SARAPAN DENGAN ULASAN KAK ALWY RACHMAN : Idiologi Sepak Bola Tree Lion.

Berawal dari diskusi Piala UERO 2021, saya share tulisan Serba serbi Uero 2021.di Group WA. Political School, tersambut senior yang hobby nonton bola, tadi chat ini berkembang diskusi yang bernas, banyak hal yang terkait dengan sepak bola, dan hasil chat itu di rangkum di edit khusus dari chat kak Alwy Rachman pakar linguistik Unhas.
Salah satu respon teman group
Mungkin di situlah hakekat pepatah yunani kuno kanda Alwi, “menulislah agar membaca berkali-kali” Ludwig Wittgenstein, ahli filsafat analitik bahasa itu menyebutkan “kalau tak ada kata yang dikatakan; senyum itu cukup untuk menghadirkan kehadiran”
Ulasan kak AR tentang kesebelasan andalan saya Tree Lion England.
Di Inggris, sepak bola bukan sekadar permainan bola bundar. Di belakang permainan ini, ada masa lalu yang harus dituntaskan.
Di Inggris, pernah terjadi perang sipil antara Inggris Utara yang diwakili oleh simbol Mawar Merah dengan Inggris Selatan yang menggunakan simbol Mawar Putih.
Perang ini dikenal dengan Wars of Roses. Perang ini menyimpan luka sejarah. Bukan kebetulan jika Manchester ❤️ United dijuluki Setan Merah. Manchester👹🔥 memang adalah wakil wilayah utara Inggris. Wilayah Inggris Selatan mewakili kelompok kaya, sementara wilayah utara mewakili kelompok miskin.
Luka sejarah ini kemudian disublimasi ke arena sepak bola. Di sepak bola, pihak yang kalah di perang mawar bisa “balas dendam”.
Itu sebabnya, ekspresi kekalahan di kalangan football hooliganism sangat ekstrim. Bisa menangis tersedu-sedu kalau kalah.
Jika klub Utara menang, utara merasa balas dendam sudah tuntas. Kalau kalah, luka sejarah dua kali. Jika selatan menang, selatan merasa memang unggul sejak dulu. Jika kalah, selatan merasa dipermalukan.
Jangan lupa. Inggris adalah negara penemu sepak bola. Institusi sepak bola dijadikan wahana penghalusan/penyelesaian konflik.
Jadi, sepak bola bukan sekadar permainan bola bundar. Di belakangnya ada ikutan ideologi.
Sumber : Alwy Rachman
Diberdayakan : sdm
