Di hari ini, saya bersyukur atas terbitnya buku “Senam Jiwa”. Walaupun hanya sebagai penulis kedua, buku ini menjadi sangat istimewa.
Jika di awal Bang Ruslan Ismail Mage (RIM)-Founder Bengkel Narasi-mengajak saya untuk menggulirkan gerakan “Kado Buku untuk Sahabat”, maka buku ini adalah kado saya untuk beliau. Namun, buku ini bukan kado untuk sahabat, melainkan kado untuk kakak terbaik, meski kami tidak memiliki hubungan darah.
Mungkin Bang RIM tidak sepopuler motivator lain. Mungkin Bang RIM tidak memiliki banyak ekspertise seperti para trainer yang gelar certified-nya berderet panjang. Justru sangat kontras, saya tidak pernah melihat Bang RIM mencantumkan gelar doktor di depan namanya.
Sejak kenal Bang RIM, saya sudah tidak begitu tertarik pada “jualan ludah” para motivator. Mungkin narasi mereka bombastis, tetapi ujung-ujungnya penawaran kelas pelatihan. Berbeda dengan Bang RIM, semua dia lakukan tanpa pamrih. Bahkan, beliau cenderung mengedepankan orang lain dan mengabaikan dirinya sendiri.
Apa yang Bang RIM katakan sebagai manajemen satu rasa adalah riil. Ketika saya senang, beliau pun turut senang. Ketika saya kesulitan, beliau pun merasa sulit. Tidak heran jika ada beberapa sahabat di Bengkel Narasi sangat menyayanginya. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa rasa sayang dan hormatnya ibarat sumpah dunia akhirat.
Kanda, setahun mengenalmu adalah hari-hariku melatih jiwa. Kanda, kau adalah kakak terbaik. Kanda, buku ini kado untukmu. []





Apa yang kang iyan rasakan itupun kami rasa ttg Bang RIM… Sukses N sehat selalu kang iyan…mat milad kang 🙏🏻🙏🏻🙏🏻