Oleh : Ghinda Aprilia

Masih teringat saat pertama kalinya MI Al Bayan berdiri, gurunya diambil dari sekitar lokasi sekolah. Miris kalau ingat itu, mereka mengajar tanpa dibayar. Dana yang aku dapatkan juga harus berbagi dengan menabung untuk nyicil membeli tanah perluasan sekolah.

Ya, andai saja aku orang mampu, tentu honor guru-guru jadi prioritas utama. Tetapi apa dayaku hanya seorang pembantu yang nyambi mencari donasi di waktu liburku. Beruntung waktu itu sebelum ngetrend internet hasil penjualan majalah-majalah islam yang aku edarkan laku. Bahkan dari mereka ada yang mau membeli lebih dari harga jual tanpa kembalian. Cara berjualanku dijelaskan laba bersih aku salurkan untuk Al Bayan.

Guru-guru MI Al Bayan orang biasa kebanyakan masyarakat di kampungku, mereka bukan orang mampu, tetapi sudah meluangkan waktunya untuk mengabdi di sana. Awalnya hanya ibu-ibu rumah tangga dengan pendidikan SMA bahkan ada yang hanya lulus SMP. Pagi mereka mengajar, siang kuliah, Alhamdulillah saat ini hampir semua guru berijazah S1, karena MI Al Bayan sangat konsen pada peningkatan kualifikasi akademik para gurunya.

Salut di tengah keterbatasan mereka masih peduli dengan lingkungan, ikut mencerdaskan anak bangsa tanpa pamrih. Honor yang tidak seberapa bukan tolak ukur untuk tetap menebarkan ilmunya.

Menjadi seorang pendidik tidaklah mudah, mereka harus profesional, bisa menempatkan dirinya, dimanapun berada. Seorang guru juga harus menjadi contoh tidak hanya di sekolah, tetapi di rumah mereka mempunyai tanggung jawab membimbing dan mendidik keluarganya. Kehebatan seorang guru tidak hanya mendidik keluarganya ada tanggung jawab yang lebih besar terhadap murid-muridnya.

Turut bangga murid-murid MI AI Albayan termasuk cerdas-cerdas, masuk ke sekolah lanjutan banyak yang mendapatkan prestasi bagus. Tentu ini adalah berkah dari kegigihan guru-gurunya dalam mendidik mereka.

Sampai saat ini di MI Al Bayan sudah lima kali pelulusan. Sejak disupport MAI (Mandiri Amal Insani), guru-gurunya mendapat kesempatan pendidikan khusus selama dua tahun. Dibimbing langsung oleh seorang motivator bapak Zainal Umuri. Alhasil guru-guru Albayan berbeda dari yang lain sempat mereka menjadi pelatihan bagi guru lainnya. Selain itu mereka sempat membuat buku bersama. Guru-guru MI Al Bayan juga diberi kesempatan belajar Tahsin, tentu ini juga nilai plus untuk mereka.

Alhamdulillah MI Al Bayan Mandiri menuju sekolah percontohan binaan MAI FOUNDATION, saat ini bapak Ade Sopian selaku kepala sekolah juga dapat amanah untuk memimpin KKMI (kelompok kerja madrasah ibtidaiyah) Pamijahan 2. Dan beliau juga lulus fasilitator daerah bidang literasi yang diselenggarakan Kementerian Agama.

Inilah guru-guru sejati, mengajar Lillaah tanpa lelah, semoga berkah. Mengajar tanpa mengharap pujian atau belas kasih, murni panggilan hati. Tujuan mulia lahirnya generasi penerus bangsa yang tangguh. Guru, engkaulah motivator kedua setelah wali murid.

Engkaulah Pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.

(Visited 151 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.