Oleh: Sumardi

Perjalananan Solo ke Purbalingga lewat Pantai Utara Jawa atau Pantura adalah sesuatu yang aneh dan tidak lazim pada dua atau tiga tahun yang lalu. Tetapi tidak aneh dalam kondisi saat ini. Biasanya dari Solo ke Purbalingga ditempuh melalui Yogyakarta, Purworejo dan Kebumen, Banyumas baru Purbalingga. Itu adalah rute normal jarak terpendek yang biasa dilalui oleh para traveller atau masyakat umum lainnya. Dengan mengubah rute melalui Pantura maka waktu yang ditempuh terpangkas lebih dari tiga jam untuk saat ini.  Tentu saja hal itu dapat dilakukan melalui aksel tol Solo-Semarang-Tegal. Alhamdulillah nikmat hasil pembangunan infrastruktur jalan yang terus digeber oleh pemerintah, sudah banyak dinikmati oleh masyakat awam termasuk kami pada perjalanan kali ini.     

Perjalanan dari Solo ke Semarang via tol dapat memangkas waktu satu setengah jam lebih dari perjalanan biasanya. Demikian juga perjalanan melalui ruas jalan tol Semarang ke Pemalang juga dapat memangkas waktun juga hampir satu setengah jam dari perjalanan via rute umum. Pada sisi kanan dan kiri jalan tol terlihat pemandangan bukit, gunung yang indah serta hamparan sawah dengan padi mulai menguning menambah nikmatnya pandangan mata. Benar-benar mata dimanjakan oleh suasana alami pedesaan, kampung-kampung nan elok dan asri lengkap dengan segala kearifan lokalnya. Kontras dengan pemandangan keseharian yang kami alami di Kota besar Jakarta. Kanan kiri disuguhkan dengan padatnya hutan beton seakan mereka saling berhimpit dan berlomba menunjukkan keangkuhannya untuk mencakar langit.    

Keluar dari ruas tol keluar Pemalang menuju Purbalingga sudah disuguhkan dengan hijaunya persawahan di kanan dan kiri jalan umum. Terus menyusuri jalan memasuki sebuah desa bernama Bantarbolang kami bertemu dengan pemandangan sungguh menakjubkan mata. Dengan sedikit jalan meliuk, di kanan kirinya terdapat hutan jati yang rimbun seakan ingin mendekap dan menutup  permukaan tanah dari sengatan sang mentari. Suasana begitu teduh, adem dan semilir. Belum lagi di beberapa titik tersedia warung-warung yang menyediakan makanan kecil dan minuman tradisional berbahan baku kelapa muda. Siapapun akan tergoda untuk mampir istirahat sekedar  menghilangkan dahaga selama perjalanan. Luar biasa nikmatnya perjalanan kami saat ini.

Setelah terus menyusuri jalan bertemulah kami Desa Randudongkal dengan jalan terus menanjak mencoba menaiki punggung dan sela-sela bukit.  Sedikit agak terjal namun hal itu tidak terasa karena pemandangan di sekitarnya lebih menggoda mata. Lebih naik lagi sampai di Desa Belik terdapat serombongan binatang primata bermain-main dengan santai dan bebas di pagar hutan. Mereka  seakan menyambut kedatangan kami dengan sesekali mereka bercanda, bersendau-gurau dengan kawan-kawannya. Mereka tidak nakal, mereka tidak mengganggu kami. Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan bagi anak-anak kami yang kesehariannya hidup di kota besar Jakarta.         

Mendekati perbatasan antar Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Purbalingga kami sampai di sentra penghasil Nanas Madu Pemalang. Varian Nanas Madu ini belakangan banyak dijual di Jakarta. Rasanya terkenal manis namun buahnya tidak terlalu besar seperti nanas biasa. Kamipun tergoda untuk merasakan keaslian  Nanas Madu di daerah asalnya yaitu Pemalang. Kami mampir sebentar di warung penjual buah Nanas Madu yang berderet panjang di pinggir jalan. Setelah sedikit tawar-menawar Kamipun membeli beberapa buah untuk dibawa ke kota tujuan. Tidak lupa kami mencicip Nanas Madu tersebut. Ya Allah, Ya Robbi…..ternyata benar, nikmat, segar, dan manis sekali rasanya si Nanas Madu. Sesuai dengan namanya tidak membohongi kami.  

Setelah di perbatasan kami menemukan Desa Karangreja sebagai desa pertama di Kabupaten Purbalingga. Kami melewatu jalan yang terus menurun menunjukkan lembah kota akan segera ditemui yaitu Kota Purbalingga.  Sebuah kota kecil yang bersebelahan dengan kota Purwokerto yang terkenal dengan makanan “keripik dan gethuk goreng dan sroto Banyumas”. Lagi-lagi kami menemukan kenikmatan disini.Dimana-mana aku temukan nikmat-Mu Ya Allah yang sungguh tidak mampu kami menghitungnya.Maka benar firman-Mu, Nikmat apalagi yang kamu Dustakan ?     

Purbalingga, 29 Mei 2021

Penulis : Pegawai BPKP dalam Penugasan sebagai Asisten Komisioner KASN RI

(Visited 40 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sumardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.