Oleh: Ghinda Aprilia
Awal tahun 2020, saya mendapat amanah masker dari Ibu Dr.Hj.Kurniasih Mufidayati, Msi (Komisi IX DPR RI Fraksi PKS) dan juga amanah masker dari Mandiri Amal Insani. Selain itu,di luar dugaan, banyak juga PMI Hongkong yang menitipkan maskernya kepada kami untuk dibagikan. Karena itu, pada saat libur aku dan teman-teman menyiapkan masker untuk kami packing supaya terbagi rata.

Saat itu masker di Hongkong langka, kalaupun ada, harganya sangat mahal. Setelah kami packing, dibagikan ke teman-teman khususnya PMI Hongkong, para petugas kebersihan di sekitar Victoria, satpam dan para lansia. Dengan senang hati saya sebagai Volunteer mendapat tugas mulia ini.
Pertama kali ada Covid-19, bahan-bahan pokok sering kehabisan stok di supermarket. Begitu juga alat-alat pembersih Bleach, Dettol, Sanitizer langka dan mahal. Pemerintah Hongkong sangat tanggap dalam menangani pencegahan penularan Covid-19. Setiap yang berkaitan dengan virus, terlebih varian baru langsung update di stasiun televisi.
Saat genting-gentingnya Covid-19 di Hongkong, kami PMI Hongkong tidak luput dari pantauan pemerintah. Pada saat hari libur kami saat itu hanya boleh berkumpul dengan dua orang, sekarang ini hanya boleh berkumpul empat orang. Setiap saat satpam akan mengecek keadaan kita, bahkan setiap minggu dari berbagai instansi pemerintahan akan sidak. Jika ada melanggar tidak tanggung-tanggung denda $2000. Begitu juga jika keluar rumah tidak memakai masker kecuali saat makan, pasti kena denda.
Jika ada yang terdeteksi kena Covid-19, langsung tanggap. Siapapun yang ketemu atau berhubungan dengan pasien langsung dikarantina. Pernah ada kejadian satu apartemen diisolasi sebagai bukti konsistensi pemerintah menangani penularan virus Covid-19 ini.
Bukti lain perhatian pemerintah terhadap masyarakatnya adalah pengadaan tes swab dan vaksin gratis. Bahkan berita terbaru bagi residen Hongkong yang beruntung ada hadiah bagi yang sudah divaksin. Hebatnya lagi, pemerintah Hongkong juga membagikan tunjangan bagi residen Hongkong sebanyak $5000. Tidak heran jika Hongkong bisa meminimalisir penyebaran Covid-19.
Namun, tidak semua juga orang Hongkong bersedia dites swab dan vaksin, termasuk bossku tempat aku bekerja. Dia pernah keceplosan mengatakan, “Tidak mau dijadikan Kelinci percobaan.” Aku sendiri belum berani kalau vaksin karena masih minum obat diabet. Aku ambil hikmahnya dari Covid-19 ini, yaitu perlu banyak bersyukur. Allah Swt mencintai keindahan (kebersihan), dan saat pandemi ini semua tertutup, kemana-mana pakai masker, selalu sedia Sanitizer, setiap saat cuci tangan.
Saat ini kami turut prihatin dengan kondisi di Indonesia. Setiap buka media sosial (Facebook), berita duka dari orang-orang yang aku kenal telah pergi. Kami di rantau hanya bisa mendoakan, pandemi Covid-19 inj segera berakhir. Aku biasakan sebelum pulang ada doa bersama, semoga Indonesia cepat kondusif. Aamiin.
