan untuk masuk Surga
Kita tahu bahwa Gereja Katolik itu satu. Hal ini kita doakan dalam Syahadat.
Namun, anggota Gereja tidak semuanya berada di sini bersama kita; mereka berada di tempat yang berbeda-beda, seperti dikatakan Konsili Vatikan II: sebagian “masih berziarah di dunia, sebagian lagi, setelah kehidupan ini, menjalani pemurnian, dan sebagian lain akhirnya menikmati kemuliaan” (Lumen Gentium, 49).
Antara dunia dan Surga, sering terjadi tahap perantara berupa pemurnian dalam perjalanan jiwa-jiwa beriman. Sebagaimana diajarkan Katekismus Gereja Katolik, ini diperuntukkan bagi “mereka yang meninggal dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, tetapi belum dimurnikan secara sempurna“. Karena itu, “setelah kematian mereka menjalani pemurnian, supaya memperoleh kekudusan yang diperlukan untuk masuk ke dalam sukacita Surga” (no. 1030).
Santo Gregorius Agung menjelaskannya dalam Dialog-nya:
Mengenai dosa-dosa ringan tertentu, kita harus percaya bahwa sebelum Penghakiman ada api penyucian, sebagaimana ditegaskan oleh Dia yang adalah Kebenaran, ketika Ia berkata bahwa barang siapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, baik di zaman ini maupun di zaman yang akan datang (Matius 12:31).
Dari ayat ini kita dapat memahami bahwa sebagian dosa dapat diampuni di zaman ini, sedangkan sebagian lainnya di zaman yang akan datang.
4. Mari kita menolong jiwa-jiwa yang diberkati
Kita tidak boleh hanya memikirkan nasib pribadi kita sendiri, tetapi juga bertanya kepada diri sendiri: bagaimana kita dapat menolong jiwa-jiwa yang sedang menantikan pembebasan? Mereka tidak dapat berbuat apa-apa untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak dapat memperoleh jasa dan bergantung pada kita.
Sungguh, berdoa bagi mereka adalah karya belas kasih yang indah dan berharga: dalam arti tertentu, tidak ada orang yang lebih membutuhkannya daripada mereka.
Kebiasaan mendoakan arwah orang yang meninggal berasal dari Perjanjian Lama. Beberapa Bapa Gereja juga menganjurkan praktik ini, seperti Santo Sirilus dari Yerusalem, Santo Gregorius dari Nyssa, Santo Ambrosius, dan Santo Agustinus. Karena itu, pada abad ke-13, Konsili Lyon mengajarkan:
Jiwa-jiwa memperoleh manfaat dari bantuan doa umat beriman yang masih hidup, yaitu kurban Misa, doa, sedekah, dan karya-karya kesalehan lain yang menurut aturan Gereja biasa dipersembahkan umat beriman satu bagi yang lain.
Tidak diragukan, devosi kepada jiwa-jiwa yang diberkati di Api Penyucian sungguh indah! Devosi ini berkenan kepada Allah dan juga bermanfaat bagi kita, karena membawa kita pada dimensi Kristiani yang sejati dari keberadaan kita, memungkinkan kita hidup dalam kontak dan persekutuan dengan yang adikodrati dan masa depan, dalam arti kata yang seluas-luasnya. Jiwa-jiwa malang itu akan sangat berterima kasih ketika menerima pertolongan kita!
Terakhir, saya ingin menyampaikan satu usul kepada para pembaca terkasih: doakanlah jiwa-jiwa yang membutuhkan itu, persembahkan Misa bagi mereka, berilah sedekah untuk mereka, lakukanlah kurban, dan ajaklah orang lain menjadi pengabdi yang bersemangat bagi jiwa-jiwa yang diberkati. Tahukah kita siapa yang akan memperoleh manfaat terbesar? Kita sendiri!
5. Indulgensi penuh pada Hari Arwah Semua Orang Beriman
Indulgensi ini hanya dapat diterapkan bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian.
Pada tanggal 2 November, ketika Gereja merayakan Hari Arwah Semua Orang Beriman, umat Katolik yang dengan saleh mengunjungi gereja atau kapel dapat menerapkan indulgensi penuh bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian. Indulgensi dapat diperoleh pada Hari Arwah itu sendiri atau, dengan persetujuan Uskup, pada hari Minggu sebelum atau sesudahnya, atau pada Hari Raya Semua Orang Kudus. Indulgensi ini tercantum dalam Konstitusi Apostolik Indulgentiarum Doctrina, norma nomor 15.
Syarat memperoleh indulgensi penuh:
- Mendoakan Bapa Kami, Aku Percaya, Salam Maria dan Kemuliaan sesuai intensi Bapa Suci.
- Menerima Sakramen Tobat.
- Menyambut Komuni Kudus (Ekaristi).
Dengan satu kali Sakramen Tobat saja, seseorang dapat memperoleh beberapa indulgensi penuh. Namun, untuk setiap indulgensi penuh diperlukan satu kali Komuni dan satu kali doa sesuai intensi Sri Paus.
Ketiga syarat ini dapat dipenuhi beberapa hari sebelum atau sesudah pelaksanaan perbuatan yang ditentukan. Namun, lebih baik jika Komuni dan doa sesuai intensi Bapa Suci dilakukan pada hari perbuatan itu dilaksanakan. Umat beriman boleh menambahkan rumus doa lain sesuai kesalehan dan devosi masing-masing.
6. Pesan untuk umat terkasih
Umat terkasih harus memahami dengan baik apa itu Hari Finadu: didirikan di mana, oleh Santo yang mana, dan tentang apa. Kita harus belajar dengan baik. Jika tidak, kita akan berkeliaran ke semua gunung, dan sebagian mengalami kecelakaan motor dan mobil karena ngebut agar cepat sampai di makam, lalu buru-buru kembali lagi ke tempat lain.
Salib besar yang didirikan Gereja di pemakaman, kita datang ke sana untuk berdoa saja; Allah sudah mengetahuinya. Tidak perlu berlari sampai ke gunung: di gunung tidak ada Gereja dan tidak ada Misa. Sungguh disayangkan, tahun ini kita tidak merasakan Hari Finadu dan tidak ikut serta dalam Finadu. Ini menunjukkan bahwa kita bukan anak-anak Katolik sejati.
Gereja menetapkan Hari Finadu agar kita pergi mengikuti Misa, bukan malah lari ke gunung. Apa yang dicari dengan lari ke gunung? Kita tidak boleh diam saja seperti ini. Kita, sebagai anak-anak Katolik, harus memahami hal ini dengan baik: bukan berkeliaran ke gunung, membeli barang-barang mahal untuk berpesta pora bagi arwah.
Arwah tidak makan ikanmu, ayam potongmu, tuakmu, dan tidak mengunyah sirih pinangmu. Arwah hanya membutuhkan doa kita; hanya doa yang dapat membebaskan mereka dari Api Penyucian menuju Surga.
Yesus sendiri datang ke dunia ini, Dialah sendiri yang bersabda. Ia berkata bahwa di sana tidak ada lagi kunjungan satu sama lain. Surga tidak bisa pergi ke Neraka, dan Neraka tidak bisa datang ke Surga. Ini Yesus sendiri yang mengatakannya, bukan orang lain, dan kita harus menimbangnya baik-baik sebelum menanggapi. Yesaya pun mengatakan bahwa banyak iblis sudah ada di dunia ini untuk menyesatkan orang; karena itu, sebelum percaya dan menanggapi, kita harus menimbang dengan baik terlebih dahulu.
Kesimpulan
Hari Finadu itu sederhana namun agung: hari untuk mengenang, mendoakan, dan mengasihi orang-orang yang telah meninggal melalui doa. Kita tidak perlu menghabiskan uang untuk barang-barang mahal atau berlari ke gunung; yang dibutuhkan arwah adalah doa, Misa, sedekah, dan perbuatan baik kita. Doalah yang membebaskan jiwa-jiwa dari Api Penyucian menuju Surga. Karena itu, marilah kembali kepada iman yang benar: menghadiri Misa, berdoa di pemakaman, dan mengikuti Finadu dengan teguh. Dengan demikian kita tidak hanya menolong jiwa-jiwa, tetapi juga hidup sebagai anak-anak Katolik sejati, dan suatu hari nanti jiwa-jiwa itu pun akan mendoakan kita.✯ Amin ✯

Versaun Tetum
☆ FINADU–Loron Klamar Sira Hotu Nian ☆
Nov 3, 2026 · @Emiliano dos Santos
Prefásiu
Kada tinan, iha 2 Novembru, Igreja Katólika selebra Loron Klamar Hotu nian, ne’ebé iha Timor-Leste ita hatene nu’udar Finadu. Maske loron ida-ne’e prezente iha ita nia moris, balu seidauk komprende didi’ak saida mak Igreja hakarak hatudu ba ita: Finadu laós loron atu hamutuk ho hahan no hemu, maibé loron orasaun nian ba ita nia maluk sira ne’ebé mate ona.
Artigu ida-ne’e husi parte lubuk atu esplika signifika loloos Finadu, razaun purifikasaun iha Purgatóriu, oinsá ita bele tulun klamar sira, kondisaun atu hetan induljénsia plenária, no mensajen ba sarani doben sira. Nune’e, ita bele selebra Finadu tuir fiar Katólika nian ne’ebé loos.
1. Signifika loloos Loron Finadu
Atu define loloos Loron Finadu, ita tenke komprende signifikadu ida-ne’e: iha Loron Klamar Hotu nian, 2 Novembru, Sagrada Liturjia komemora sarani matebian sira ho maneira espesiál.
Santu Odilio institui “Festa Matebian sira-nian” iha kalendáriu litúrjiku Cluniac nian, hodi fó ba sarani sira oportunidade espesiál atu intersede ba matebian sira, hodi tulun sira atu hetan Bendisaun Lalehan nian.
Husi Nasaun Cluny ba oin, komemorasaun ida-ne’e habelar iha sarani sira nia leet to’o hatama iha kalendáriu litúrjiku Igreja nian, sai devosaun kostumeiru iha mundu Katólika tomak. Ohin loron, Finadu mós selebra iha Timor-Leste, tanba ita Timor-oan maioria Katólika, no fiar Katólika sai ita nia kultura atu fiar ba Maromak no halo tuir doutrina Jesus nian.
Finadu ne’e dedika ba klamar sira ne’ebé terus iha Purgatóriu, atu sira bele hetan liberdade no tama iha Lalehan.
Tanba ne’e, Finadu laós atu:
- se bikan ka hatur hahan ba matebian;
- tau bua-malus ba matebian;
- tau tua ba matebian.
Maibé Finadu ne’e hasa’e ita nia orasaun ba Maromak, atu klamar sira iha Purgatóriu bele hetan liberdade no tama iha Lalehan.
2. Tanba sá Igreja Katólika hakruk ba matebian sira
Iha ensinu Igreja Katólika nian, sarani sira hakruk ba klamar fiar-na’in matebian sira tanba mate laós rohan husi moris, maibé pasajen ba moris eternu ho Maromak.
Hakruk ba matebian la signifika hader ema ne’ebé mate ona. Iha tradisaun ida-ne’e iha baze fiar, domin no esperansa Kristaun nian.
a. Tanba ligasaun domin la kotu husi mate
Igreja Katólika fiar katak relasaun domin entre sira ne’ebé moris hela no sira ne’ebé mate ona la hotu tanba mate. Ita kontinua hanoin, hadomi no harohan ba sira.
b. Tanba ita fiar ba moris eternu
Jesus rasik hatete:
“Ha’u mak Moris-Hikas no Moris; ema ne’ebé fiar ba Ha’u, maske mate, sei moris.” (Jo. 11:25)
Mate laós rohan ba buat hotu. Ita fiar katak Maromak prepara moris eternu ba nia povu.
c. Tanba ita harohan ba matebian sira
Sarani Katólika sira harohan ba sira ne’ebé mate ona, atu liu husi Maromak nia mizerikórdia, sira hetan purifikasaun no ikusmai goza kontentamentu Lalehan nian. Ida-ne’e liga ho doutrina kona-ba Purgatóriu.
d. Tanba hakruk ba sira ne’e forma domin no respeitu
Ita hanoin hikas sira nia serbisu, sakrifísiu, ezemplu moris no di’ak husi ema sira ne’ebé la’o ona molok ita. Vizita simeteriu, sunu lilin, harohan, no selebra Ekaristia ba matebian sira mak espresaun fiar no domin.
e. Tanba ita fiar ba komuñaun Santu sira nian
Iha fiar Katólika iha termu Communio Sanctorum ka Komuñaun Santu sira nian. Ida-ne’e signifika katak fiar-na’in hotu hakbesik hamutuk iha Kristu: sira ne’ebé sei peregrinu iha mundu, sira ne’ebé hetan purifikasaun, no sira ne’ebé goza ona glória Lalehan nian.
Hakruk ba matebian hanesan adora sira ka? Lae.
- Adora (Latria): ba Maromak de’it.
- Hakruk/Respeitu (Dulia): fó ba Santu sira.
- Respeitu espesiál ba Inan Maria (Hyperdulia): nu’udar Inan Maromak nian, maibé laós hader.
Reflesaun badak
“Mate bele fahe ita fíziku, maibé domin nunka lakon fatin iha Maromak nia oin. Sira ne’ebé la’o ona molok ita la haluha. Sira nia naran sei moris iha ita nia hanoin, orasaun no domin. Tanba iha Kristu, moris la hotu tanba mate.”
Ida-ne’e mak signifikadu ne’ebé klean liu husi hakruk ba matebian iha Igreja Katólika: laós adora ema mate, maibé hadomi, hanoin, harohan, no fó sira ba Maromak nia mizerikórdia.
3. Purifikasaun nesesáriu atu tama Lalehan
Ita hatene katak Igreja Katólika ne’e ida de’it. Ida-ne’e mak ita reza iha Kredu.
Maibé Igreja nia membru sira la’ós hotu-hotu iha ne’e iha ita nia leet; sira iha fatin oioin, hanesan Konsíliu Vatikanu II hateten: balun «sai peregrinu iha rai, sira seluk, hafoin moris ida-ne’e, hetan purifikasaun, no seluk tan, ikusmai, hetan glória» (Lumen Gentium, 49).
Entre rai no Lalehan, faze intermédiu ida purifikasaun nian akontese beibeik iha viajen klamar fiél nian. Hanesan Katesizmu Igreja Katólika nian hanorin, ida-ne’e mak ba “sira ne’ebé mate iha grasa no amizade Maromak nian, maibé la purifika ho perfeitu, liu“. Tanba ne’e, «depoizde sira mate, sira halo purifikasaun atu bele hetan santidade ne’ebé presiza atu tama iha ksolok Lalehan nian» (no. 1030).
Saun Gregório Magnu esplika iha ninia Diálogu sira:
Kona-ba sala ki’ik balu, presiza fiar katak, molok Tesi-Lia, iha ahi ne’ebé hamoos, tuir Nia ne’ebé Lia-loos afirma bainhira Nia hatete katak se ema ruma ko’alia aat Espíritu Santu, ema ne’e sei la hetan perdaun iha era ida-ne’e ka iha era ne’ebé sei mai (Mateus 12:31).
Husi fraze ne’e, ita bele komprende katak sala balun bele hetan perdua iha era ida-ne’e, maibé seluk iha era ne’ebé sei mai.
4. Mai ita tulun klamar sira ne’ebé hetan bensaun
Ita labele hanoin de’it kona-ba ita nia destinu pesoál rasik, maibé mós husu ba ita nia an rasik: oinsá ita bele tulun klamar sira ne’ebé hein daudaun libertasaun? Sira labele halo buat ida ba sira nia an rasik, tanba sira labele hetan méritu no depende ba ita.
Loos duni, intersede ba sira mak obra mizerikórdia nian ida furak no folin-boot: iha sentidu ida, la iha ema ida ne’ebé presiza liu fali sira.
Lisan atu harohan ba matebian nia klamar mai husi Testamentu Tuan. Padre Igreja nian balu mós promove prátika ida-ne’e, hanesan Saun Cirilo husi Jeruzalén, Saun Gregório husi Nyssa, Saun Ambrósio, no Saun Agostinho. Tanba ne’e, iha sékulu XIII, Konsíliu Lyons nian hanorin:
Klamar sira hetan benefísiu husi sufrájiu sira fiar-na’in moris nian, katak sakrifísiu Missa nian, orasaun sira, esmola no obra sira seluk piedade nian, ne’ebé, tuir lei sira Kreda nian, fiar-na’in sira toman atu oferese ba malu.
La iha dúvida, furak tebes devosaun ba klamar sira ne’ebé hetan bensaun iha Purgatóriu! Nia agradável ba Maromak, no liután, nia mós fó benefísiu ba ita, hodi lori ita ba dimensaun sarani loloos ezisténsia nian, hodi permite ita atu moris iha kontaktu no komuñaun ho sobrenaturál no futuru, iha sentidu tomak liafuan nian. Klamar kiak sira ne’e sei agradese tebes ba ita bainhira simu ita nia tulun!
Ikus liu, ha’u hakarak hato’o proposta ida ba doben lee-na’in sira: harohan ba klamar ne’ebé presiza sira ne’e, hasa’e Misa ba sira, fó esmola ba sira, halo sakrifísiu, no enkoraja ema seluk atu sai devotu fervorozu ba klamar beata sira. Ita hatene sé mak sei hetan benefísiu boot liu? Ita-boot!
5. Induljénsia plenária iha Loron Klamar Hotu nian
Induljénsia ida-ne’e bele aplika de’it ba klamar sira iha Purgatóriu.
Iha loron 2 Novembru, bainhira Igreja selebra Loron Klamar Hotu nian, fiar-na’in Katólika sira ne’ebé ho piedade vizita igreja ka oratóriu ida bele aplika induljénsia plenária ba klamar sira iha Purgatóriu. Induljénsia bele hetan iha Loron Klamar Hotu nian rasik ka, ho Bispu nia konsentimentu, iha Domingu molok ka depois, ka iha Solenidade Santu Hotu nian. Induljénsia ida-ne’e inklui iha Konstituisaun Apostólika Indulgentiarum Doctrina, iha norma númeru 15.
Kondisaun atu hetan induljénsia plenária:
- Reza Ami Aman, Kredu, Ave Maria no Glória ba Santu Padre nia intensaun sira.
- Halo Konfisaun sakramentál.
- Simu Komuñaun Eukarístika.
Ho Konfisaun sakramentál ida de’it, ema bele hetan induljénsia plenária oioin. Maibé ho Komuñaun Eukarístika ida-idak no orasaun ida-idak ba Amlulik Boot nia intensaun sira, ema bele hetan induljénsia plenária ida.
Kondisaun tolu ne’e bele kumpre loron balun antes ka hafoin hala’o serbisu ne’ebé prevee ona. Maibé di’ak liu atu Komuñaun no orasaun ba Santu Padre nia intensaun sira hala’o iha loron ne’ebé hala’o serbisu. Fiar-na’in sira bele aumenta fórmula seluk ruma ba sira nia orasaun, tuir sira nia piedade no devosaun.
6. Mensajen ba sarani doben sira
Sarani doben sira tenke hatene didi’ak saida mak Loron Finadu: hari iha ne’ebé, hosi Santu ida ne’ebé, no konaba saida. Ita tenke aprende didi’ak. Se ita la aprende didi’ak, ita rungu-ranga malu ba hotu foho, no balu hetan dezastre husi motór no kareta tanba super halai makas atu lalais ba rai, hodi lalais fila mai tan ba fatin seluk.
Kruz boot ne’ebé Igreja harii iha Simeteriu, ita ba iha ne’ebá halo orasaun de’it; Maromak hatene ona. Laós presiza halai to’o foho: iha foho la iha Igreja no la iha Missa. Kuitadu, tinan ne’e ita la sente Loron Finadu no ita la partisipa Finadu. Ida-ne’e hatudu katak ita laós Katólika-oan.
Igreja halo Loron Finadu ne’e atu ita ba Missa, laós halai fali ba foho. Halai ba foho ne’e buka saida? Ita labele hela de’it hanesan ne’e. Ita, nu’udar Katólika-oan, tenke hatene didi’ak ida-ne’e: laós halai rungu-ranga ba foho, sosa buat karun-karun hodi se bikan ba matebian.
Matebian la han o nia ikan, o nia ayam potong, o nia tua, no la mama o nia bua ho malus. Matebian presiza de’it ita nia orasaun; orasaun de’it mak bele liberta sira husi Purgatóriu ba Lalehan.
Jesus rasik mai iha mundu ne’e, Nia rasik mak koalia. Nia hatete katak iha ne’ebá la iha ita atu vizita malu. Lalehan labele ba Inferno, no Inferno labele mai Lalehan. Ida-ne’e Jesus mak koalia, laós ema ida seluk, no ita tenke tetu didi’ak molok hatur hahan. Isaias mós hatete katak diabu barak iha ona mundu ne’e hodi babeur ema; tanba ne’e molok atu fiar no hatur hahan, tenke tetu didi’ak lai.
Konkluzaun
Loron Finadu ne’e simples maibé boot: loron atu ita hanoin, harohan no hadomi malu ho matebian sira liu husi orasaun. Ita la presiza gasta osan ba buat karun-karun ka halai ba foho; buat ne’ebé matebian presiza mak ita nia orasaun, Misa, esmola no obra di’ak sira. Orasaun ne’e mak liberta klamar sira husi Purgatóriu hodi tama iha Lalehan. Tanba ne’e, mai ita fila ba fiar loloos nian: ba Misa, ba Simeteriu atu harohan, no hola parte iha Finadu ho laran-metin. Ho nune’e, ita la’ós de’it tulun klamar sira, maibé mós moris nu’udar Katólika-oan loloos, no iha loron ida, matebian sira mós sei harohan ba ita. *Amen*
by Aldo Jlm (EdoSantos’26)
