kota makassar

A.Prolog

Pemuda merupakan masa emas dalam siklus hidup manusia. Sejarah mencatat, di setiap revolusi suatu negara pasti ada sumbangsih yang signifikan yang diberikan oleh pemuda.

Menurut Hasan Al Banna seorang tokoh pergerakan Mesir bahwa di setiap kebangkitan pemudalah yang menjadi pilarnya, di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya, bahkan menurut DR.Yusuf Qardhawi ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas.

Makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi.” – Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie.

Tan Malaka pun juga mendeskripsikan pemuda sebagai agent of change dengan idealismenya. Beliau berkata bahwa idealisme merupakan kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.

Peran pemuda di masa depan Dari penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa pemuda mempunyai beban sejarah yang berat dipundaknya. Aksi 66, Malari 74, dan reformasi 98 adalah serangkaian tragedi tragedi yang diinisiasikan pemuda dalam perjuangannya memperbaiki bangsa. Lalu pertanyaan besarnya adalah apa yang harus dilakukan oleh pemuda pada saat ini?.

Terdapat situasi yang sangat berbeda di setiap fase perjuangan pemuda di negeri ini. Perjuangan sumpah pemuda pada waktu itu adalah ingin menggalang persatuan di setiap kalangan pemuda di tanah air. Aksi 66 merupakan perjuangan untuk mengakhiri kediktatoran dan totalitarianisme Soekarno.

Malari 74 merupakan perlawanan terhadap rezim orde baru dan reformasi 98 merupakan puncak akhir dari rezim Soeharto yang otoriter.

Sekarang kita sudah berada dalam suasana iklim yang baru. Iklim yang lebih bebas, demokratis, dan, mengedepankan hak-hak asasi manusia. Iklim yang mengharagi suatu perbedaan. Oleh karena itu, pemuda harus bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal. Ladang perjuangan sangat banyak sekali dan terbuka lebar.

Perjuangan tidak hanya di bidang politik saja, tetapi juga di bidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dll. Pemuda dituntut untuk lebih kreatif dalam perjuangannya jangan sampai dalam perjuangannya, pemuda tidak adaptif dalam mengahadapi perubahan zaman sehingga malah ditelan oleh peradaban.

B. Filosofis Pemuda Indonesia

Peranan pemuda dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia memang bersifat dominan dan monumental. Di era pra-kemerdekaan maupun di era kemerdekaan, pemuda selalu tampil dengan jiwa kepeloporan, kejuangan, dan patriotismenya dalam mengusung perubahan dan pembaharuan.

Karya-karya monumental pemuda itu dapat ditelusuri melalui peristiwa bersejarah antara lain; Boedi Oetomo (20 Mei 1908) yang kemudian diperingati sebagai Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda(28 Oktober 1928), Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945), transisi politik 1966, dan Gerakan Reformasi 1998.

Peristiwa lahirnya Boedi Oetomo 1908 menjadi bukti bahwa pemuda Indonesia memiliki inisiatif untuk mengubah peradaban bangsanya. Ketika itu, menyaksikan metoda perjuangan kemerdekaan yang masih mengandalkan sentimen kedaerahan (etnosentrisme), pemuda berinisiatif untuk mengubah strategi perjuangan kemerdekaan dalam konteks peradaban yang lebih maju, yakni dengan memasuki fase perjuangan berbasis kesadaran kebangsaan (nasionalisme), untuk menggantikan semangat kedaerahan yang bersifat sporadis dan berdimensi sempit.

Pada peristiwa Sumpah Pemuda 1928, pemuda kembali menunjukkan perannya sebagai pengubah peradaban bangsa. Sumpah Pemuda merupakan fase terpenting yang dicetuskan pemuda dalam prosesi kelahiran nation-state Indonesia.

Secara prinsip, Sumpah Pemuda merupakan kesepakatan sosial (social agreement) dari segenap komponen rakyat demi melahirkan entitas “Indonesia”. Hal mana disusul oleh kesepakatan politik Para Pendiri Bangsa berupa Proklamasi Kemerdekaan 1945 yang melahirkan negara Indonesia merdeka yang berbasiskan pada platform dasar: NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 alinea ke IV yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Di setiap babak sejarah bangsa ini, pemuda selalu berusaha mempertahankan idealisme kejuangan dan militansi gerakannya. Seusai kemerdekaan, pemuda secara konsisten tetap berikhtiar dan berperan dalam menentukan hitam-putihnya masa depan negeri ini.

Di era pembangunan yang ditandai oleh beberapa kali pergantian rezim kekuasaan, pemuda menunjukkan bargaining position yang kuat, termasuk ketika Indonesia memasuki era transisi demokrasi bernama gerakan reformasi. Sejarah pergerakan nasional telah membuktikan bahwa pemuda memiliki posisi dan peran strategis dalam mengubah peradaban bangsanya.

Pemuda yang punya filosofi inilah yang akan melanjutkan perjuangan
bangsa, bukan pemuda tanpa filosofi. Pemuda tanpa filosofi di sini
mengacu kepada golongan pemuda yang sekedar mencari karir politik untuk
kehidupan pribadi, termasuk keturunan para elit tua yang sedang berkuasa
sekarang ini. 

1). Potensi

Manusia bisa menciptakan masa depan yang gemilang dengan karya dan segenap kekuatan yang terpendam di masa kini.

Potensi-potensi yang terdapat pada generasi muda yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut :

1). Idealisme dan Daya Kritis

Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada, sehingga ia dapat melihat kekurangan dalam tatanan dan secara wajar mampu mencari gagasan baru. Pengejawantahan idealisme dan daya kritis perlu dilengkapi landasan rasa tanggung jawab yang seimbang.

2). Dinamika dan Kreativitas

Adanya idealisme pada generasi muda, menyebabkan mereka memiliki potensi kedinamisan dan kreativitas, yakni kemampaun dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan, dan penyempurnaan kekurangan yang ada ataupun mengemukakan gagasan yang baru.

3). Keberanian Mengambil Resiko

Perubahan dan pembaharuan termasuk pembangunan, mengandung resiko dapat meleset, terhambat atau gagal. Namun, mengambil resiko itu diperlukan jika ingin memperoleh kemajuan.

Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha-usaha yang mengandung resiko. Untuk itu diperlukan kesiapan pengetahuan, perhitungan, dan keterampilan dari generasi muda sehingga mampu memberi kualitas yang baik untuk berani mengambil resiko.

4). Optimis dan Kegairahan Semangat

Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda merupakan daya pendorong untuk mencoba lebih maju lagi.

5). Sikap Kemandirian dan Disiplin Murni

Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi dengan kesadaran disiplin murni pada dirinya agar mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.

6). Terdidik

Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kualitatif maupun dalam arti kuantitatif, generasi muda secara relatif lebih terpeljar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi pendahulunya.

7). Keanekaragaman dalam Persatuan dan Kesatuan.

Keanekaragaman generasi muda merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan eksklusif.

Akan tetapi, keanekaragaman masyarakat Indonesia merupakan potensi dinamis dan kreatif jika ditempatka dalam kerangka integrasi nasional yang didasarkan pada semangat sumpah pemuda serta kesamaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

8). Patriotisme dan Nasionalisme

Pemupukan rasa kebanggaan, kecintaan, dan turut serta memiliki bangsa dan negara dikalangan generasi muda perlu digalakkan karena pada gilirannya akan mempertebal semangat pengabdian dan kesiapan mereka untuk membela dan mempertahankan NKRI dari segala bentuk ancaman.

Dengan tekad dan semangat ini, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional.

9). Sikap Kesatria

Kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang tinngi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan dikalangan generasi muda Indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan bagi masyarakat dan bangsa.

10). Kemampuan Penguasaan Ilmu dan Teknologi

Generasi muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi bila secara fungsional dapat dikembangkan sebagai Transformator dan Dinamisator terhadap lingkungannya yang lebih terbelakang dalam ilmu dan pendidilkan serta penerapan teknologi, baik yang maju, maupun yang sederhana.

Kompetensi

kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Definisi kompetensi yang dipahami selama ini adalah mencakup penguasa terhadap 3 jenis kemampuan, yaitu: pengetahuan (knowledge, science), keterampilan teknis (skill, teknologi) dan sikap perilaku (attitude). Kompetensi haruslah dimaknai kembali sebagai pengembangan integritas pribadi yang dilandasi iman yang kuat sebagai fondasinya(SQ), baru kemudian dapat membangun hubungan yang tulus/ikhlas dengan sesama (EQ), dan akhirnya barulah penguasaan IPTEK melalui IQ bisa bermanfaat untuk membangun bisnis yang etis dalam rangka mencapai tujuan kemakmuran bersama bagi para stakeholders, tidak hanya untuk kepentingan ego pribadi.

.

C.  Kesimpulan

Pada  kenyataan ini, diperlukan penataan kehidupan pemuda sehingga mereka mampu memainkan peranan yang penting dalam masa depan sekalipun disadari bahwa masa depan tersebut tidak berdiri sendiri.

Masa depan adalah lanjutan masa sekarang, dan masa sekarang adalah hasil masa lampau. Dalam hal ini, pembinaan dan pengembangan generasi muda haruslah menanamkan motivasi kepekaan terhadap masa datang sebagai bagian mutlak masa kini.

Kepekaan terhadap masa datang membutuhkan pula kepekaan terhadap situasi-situasi lingkungan untuk merelevansikan partisipannya dalam setiap kegiatan bangsa dan negara. Untuk itu, kualitas kesejahteraan yang membawa nilai-nilai dasar bangsa merupakan faktor penentu yang mewarnai pembinaan generasi muda dan bangsa dalam memasuki masa datang.

Masa depan suatu bangsa terletak di tangan pemuda atau generasi mudanya sebab merekalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa. Oleh karena itu, generasi muda perlu diberi bekal berupa ilmu pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan zaman, serta tetap menjaga budaya bangsanya.

Pembangunan tidak akan berjalan dengan lancar, bila manusia-manusianya tidak mau giat bekerja. Oleh karena itu, pada hakikatnya pembangunan adalah penggantian yang lama dengan yang baru, yang telah diperhitungkan dengan keadaan sekitarnya, maka mahasiswa selaku generasi muda berkewajiban untuk ikut serta dalam derap pembangunan.

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)

Dr. Sudirman, S.Pd.,M.Si

Sosialisasi dan Pendidikan Politik bagi Pemuda    se Kota Makassar

(Visited 30 times, 1 visits today)

By Sudirman Muhammadiyah

Sudirman Muhammadiyah, sebagai nama pena, medsos dan politik identitas publik, mengenal denting suara di sebuah kampung di Kabupaten Soppeng, tepatnya di CennoE, Formal pendidikan dasar, menengah diselesaikan di Kabupaten Soppeng, (SMPM Belo dan SMAN 2) Jenjang Strata 1 (PPKn, PIPS FKIP UVRI 90), Magister Sains (Sosiologi UNHAS 1999), Doktoral (Sosiologi UNM, 2010). 1). Skripsi : Relevansi Hak Asasi Manusia dengan Hukuman Mati di Indonesia (Tahir, Lopa,& Mulyani Rasyid). 2). Tesis : Peran Elit Adat dalam Pengembangan Partai Politik di Sulawesi Selatan Pasca Orde Baru (Prof.Tahir Kasnawi & Asmaun Azis). 3). Disertasi :Perilaku Pilitik Elit Lokal (Studi Fenomenologi Elit Adat pada Pilkada Kabupaten Soppeng) |Prof.Dr.Tahir Kasnawi & Prof. Dr. Andi Agustang. Aktivitas pengkaderan Formal,| HMI|PMR|AMII| Perfilman | Karang Taruna Sulawesi Selatan (Wakil Ketua) KAHMI|Pengurus INKADO Sulsel|Pengurus PARFI Sulsel|Figuran Sinetron TBNH| Film Sunset in Pantai Losari|Mentor Menulis|Bengkel Narasi Politik: Biro Cendikiawan| Wakil Sekretaris| Wakil Ketua| di Partai Golkar Sulawesi Selatan |Caleg DPRD Sulsel. Resign dunia politik sejak 2014.fokus dunia akademik sebagai dosen senior di Fakultas FKIP UPRI |dosen LB| Universitas Terbuka (UT)|Stikes Megaresky| pascasarjana UMI| Karier Akademik, Dosen Tetap Yayasan FKIP UPRI Makassar, Kepala Biro Keuangan UVRI, Sekjur PIPS UVRI, Ketua Jurusan PIPS FKIP UPRI,|Ketua LPM UPRI Makassar|Kepala Lab.Pengkajian Study Pendidikan Pancasila FKIP UPRI |Serdos 2012|Asessor Nasional Sosiologi 2021| Narsum : Sosialisasi 4 Pilar |MPR RI. |Tim Ahli Balai Senator Dr. H. Ajiep Padindang, SE., MM. |Pengampu Mata Kuliah: • Filsafat Pancasila • Filsafat Hukum • Sosiologi Hukum • Sosiologi Politik • Sosiologi Pendidikan • Pendidikan Anti Korupsi (PAK) Demi sebuah Pengabdian. 1305 SDM. Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: