Oleh: Imam Abdullah El-Rashied

Tawa yang sejenak meledak-ledak dalam sanubari, terhapus oleh rintik-rintik yang memenuhi hati. Benar apa yang disabdakan Sang Nabi:

«إِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابٍعٍ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ».

“Sesungguhnya hati anak-anak Adam semuanya berada di antara dua jemari (kekuasaan) Tuhan seperti satu hati, Dia membolak-balik sesuai kehendak-Nya.” HR. Ahmad (no. 6569), Muslim (no. 2654) & Daruquthni (29).

Dari situlah Beliau berdo’a sebagaimana kelanjutan dari hadits di atas:

«اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ».

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, letakkanlah hati kami dalam ketaatan kepada-Mu.”

Tak ayal, gelak-tawa yang terbingkai dalam senyum yang menghias muka, bisa lenyap dalam sekejap mata.

Sekitar sepuluh tahun silam, ada satu bait yang aku dengar dari guruku Habib Novel Al-Athos, beliau menyadur perkataan Imam Abdullah Al-Haddad (W. 1132 H) dalam Qosidah Ilzam Baba Robbik:

اَلَّذِيْ لِغَيْرِكْ لَا يَصِلْ إِلَيْكْ * وَالَّذِيْ قُسِمْ لَكْ حَاصِلٌ لَّدَيْكْ

“Yang ditakdirkan untuk selain kamu, tak kan sampai kepadamu. Dan yang menjadi bagianmu, akan kamu dapatkan.”

Memahami makna dari bait ini memang sangat mudah, tapi untuk memantapkan hati menerima segala keputusan takdir, bukanlah perkara yang mudah.

Dalam hal ini aku ingin mengutip kisah cinta teman dari temanku yang kala itu baru saja pulang dari Yaman. Suatu ketika dia diundang ke suatu acara menjadi Pemberi Mau’idzoh Hasanah. Selesai memberikan ceramah, dia dibawa masuk ke rumah ketua panitia.

Setelah selesai ramah-tamah dan menyantap makanan yang dihidangkan, Sang Pemilik rumah bertanya apakah Ustadz tersebut sudah menikah atau belum? Jika belum, apakah sudah memiliki tunangan? Ternyata Ustadz muda tersebut belumlah memiliki tunangan. Kesempatan ini tak ingin dilewatkan oleh Pemilik rumah, akhirnya beliau menawarkan anak perempuannya yang ternyata merupakan cinta pertama Sang Ustadz.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Menikahlah Sang Ustadz dengan gadis yang ia cintai sejak dahulu kala. Jauh dari apa yang ia bayangkan, ternyata istrinya juga memendam rasa yang sama kepadanya sejak lama. Allah… Alangkah indah takdir cinta yang digariskan kepada mereka berdua.

Rasulullah saw bersabda:

«لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ».

“Tidaklah kami melihat (hal yang lebih baik) bagi dua orang yang saling mencintai seperti nikah.” HR. Ibn Majah (no. 1837).

Imam Muhammad Bin Hadi As-Sanadi (W. 1138 H / 1726 M) mengomentari hadits ini dalam Hasyiah Sunan Ibn Majah (4/104):

“وَالْمَعْنَى أَنَّهُ إِذَا كَانَ بَيْن اِثْنَيْنِ مَحَبَّة فَتَلِك الْمَحَبَّة لَا يَزِيدهَا شَيْء مِنْ أَنْوَاع التَّعَلُّقَات بِالتَّقَرُّبَاتِ وَلَا يُدِيمهَا مِثْل تَعَلُّق النِّكَاح فَلَوْ كَانَ بَيْنهمَا نِكَاح مَعَ تَلِك الْمَحَبَّة لَكَانَتْ الْمَحَبَّة كُلّ يَوْم بِالِازْدِيَادِ وَالْقُوَّة وَفِي الزَّوَائِد إِسْنَاده صَحِيح وَرِجَاله ثِقَات وَاَللَّه أَعْلَم.”

“Maknanya adalah: Sesungguhnya ketika ada cinta antara dua orang, maka rasa cinta itu tidak akan bertambah dalam hal relasi dan kedetakan dan tidak bisa dilestarikan sepertihalnya hubungan nikah. Makanya, andai ada ikatan pernikahan di antara keduanya, maka kecintaan itu setiap harinya akan bertambah dan menguat. Disebutkan dalam Az-Zawaid sanad hadits ini Shahih dan para perowinya Tsiqoh (terpercaya). Wallahu A’lam.”

Itulah keindahan cinta pada sepasang kekasih yang sekian lama saling mendamba, meski dalam diam, hingga akhirnya kehalalan mengikat keduanya dalam sebuah janji yang suci.

Hanya saja, tak semua orang dapat bersama dengan orang yang ia cinta. Ada kalanya cinta bertepuk sebelah tangan, atau saling mencinta namun tak bisa hidup bersama.

Seorang teman dekat, setelah menyelesaikan kuliahnya di Yaman, ia mengajar di sebuah Madrasah Ibtida’iyah. Karena prestasinya yang cukup gemilang, tak lama ia diangkat menjadi Wakil Kepala Madrasah. Di madrasah tersebut yang mengajar bukan hanya utsadz-ustadz saja, tapi juga ustadzah.

Suatu ketika ada Ustadzah baru yang turut mengajar di Madrasah tersebut. Melihat akhlaknya, cara bergaulnya, dan terlebih parasnya, temanku jatuh cinta kepada Ustadzah baru tersebut. Ia selaku Wakil Kepsek sering mengecek KBM di setiap kelas, tak luput kelas yang sedang diajar Ustadzah baru juga ia masuki.

Ada cinta yang menjalar di sekujur nadinya. Hanya saja ia terhalang keraguan untuk melamar Ustadzah itu. Terlebih Ibunya mensyaratkan agar calon menantunya sebisa mungkin jangan berasal dari daerah dekat Madrasah tersebut, agar rumahnya kelak tak terlalu jauh dari rumah Ibunya.

Akhirnya, temanku pun dipilihkan seorang gadis yang secara akhlak banyak yang memujinya. Dia juga seorang Ustadzah di salah satu Madrasah di kampung halaman temanku tersebut. Bahkan, gadis itu adalah tetangga rumahnya. Ia pun setuju dengan pilihan Sang Ibu. Akan tetapi, selang seminggu setelah lamaran berlangsung (tanpa sepengetahuan rekan-rekan pengajar lainnya), salah seorang Ustadzah yang sudah berkeluarga mengabarkan temanku bahwasannya Ustadzah yang baru itu mencintainya sejak awal kenal.

Entah bagaimana kecamuk rasa yang bergolak di dalam dadanya. Ternyata, gadis yang selama ini ia cintai turut mempunyai rasa yang sama. Hanya saja tak ada orang yang tahu bahwa mereka selama ini saling mencintai sepenuh hati dan jiwa.

“Andai saja kau mengabariku sebulan yang lalu, mungkin jalan ceritanya akan berbeda.” Ucap temanku kepada Ustadzah yang yang memberinya kabar yang menyenangkan sekaligus menyesakkan.

Terkadang, dua insan tercipta untuk saling mencinta namun tak ditakdirkan bersama. Bahkan, untuk berusaha ke arah bersama pun tidak terbayangkan. Yah, begitulah cinta, tak ada yang bisa menebak dan tak ada yang bisa mengatur selain Penciptanya. Dari situlah Ibn Hazm (w. 456 H/1063 M) menyebutkan dalam Thouqul Hamamah-nya: “Cinta tidak diingkari dalam agama, tak pula haram dalam Syari’at. Sebab hati ada dalam genggaman Allah swt”.

Tak beda jauh pemaparan Ibn Hazm, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi (W. 1434 H/2013 M) mengungkapkan dalam kitabnya Minal Fikr Wal Qolb saat beliau ditanya tentang apa hukum cinta dalam Islam? Beliau menjawab: “Islam tidak menghukumi apa-apa tentang cinta. Sebagaimana Islam tidak menghukumi kebencian, kesedihan, rasa takut dan rasa lapar. Maka dari itu cinta juga tidak dihukumi apa-apa oleh Islam. Islam tak pernah berkata: “Jangan lapar, jangan membenci, jangan mencintai”. Akan tetapi Islam berkata: “Kalau kau lapar, jangan mencuri. Kalau kau membenci, jangan mendzolimi. Dan, jika kau mencintai janganlah menyeleweng (dari Agama).” Dari sini bisa kita simpulkan, Islam tidaklah menghukumi perasaan. Akan tetapi Islam menghukumi reaksi dari perasaan itu.”

Masih dalam kitab yang sama, Dr. Buthi menuturkan setelah panjang lebar membahas cinta adalah siksa:

“Adakah di dunia ini siksaan yang membawa kebahagiaan melebihi cinta? Apakah manusia pernah mendengar tentang sebuah api yang tiap kali berkobar dan tersebar justeru membuat yang terbakar semakin menikmati selain Api Cinta?”

“Apakah kau belum mendengar kisah Qais Al-Amiri (Majnun) ketika ia dan ayahnya pergi ke Baitullah setelah Qais putus asa untuk mendapatkan Laila. Ia berharap agar dido’akan mendapatkan kesembuhan dari cinta kepada Laila, dan berharap agar do’a itu dikabulkan. Ketika Ayah Qais tiba di Ka’bah ia berkata: “Bergantunglah pada kain penutup Ka’bah dan mintalah kepada Allah agar menyembuhkanmu dari cinta Laila.” Qais lantas bergantung pada kain Ka’bah, hanya saja ia malah berdo’a: “Wahai Allah tambahlah kecintaanku pada Laila dan jangan Kau buat aku melupakannya selamanya.”

*

Ada seseorang yang sangat begitu aku kenal. Dia menaruh hati pada seorang gadis jauh sebelum dia ke Yaman. Setelah menyelesaikan masa belajarnya, dia memutuskan untuk menikah. Ketika dalam masa memilih calon istri, ada seseorang yang mengabarkannya bahwasanya gadis yang ia cintai juga mencintainya sejak lama. Alangkah bahagianya kala ia mendengar kabar itu. Namun, selukis tawa yang menghiasi wajahnya tertutup oleh mendung nestapa. Hujan kesedihan pun tiba-tiba membasahi hatinya. Ada apa gerangan?

Saat itu ia ingin segera mencari tau bagaimana kabar gadis yang ia cintai dan mencintainya selama ini dalam diam. Seperti petir yang menyambar di siang bolong. “Besok adalah hari akadnya.” Begitulah kabar yang ia dapat.

“Kenapa kabar gembira yang baru saja aku dapatkan, harus terhapus oleh hujan duka?” Ucapnya meratapi nasibnya yang begitu malang.

Ketika menemui penolakan dalam cinta, bisa jadi hati begitu lega menerima. Toh dia tak ada rasa. Tapi, ketika ada seseorang yang kau cintai juga mempunyai rasa yang sama, dan kau mengetahuinya setelah dia menyebar undangan, rasanya, hati seperti diiris-iris, tapi tak berdarah.

Mungkin, puisi berikut ini cukup bisa menggambarkan sedikit tentang kegundahan hatinya, meski demikian kita tak tahu seperti apa sesak yang memenuhi dadanya:

Hari ini, tak terkira betapa hati tenggelam dalam gembira
Aku dengar kau begitu mencintaiku
“Cinta dalam diam”
Begitu mereka menyebutnya
Lantas, untuk dua hati yang saling mencinta
Apa lagi yang perlu ditunda?
Sayang, kabar itu disusul duka
Esok adalah hari yang sangat istimewa
Dan, sejak itulah namamu tak layak aku bahas lagi, untuk selamanya, meski hanya dalam do’a.
Semoga kau bahagia dengannya.

*

Akan tetapi, seseorang yang aku kenal baik tersebut tak ingin meratapi kisah sedih yang ia alami sebagaimana Qais meratapi cintanya yang tak sampai pada Laila dalam berbait-bait syair. Meskipun pada hari itu ia sempat tidak khusyuk dalam Shalat karena dua hal, yang pertama karena begitu gembira memikirkan gadis yang turut mencintainya, yang lantas disusul kesedihan karena cinta itu harus berakhir sebelum adanya usaha.

Merenungi nasibnya, Pemuda itu teringat sebuah syair yang digubah oleh Qais yang Majenun pada Laila:

وَإِنِّيْ إِذَا صَلَّيتُ وَجَّهْتُ نَحْوَهَا * بِوَجْهِيْ وَإِنْ كَانَ الْمُصَلَّى وَرَائِيَا
وَمَا بِيَ إِشْرَاكٌ وَلَكِنَّ حُبَّهَا * كَعُوْدِ الشَجَى أَعْيَا الطَّبِيْبَ الْمُدَاوِيَا
أُصَلِّيْ فَمَا أَدْرِيْ إِذَا مَا ذَكَرْتُهَا * ثِنْتَيْنِ صَلَّيتُ الضُّحَى أَمْ ثَمَانِيَا

“Sesungguhnya ketika aku shalat, aku hadapkan wajah kepada Laila, meskipun Mushalla (Qiblat) berada di belakangku.”
“Bukannya aku syirik, akan tetapi cintanya itu seperti penyakit kesedihan yang tak mampu diobati dokter (yang mahir sekalipun).”
“Aku mendirikan shalat, akan tetapi ketika mengingat Laila aku tak tahu, apakah 2 atau 8 rakaat Shalat Dhuha yang aku lakukan.”

Akan tetapi, bagi seorang pemuda yang terbiasa dihujani panah nestapa sepertinya, mungkin hatinya sudah kebal dengan luka yang bertubi-tubi datang tanpa jeda.

Sejenak pemuda tersebut memejamkan mata, melantunkan potongan Ayat 216 Surat Al-Baqarah:

(وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Lantas, dengan hati yang lapang, Pemuda tersebut memanjatkan munajat dari kutipan syair yang digubah oleh Imam Abdullah Al-Haddad dalam Qosidah Qod Kafani yang setiap hari ia baca ketika duduk di bangku kelas 5 Madrasah Diniyah dulu:

حَاجَةً فِي النَّفْسِ يَا رَبْ * فَاقْضِهَا يَا خَيْرَ قَاضٍ
وَأَرِحْ سِرِّيْ وَقَلْبِيْ * مِنْ لَظَاهَا وَالشَّوَاظِ
بِسُرُوْرٍ وَحُبُوْرٍ * وَإِذَا مَا كُنْتَ رَاضٍ
فَالْهَنَا وَالْبَسْطُ حَالِيْ * وَشِعَارِيْ وَدِثَارِيْ

“Hajat dalam diri ini duhai Tuhanku, kabulkan lah wahai Dzat Sebaik-Baik Pengkabul.”
“Tenangkan lah gejolak hati dari kobaran api nafsu, dengan bahagia dan gembira.”
“Dan, jika Kau sudah rela, maka keadaanku akan tenang dan nyaman, begitu juga lahir dan batinku.”

Yah, saat ini Lengan Takdir sedang ingin mendekap dirinya dengan sebegitu kuatnya. Keteguhan demi keteguhan sedang dibudidayakan dalam ladang hatinya. Tiada pilihan baginya selain rela dalam dekapan takdir cinta.[]

(Visited 438 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.