Tahun 2026, merupakan tahun yang penuh rahmat, karena dua raksasa umat dunia (Kristen Katolik & Islam), membuka puasa bersama pada tanggal 18 februari 2026. Puasa yang berbeda cara pandang dan aktivasi dari kedua umat raksasa ini, namun bertujuan sama yaitu untuk memurnikan diri, dan kembali ke jalan benar, menjadi orang saleh bagi umat beriman (Kristen Katolik & Islam) di muka bumi ini.
Puasa bagi umat Kristen Katolik, mengikuti puasa Tuhan Yesus Kristus di Padang Gurung selama 40 hari lamanya. Namun para umat Kristen Katolik menfokuskan puasanya pada puasa internal (rohani), daripada puasa eksternal (jasmani).
Bagi umat Islam puasanya betul-betul menjalaninya dengan ikhlas dan tulus menurut ajarannya bahwa, tidak makan dan minum seharian, hanya makan dan minun pada pagi hari dan malam hari saja, selama 30 hari. Puasa ini bagi kami umat Kristen Katolik, hanyalah puasa eksternal (jasmani) saja, tapi tidak berpuasa internal (rohani). Artinya puasa versi Kristen Katolik lebih memilih pada jiwa atau hati, karena tutur kata kita sehari-hari, yang sering melukai hati orang lain.
Dalam Pembukaan Puasa Paus Leo XIV mengajak umatnya, untuk berpuasa selama 40 hari, agar berpuasa atau berpantang berfokus pada jiwa bukan pada jasmani saja. Beliau mengatakan bahwa, “Menjaga hati dan lidak menekankan untuk menghindari godaan kesombongan dengan melakukan puasa yang didasari iman dan kerendahan hati”. Beliau mengajak umatnya untuk melakukanb “abstain” dari kata-kata yang menyakitkan, fitnah, dan menghakimi sesama, serta mengubahnya menjadi kata-kata pengharapan.

Selama 40 hari berpuasa, umat Kristen Katolik melakukan tiga kewajiban mereka yaki: “berdoa, berpantang, dan beramal”. Berikut penulis memberikan tips-tips jitu beramal yang dikenal dengan Empat Belas Karya Belas Kasih.
Belas kasih berarti, kasih Allah yang lembut, baik, dan aktif, yang mengampuni dosa dan meringankan penderitaan manusia, meskipun manusia tidak layak menerimanya.
Empat Belas Karya belas kasih adalah tindakan amal mendasar dalam tradisi Kristen, dibagi menjadi dua kelompok, berjumlah empat belas praktik yang bertujuan untuk membantu orang lain dalam kebutuhan integral mereka.
Karya-karya ini dianggap sebagai “termometer” kehidupan Kristen Katolik, karena mewujudkan kasih persaudaraan dan konfigurasi orang percaya kepada Yesus Kristus. Ketujuh karya belas kasih jasmani (materi) berfokus pada meringankan penderitaan fisik dan kebutuhan dasar, sementara ketujuh karya belas kasih rohani (jiwa) berupaya meringankan penderitaan jiwa dan membimbing roh.
Tujuh Karya Belas Kasih Jasmani
*Karya-karya ini terutama didasarkan pada khotbah Yesus tentang “Penghakiman Terakhir” dalam Matius 25:35-46 di mana Ia mengidentifikasi Diri dengan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita melalui Belas Kasih (Jasmani dan Rohani).
- Memberi makan pada orang yang lapar: Makanan adalah kebutuhan dasar dan kekurangannya merupakan skandal bagi umat manusia. Yesus berkata, “Ketika Karena Aku lapar, dan kamu memberi Aku makan” (Mat. 25:35).
- Memberi minum pada orang yang haus: Mengacu pada akses ke air dan pemuasan rasa haus fisik. “Ketika Aku haus, dan kamu memberi Aku minum” (Mat. 25:35).
- Memberi pakaian kepada orang yang telanjang: Ini melibatkan pemberian pakaian dan memerangi konsumerisme yang merajalela untuk memastikan martabat orang lain. “Ketika Aku telanjang, dan kamu memberi Aku pakaian” (Mat. 25:36).
- Memberi tempat tinggal kepada tunawisma: Menyambut imigran, pengungsi, dan tunawisma. “Ketika Aku adalah orang asing, dan kamu menerima Aku” (Mat. 25:35).
- Menjenguk orang sakit: Hadir dan rawatlah mereka yang menderita sakit atau kesepian di usia tua. “Ketika Aku sakit, dan kamu melihat Aku” (Mat. 25:36).
- Menjenguk para tahanan: Tawarkan belas kasihan dan kehadiran kepada mereka yang dipenjara, tanpa menghakimi. “Ketika Aku di dalam penjara, dan kamu datang kepada-Ku” (Mat. 25:36).
- Penguburan: Pekerjaan ini diambil dari contoh Tobit dalam Perjanjian Lama dan dimaksudkan untuk menghormati martabat tubuh manusia dan menghibur orang yang berduka. “Tobit… menguburkan orang mati” (Tobit 1:20).
Yesus Bersabda: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: “Barangsiapa berbuat baik kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang paling hina ini, ia telah berbuat kepada-Ku” (Mat. 25:40).
Tujuh Karya Belas Kasih Rohani
Berbeda dengan perbuatan jasmani, karya-karya ini berfokus pada pengajaran, penghiburan, dan koreksi, dengan tujuan pengudusan jiwa.
- Mengajar orang yang tidak tahu (menginstruksi): Membagikan pengetahuan tentang iman dan kebenaran. “Karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:19).
- Memberi nasihat yang baik (menasihati): Membantu orang lain yang ragu dan memiliki kesulitan dalam membedakan sesuatu. “Mulut orang benar adalah sumber pengetahuan” (Amsal 10:31).
- Mengoreksi kesalahan (memperingatkan orang berdosa): Melakukan koreksi persaudaraan dengan lemah lembut dan rendah hati. “Jika saudaramu berbuat dosa terhadapmu, pergilah dan beritahukanlah kesalahannya kepadanya secara pribadi, hanya antara kamu dan dia” (Mat. 18:15).
- Menghibur orang yang berduka (menghibur orang yang menderita): Tawarkan empati dan harapan kepada mereka yang sedang menghadapi kesedihan atau depresi. “Datanglah kepada-Ku, semua yang lelah dan berbeban berat… dan Aku akan memberi kamu istirahat” (Mat.11:28).
- Memaafkan luka (Pengampunan yang tulus): Bebaskan diri dari rasa dendam dan carilah rekonsiliasi. “Ampunilah, maka kamu akan diampuni” (Luk. 6:37).
- Dengan sabar menanggung kelemahan orang lain: Menanggung keterbatasan orang lain tanpa mengeluh. “Bersabarlah terhadap satu sama lain dan saling mengampuni” (Kol.3:13).
- Berdoa kepada Allah untuk orang hidup dan orang mati: Doa syafaat adalah tindakan kasih rohani yang berkelanjutan. “Berdoalah untuk satu sama lain, supaya kamu disembuhkan” (Yak. 5:16).
Kesimpulan:
Amal Kasih yang kita buat setiap hari selama kita masih bernafas, yang dirangkum dalam “Empat Belas Karya Belas Kasih”, berdasarkan pada kothbah Yesus mengenai “Penghakiman Terakhir” alias “Penghakiman Dunia Kiamat”.
Allah Bapa di surga yang tak kelihatan, telah ribuan dan jutaan tahun mengingatkan kita sebagai citraNya di dunia ini, untuk berbuat baik dan menjadi kudus, sebagaimana Ia baik dan kudus adanya. Sejak Perjanjian Lama Ia telah mewartakanNya melalui nabi-nabiNya, namun kita tetap tidak mentaatiNya.
Pada akhirnya Ia mengutus AnakNya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkan umat yang telah berpaling dariNya, yang dikisahkan dalam Perjanjian Baru. Namun pada jaman ini juga banyak yang belum percaya, dan masih menanti yang lainnya. Namun bagi yang percaya kepadaNya akan mendapat hidup yang kekal, dan yang tidak percaya padaNya akan mendapat hukuman pada penghakiman akhir kekal nanti, sesuai dengan amal kasih yang kita berbuat pada sesama kita di dunia ini, selama kita masih bernafas hingga hembusan nafas terakhir kita.
Lpsl, 5 maret 2026
By EdoSantos’26
