Oleh Fitriani Kadir
Keheningan malam nan sunyi membuatku bisu berselimutkan kegelapan. Sesekali terdengar suara angin bertiup lewat kisi-kisi jendelaku sampai menembus atap rumah. Seketika aku pun terbangun dari lelapnya tidur. Kucoba untuk beranjak lalu mengarahkan pandangan ke jarum jam dinding yang selalu setia mengikuti putaran waktunya.
Tik..tok..tik..tok..tik…tok waktu menunjukkan pukul 22.00. Kuambil handphone untuk melihat apa ada pesan yang masuk. Dari tadi perasaan gelisah dan khawatir menunggu kabar berita dari seorang teman, yang sudah kuanggap sebagai mentorku.
Kucoba membuka handphone untuk mencari-cari apakah ada pesan penting yang masuk. Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk di whatsapp. Perasaan khawatir dan gelisah muncul kembali laksana perahu yang kehilangan nahkodanya. Untuk menghentikan kegelisahanku, kucoba menenangkan hati sambil pelan-pelan membaca pesan yang kunantikan.
Selamat ibu Fitri, naskah tulisan anda telah lulus sensor masuk di website menulis www.bengkelnarasi.com. Seketika wajahku berseri, hatiku mekar, jiwaku tersemai. Kalau harus kulukiskan damainya perasaanku, maka air laut pun kalau dijadikan tinta, tidak cukup untuk melukisnya di atas kanvas langit biru. Perasaan senangku tak bersekat lagi, bahagiaku pun tak bertepi.
Keesokan harinya ketika sang fajar mulai menyapa, tulisan perdanaku sudah membahana di angkasa melalui media online Bengkel Narasi (BN). Ucapan selamat pun datang dari beberapa sahabat yang mengapresiasi tulisanku. Benar kata sahabat yang sudah lebih duluan bergabung menjadi keluarga besar BN bahwa, BN adalah panggung besar tanpa sekat yang disiapkan untuk muncul bersama ke permukaan. Aku telah merasakannya.
Efek dari rasa gembira yang tak bertepi itu, membuat pikiranku mulai menggila mencari diksi dan narasi untuk terus bisa menuangkan tinta hitamku di atas kertas kosong. Bahkan setiap langkah yang kuhentakkan, setiap nafas yang kuhembuskan, seperti ingin kurangkai menjadi kalimat inspiratif untuk menenangkan jiwaku.
Terlebih lagi dengan suntikan vaksin anti virus galau dari sang inspirator Pak RIM yang berkata, “Banyak yang bisa ditulis disekitar kita dengan menjadikan buku “21 Hukum Kesuksesan Sejati” sebagai acuan. Pikiraku pun semakin menggila, sampai-sampai bunyi serine ambulance pun seakan sudah menjadi kalimat yang indah nan syahdu untuk dinarasikan.

Good luck… Tulisannya luar biasa… 👍👍👍💕💕💕