Oleh: Besse Rismawati
Puluhan tahun silam aku meninggalkanmu. Aku pergi saat hatimu durja, kala hatimu sakit. Aku pun merasakan hal yang sama, karena sakitmu sakitku, bahagiamu bahagiaku, deritamu deritaku, dan senyummu senyumku. Sesungguhnya aku enggan meninggalkanmu dan jauh darimu. Kebersamaan kita di tanah rantau, membuahkan cinta sejati antar sahabat tanpa limit tanpa syarat.
Waktu itu aku meninggalkanmu di tanah rantaun, karena harus kembali ke kampung halamanku di Sulawesi. Harapku engkau akan baik-baik saja menjalani kehidupan bersama keluarga kecilmu di kota Jambi. Namu tidak cukup waktu lama aku pergi, engkau pun pulang ke kampung halamanmu di Riau. Kepulanganmu ternyata tidak bersama keluarga kecilmu, tetapi hanya membawa putri kecilmu yang lucu.
Sahabat, aku tahu luka hatimu, aku tahu airmatamu. Sekelilingmu pasti nyengir melihat kenyataan ini, bahkan tidak sedikit yang menghakimi bahwa engkaulah biangnya. Sabar sahabat, aku mendengarkan apa yang mereka utarakan yang berisi pertanyaan dan pernyataan tentang dirimu. Aku merekam tentangmu sahabat. Itulah yang membuatku merasakan sakit dan lukamu.
Sahabatku, kegagalan memang menyedihkan hati, melukai jiwa dan bisa merampas kreativitas berpikir kita. Sedih dan kecewa dalam kegagalan itu alami dan wajar, yang tidak wajar itu jika kita larut dalam pusaran kegagalan.
Kini engkau telah berdamai dengan kegagalanmu sahabat. Engkau telah bangkit dari ribuan puing-puing luka. Sekarang tinggal percikan puing-puing luka itu yang nampak dimata sang penggunjing yang tidak nampak olehnya.
Sahabatku, benar kata orang bijak bahwa, “di ujung air mata ada senyum indah menanti,” dan engkau telah sampai di ujung penantianmu dengan senyum bahagia itu. Kini engkau telah berbahagia dengan saudara kembar kegagalanmu yang bernama “kesuksesanmu.” Walau kita terpisah oleh jarak yang jauh, terhalang lautan tak bertepi, dan daratan yang terbentang luas di kepulauan Indonesia, tetapi hati kita tetap disatukan dalam lingkaran garis khatulistiwa.
Sahabatku, dalam do’a aku selalu memohon agar kita diberi umur dan waktu untuk bisa kembali bertemu melepas rindu, rindu yang terus membias antara Kepulauan Riau dan Sulawesi. Rasa yang tumbuh dan bersemayam di tanah rantau Jambi. Sahabat, aku terus merawat dan memupuk rindu untukmu.
