sumber gambar google

Pesawat Wings membawa saya terbang selama 47 menit dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandar Udara Sangia Nibandera Kolaka Pomalaa. Saya duduk tepat di kursi sit 12, dan disebelahku duduk seorang Wanita yang namanya Indah saat kami memulai percakapan dengan saling menyapa dan berkenalan.

Indah seperti parasnya yang cantik, dibaluti dengan jilbabnya berpadu memancarkan ciri khas Wanita Menado. Kami banyak berkelakar soal hidup diperantauan. Katanya ia telah lama merantau terpisah jauh dari orang tua dan sanak keluarga. Pergi untuk sebuah pekerjaan ditempat yang jauh dari sanak keluarga. Merantau itu mengasikkan, kita akan tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana tempat akan pulang nanti. Saat kita merantau, kita juga akan tahu bahwa sangat besar rasa sayang ibu, bapak, kakak, adik dan keluarga besar dikampung halaman saat kita pulang kerumah. dan merantau itu sangat banyak mengajarkan bagaimana kecintaan terhadap kampung halaman dan betapa berharganya pulang. Begitu celoteh Indah.

Sesaat kuperhatikan kawan yang baru kukenal ini, ada semraut kesedihan, nestapa dan nelangsa yang terpendam. Yap terkadang mata lebih banyak bercerita daripada bibir. Ia bercerita tentang hadirnya cinta kepada seseorang di tanah rantau. Tidak akan kuceritakan kisah tersebut karena itu akan menjadi cerita pilu tak berujung.

Hidup itu layaknya mengupas bawang, disaat kita mengikuti untuk mendapatkan bagian terbaiknya, terkadang kita mengeluarkan air mata, maka hargailah prosesnya dan berilah satu senyuman, karena satu senyuman bisa merubah keputusan menjadi harapan. Layaknya gembok yang selalu diproduksi bersama dengan anak kunci, layaknya pilu dalam kehidupan, selalu ada solusi. Hanya kita perlu bersabar untuk membukanya dan terbebas dari belenggu pilu tersebut.

Jika mencintai seseorang, cintailah ia apa adanya, bukan karena kamu ingin dia menjadi seperti yang kamu inginkan, karena sesungguhnya kamu hanya mencintai cerminan dirimu dari dirinya. Rasa itu karunia yang bisa datang kapan saja, dan untuk siapa saja serta bisa juga kembai kapan saja karena alasan apasaja. Mintalah pada sang pemberi rasa, agar diberi rasa pada waktu yang tepat, untuk orang yang terbaik dan selalu dikembalikan jika mulai berkurang.

Tidak ada seorangpun yang dapat mengulang awal yang salah, karena yang kuasa maha mengetahui seberapa besar kemampuan kita diuji dalam menyikapi kesalahan dimasa lalu, harapannya adalah memulai hari ini dengan membuat harapan baru. Payung saja tak dapat menghentikan hujan, tetapi dengan payung, kita mampu berdiri dalam hujan tanpa kebasahan. Begitu juga dengan kesabaran, ia mungkin tidak memberi kita kemenangan, tapi ia mampu memberi kita kekuatan untuk menghadapi berbagai cobaan.

Mulai hari ini dengan bahagia secukupnya, sedih seperlunya, mencintai sewajarnya, membenci sekadarnya. Bersyukurlah sebanyak-banyaknya, agar kita menjadi manusia intan yang suskses karena proses, bukan manusia yang instan yang hanya sekadar ingin dapat mudahnya saja. dan yang terpenting yakinlah bahwa semanis-manisnya cinta kepada seorang manusia, akan lebih manis cinta kepada Allah SWT serta ilmu dan pengetahuan.

(Visited 120 times, 1 visits today)
One thought on “Cinta di Tanah Rantau”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.