Malam itu, aku sempatkan untuk membaca buku-buku pembelajaran sebagai bahan ajar. Tiba-tiba aku mengantuk. Setelah salat Isya, aku langsung rebahan di depan televisi sambil menonton sinetron “Ikatan Cinta”.

Tidak lama kemudian aku tertidur pulas. Mungkin karena kecapaian setelah seharian menghadiri tiga pesta di tempat yang berbeda, bahkan ada yang sampai naik ke puncak gunung karena ada aparat desa mengadakan pernikahan di sana.

Tengah malam aku terbangun. Ternyata suamiku sudah berada di kamar, meninggalkanku sendiri di depan televisi. Aku bangkit dari pembaringan dan masuk kamar.

Suamiku sudah tertidur pulas. Aku pun rebahan di sampingnya dan melanjutkan tidur hingga terdengar suara azan. Kami pun terbangun dan bersiap untuk salat Subuh berjamaah di masjid yang letaknya tepat di samping rumah.

Setelah pulang dari masjid, aku merasa suamiku sedang tidak bagus mood-nya. Seperti marah, tetapi aku tidak tahu apa sebabnya. Saya sempatkan bertanya, “kenapaki kok masuk kamar dan tidur pagi-pagi? Biasanya kita setelah salat menonton atau mencari kesibukan lain,” tetapi tidak ada jawaban.

Seperti biasanya, jika suamiku tidak bicara, itu artinya dia marah. Aku pun kembali menghampirinya di tempat tidur. “Maukikah pergi gotong-royong untuk membakar rumah Aso?” tetap tidak ada jawaban.

Aku mencoba introspeksi diri, “Apa lagi ya salahku?” Namun, aku tidak terlalu khawatir karena memang sudah kebiasaannya begitu jika sedang marah. “Ya sudahlah, entar juga dia baikan jika ada tamu,” pikirku.

Seperti biasa, dalam rumah tangga pasti ada selisih paham. Namun, di dalam hubungan rumah tangga kami ini tidak pernah ada atau belum pernah sekalipun terjadi selisih paham yang lama. Biasanya jika ada tamu, semua membaik seperti semula .

Tetapi kali ini aku yang emosi dan hampir menyerah. “Kenapa ya terjadi seperti ini? Kok harus aku yang selalu harus mengalah dan harus membujuk suami kalau dia marah? Kan aku juga sibuk di tempat kerja, di tempat usaha, dan sekolah. Kapan ya suamiku ini bisa mengerti kalau aku pun kadang merasa lelah?”

Kami sudah menjalani rumah tangga selama 27 tahun dan dikaruniai dua orang putra-putri. Sementara ini memang mereka tidak tinggal bersama kami karena mereka memilih untuk tinggal bersama tantenya agar lebih mudah bersekolah. Namun, mereka tetap dalam pengawasan kami dari jauh. Komunikasi pun tetap lancar .

Praktis aku hanya tinggal berdua dengan suami. Jadi, jika sama-sama marah, kami saling diam dan aku yang harus harus lebh dulu membujuk suami. Entah tindakanku salah atau benar.

Tiba tiba suamiku terbangun dari tempat tidur dan keluar menuju meja tempat biasanya dia minum kopi dan sarapan. Tetap tanpa suara, diam seribu bahasa setelah kembali dari dapur minum air putih.Tak lama kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, mengambil kunci motor, dan pergi meninggalkan rumah.

Aku mulai gelisah karena motor kami hanya satu-satunya. Kebetulan aku mau ke puskesmas untuk menjani vaksinasi COVID-19 yang kedua. Tetapi motor sudah dibawa pergi. Akhirnya aku hanya terdiam merenungi nasib rumah tanggaku.

“Harus bagaimana ini?” Pikiranku mulai melanglangbuana dengan andai-andai seribu satu hal muncul di kepala. Tiba-tina suamiku pulang dan bertanya,”K amu jadi pergi vaksinasi, kah?” Alhamdulillah, akhirnya luluh juga hati suamiku.

Hahaha… cerita ini khayalan dan tidak terjadi di kehidupan nyata. Namun, mungkin ada pelajaran atau hikmah yang bisa kita ambil dari fiksi kehidupan sehari-hari seperti itu. Apalagi jika kisah nyatanya mirip-mirip seperti itu. Ayo, siapa ya? []

(Visited 37 times, 1 visits today)
One thought on “Diammu…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: