Perjalanan legislasi kami ke Kantor DPRD Konawe Selatan beberapa hari lalu terkait kerja-kerja DPRD sekaligus menjajaki berbagai potensi daerah yang bisa dikembangkan, menyimpan catatan ringan yang menarik di share ke publik. Saya mengatakan catatan ringan, karena kesannya ringan tapi sesungguhnya sangat berat. Dikatakan ringan karena saya mengawali dengan ceritan santai tentang makanan ringan ala bugis bernama “Pisang Epek”.

Sepulang dari kunjungan kerja lintas komisi di Konawe Selatan bersama dengan teman-teman, kami sempatkan singgah di Pantai Kendari yang pemandangannya eksotis. Sepanjang pantai berjejer pedagang kaki lima yang berjualan aneka makanan khas Bugis. Ada pisang epe rasa durian, rasa keju, coklat, kacang dan makanan lainnya.

Kami bertiga melihat ada tempat yang masih kosong, dan langsung duduk beralaskan karpet merah ditemani bantal sambil menikmati pemandangan teluk Kendari yang indah. Sesaat kemudian, penjual datang dan menyapa kami dengan sopan, “Pak kita mau makan apa dengan logat Bugis Soppeng”.

Saya langsung berbicara Bugis, “Iyee ndi, pisang epe rasa keju dan sarabba telur ayam kampung”. Tidak lama menunggu pesanan kami datang dibawah oleh pelayan. Kami bertiga mencoba menikmati pisang epe dan sarabba telur ayam kampung Pantai Kendari sambil sesekali menagada menyaksikan hamparan langit biru sebiru air laut yang tenang tanpa riak.

Sambil mengagumi indahnya Pantai Kendari dan nikmatnya pisang epek, tiba-tiba teringat perjalanan kami tadi pagi menuju Konawe Selatan yang terhalang dua jam karena akses jalan tertutup oleh aksi demonstrasi “emak-emak tangguh” menuntut perbaikan jalan yang rusak parah.

Catatan ringan ini seketika terasa menjadi berat seberat beban emak-emak menyesali jalan kampungnya rusak parah. Melihat antusiasme emak emak dalam menyampaikan aspirasinya, hati kecilku berkata, inilah sebenarnya juga bagian dari perjuangan kami untuk mendorong terciptanya rasa keadilan dan pemerataan pembangunan antara pusat, provinsi dan daerah kabupaten.

Otonomi daerah tinggal cerita, yang ada otoriter dan sentralisasi kata salah seorang demonstran. Hatiku berkecamuk, kesabaranku terusik, dan berpikir bahwa andaikan para pahlawan bangsa melihat ketimpangan sosial, ketidakadilan ekonomi, hukum dan politik ini, mungkin mereka akan bangkit kembali dan berteriak merdeka atau mati.

Ah, Indomesiaku, dari Pantai Kendari kami merenung tentangmu yang memeiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tidak sampai hati melihat emak-emak harus turun ke jalan teriak-teriak meminta perbaikan jalan kampungnya. Walau lidahku menikmati enaknya pisang epe, tapi pikiranku tersihir, jiwaku terbakar narasi demonstran emak-emak yang menuntut keadilan ekonomi. Aku jadi menikmati pisang epe rasa demonstran.

(Visited 131 times, 1 visits today)
2 thoughts on “PISANG EPEK RASA DEMONSTRAN”
  1. Catatan ringan ini seketika terasa menjadi berat seberat beban emak-emak menyesali jalan kampungnya rusak parah. Duhai…..fakta!
    Macam mana itu pisang epe rasa demonstran? Kalau ke Jakarta bawa yaaa…hehehe. Tulisan ringan tetapi memang berat dilaksanakan programnya. Bravo Bang Sabrie!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.