Dimana pertamakali tahun 2013 saya sempat mengunjungi pulai Muna ini yang hanya sampai di Raha, sebagai ibu kota Kabupaten Muna. Saat ini saya bergeser kearah barat menuju kabupaten pemekaran baru, itulah Muna Barat, ditemani dua orang pemuda hebat dari Kolaka Utara Fajerullah dan Udin BJ, kami menapakkan kaki hari Minggu tanggal 18 Oktober 2020 pukul 16.08 Wita setelah menghabiskan malam diatas kapal Uki Raya 23.
Menerobos gelapnya pagi, dan hangatnya suasana berbincang dengan driver, kembali membuat saya jatuh cinta dengan keramahan penduduk di kabupaten yang untuk kedua kalinya kutapaki ini.
Perjalanan yang kami lalui kurang lebih sejam. Tujuan kami bertiga menuju Muna Barat adalah untuk mengunjungi acara pernikahan La Liasi. Desa Tembe tempat tinggalnya, yang katanya warga sekitar tembe itu artinya (tawar) maksudnya adalah airnya yang tawar, karena disana terdapat satu pusat mata air yang memang airnya tawar, dan hanya dengan cukup menggali lubang 5-10 meter kita sudah menemukan sumber mata air, begitu kata warga yang kuajak berbincang pagi itu.
Dua sosok pemuda yg kuajak berpoto adalah La Akbar, yang usianya 15 tahun dan duduk dibangku kelas 2 Smp Negeri Sinar Surya Desa Kembar Maminasa Kecamatan Maginti dan La Hasan yang juga kelas 1 Smp di sekolah yang sama. Mereka tiap harinya menempuh perjalanan 30 menit untuk sampai sekolah.
Anak muda yang kelak akan menjadi cikal bakal lahirnya peradaban baru, di Desa Tembe Muna Barat. Nantikan kisahnya 10-15 tahun kedepan, semoga jejak langkah akan kembali mengunjungi tempat tersebut.
Katanya mereka bersekolah sejak awal semester tahun 2020 dan saat kutanya salah seorang warga disana, tentang bagaimana corona disini, jawabanya singkat padat dan jelas. Katanya corona tidak sampai disini.
Hehehe jawaban yang mengelitik.
Tidak kutelusuri lebih jauh jawaban tersebut tapi yang pasti bahwa sebagian orang yakin kalau covid-19 bukan lagi menjadi penghalang untuk mereka melakukan aktifitas baik itu sekolahnya para siswa maupun aktifitas masyarakat setempat ditempat tersebut.
