By: Gugun Gunardi*

Musik dangdut yang merupakan produk inovatif anak bangsa Indonesia, kini menjadi salah satu identitas seni Indonesia. Dulu musik dangdut melakukan konser lebih banyak di lingkungan masyarakat akar rumput. Para pencinta lagu dangdut lebih banyak didominasi oleh kalangan kelas bawah. Padahal musik melayu, yang merupakan bagian dari akar musik dangdut, diminati pula oleh kalangan kelas menengah. Malah musik melayu Deli, konon di tempat asalnya merupakan produk musik yang juga diminati oleh kelas bangsawan. Hal ini dapat dilihat dari kehadiran musik melayu, yang sampai saat ini dipertahankan oleh komunitasnya, juga digemari oleh kalangan kelas menengah dan atas. Masyarakat yang menamakan dirinya etnis Melayu, masih kuat mempertahankan musik tradisional klasik ini.

Memang jika menengok ke belakang, istilah dangdut tidak ada di dalam khasanah musik Indonesia. Penulis yang dilahirkan di tahun 1956, dan waktu menempuh studi di sekolah dasar tahun 1963 hingga tahun 1969, sering mendengar melalui siaran RRI, musik klasik seriosa, musik hiburan (lagu jenis hiburan), musik keroncong, musik gambus, dan musik melayu. Musik pop pun saat itu masih terbatas, tercatat group musik pop yang lagu-lagunya hingga saat ini digemari kaum milenial adalah group musik Koes Bersaudara, yang kemudian berubah nama menjadi Koes Plus. Sampai awal tahun 70-an, belum begitu rame mendengar musik dangdut. Akan tetapi mulai tahun 60-an, sering terlihat film-film India yang kental dengan nyanyian dan musik, dipasarkan sebagai bahan tontonan masyarakat, di bioskop-bioskop yang tersebar di kota hingga pelosok kabupaten.

Kehadiran film-film India ini, sungguh membuka sisi kreativitas berkesenian di dunia seni peran layar lebar. Film-film Indonesia saat itu, dengan para bintang film dalam negeri, oleh sutradaranya seperti diarahkan untuk menampilkan gaya berperan bintang film India. Di dalam filmnya banyak menampilkan unsur-unsur nyanyian, yang hampir mirip dengan film India. Bedanya pada film India ada tariannya, mengikuti birahma perkusi tabla yang menjadi ciri khas musik India. Sedang di dalam film Indonesia, unsur nyanyian diisi dengan lagu-lagu hiburan, yang sedikit mengarah ke musik melayu.

Mengenai musik yang juga dipakai mengiringi tarian, sejak penulis duduk di kelas 2 SD hingga kelas 6 SD, penulis sering melihat bapa-bapa dan ibu-ibu, melakukan tarian (dance) pergaulan dengan iringan musik slow, walz, chacha, twis, dan rock and roll. Tetapi aktivitas berkesenian dalam bentuk tari pergaulan ini, dilakukan terbatas pada masyarakat kelas menengah ke atas. Bisa jadi, hal tersebut merupakan peninggalan pemerintah kolonial, yang membawa jenis tari pergaulan tersebut ke negeri kita.

Pada masyarakat akar rumput, saat itu belum terlihat jenis musik yang dapat digunakan sebagai pengiring joged. Kecuali di dalam kesenian daerah, di Sunda dinamakan tari ketuk tilu dan nayub, dengan iringan musik degung atau kliningan. Jenis musik yang juga digunakan sebagai pengiring joged, yaitu orkes melayu, itupun terbatas dilakukan oleh kaum Adam, dan dilakukan terbatas pada masyarakat menengah ke atas.

Kira-kira antara tahun 1964 sampai dengan tahun 1970, salah satu tarian masyarakat Melayu, yaitu Serampang Dua Belas, sempat banyak diminati oleh masyarakat di Tatar Sunda. Kemudian muncullah tari Ketuk Tilu, menggantikan Serampang Dua Belas. Pada dekade tahun 1968, ketika penulis duduk di kelas 4 SD, penulis sering menyaksikan tontonan dalam memperingati hari besar Nasiomal, seperti; Peringatan Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, diramaikan dengan orkes melayu, yang kadang-kadang juga digunakan sebagai pengiring joged kaum Adam. Jadi, waktu itu, dikenal “orkes Melayu”.

Berikutnya, dengan kehadiran film India, yang merambah dari perkotaan hingga pedesaan. Film India inilah yang mulai mengubah irama Melayu, yang kemudian tabuhan perkusinya yang terdengar bersuara: dang… dut…, dang… dut…, lewat pengaruh suara tabla dengan suara dang… dutnya ini, telah melahirkan seorang penyanyi, dengan iringan orkes melayu sedikit bernuansa dangdut, yaitu Ellya Khadam dengan lagunya yang sangat terkenal, “Boneka India”, saat itu masih belum dikenal musik dangdut, masyarakat masih menamakannya dengan Orkes Melayu.

Pada dekade tahun 70-an, seorang kreator dan inovator musik dari Tatar Sunda, yaitu Rhoma Irama, yang di kemudian hari mendapatkan gelar Doktor (H.C) dari salah satu perguruan tinggi di Amerika, membuat pembaharuan pada musik Melayu. Musik Melayu yang pada awalnya, lebih banyak menggunakan alat-alat akustik. Pada musik Melayu yang dibawakan oleh Dr. Rhoma Irama bersama groupnya, sudah mulai dilengkapi dengan gitar (rithm, melodi, bas), dan mandolin yang elektrik, ditambah dengan organ (elektrik), saxopon, dan alat perkusi tamtam dengam simbal, sedangkan bangsing masih menggunakan gaya lama. Arkodeon yang lekat dengan orkes mrlayu, diganti dengan organ. Karena kelengkapan alat musiknya, Orkes Melayu hasil reka cipta Dr. Rhoma Irama ini, semakin enak didengar. Yang menjadi ciri khas dari Orkes Melayu yang dipimpinnya, adalah irama perkusi (tamtam) yang dominan menghasilkan suara dang… dut, dang… dutnya. Sehingga masyarakat penikmat musik Beliau, dan Beliau sendiri menamai musik hasil reka ciptanya, dengan nama Musik Dangdut. Group musik yang dipimpinnya pun, mengusung nama Soneta Group, sudah tidak ada embel-embel orkes Melayu lagi.

Pada tahun 1973, Dr. Rhoma Irama menciptakan lagu yang berjudul “Begadang”. Lagu Begadang ini, buuum… di seluruh tanah air Indonesia, hingga ke pelosok-pelosok pedesaan. Dengan lagu ini pula, nama Rhoma Irama berkibar sebagai kreator dan inovator musik Indonesia, dan sebagai pelopor hadirnya musik “Dangdut”. Masyarakat Indonesia dan mancanegara, sudah mengawinkan Rhoma Irama dengan musik Dangdut. Hingga ada ungkapan di mssyarakat “Dangdut adalah Rhoma Irama, Rhoma Irama adalah Dangdut”. Hingga Beliau pun mendapat Gelar Raja Dangdut.

Perjalanan musik Dangdut, yang kandung disebut sebagai musik akar rumput. Tidak mudah untuk dapat diterima di kalangan masyarakat menengah ke atas, secara lebih luas. Meskipun, Soneta Group lewat lagu Begadang, sudah diminati oleh sebagian masyarakat kelas menengah ke atas, pada saat itu. Tahun 80-an, munculah seorang biduan dangdut bernama Kamelia Malik, bersama mantan suaminya Reynold (alm), lewat lagunya “Rekayasa Cinta”, dapat menembus diskotik, sebagai lagu yang disukai di lingkungan tersebut.

Mulailah masyarakat menengah ke atas melirik lagu-lagu dangdut. Mulailah mereka menikmati dan menyimak lagu-lagu yang syarat dengan petuah kehidupan, seperti lagu “Kehilangan”, “Mirasantika”, “Judi”, dan lain-lain. Kerena lewat lagu-lagunya, Rhoma Irama berkehendak juga untuk berdakwah. Maka, munculah ungkapan Nada dan Dakwah. Masyarakat sangat hapal, bahwa Nada dan Dakwah, adalah ungkapan hasil pikiran cerdas seorang Dr. Rhoma Irama.

Mulai era tahun 85-an dan selanjutnya, mulailah televisi-televisi swasta mengundang musik dangdut untuk hadir dalam kemasan acaranya (TVRI sudah lebih dahulu). Musik dangdut semakin dikenal luas, mulai dari kalangan masyarakat akar rumput, masyarakat kelas menengah, masyarakat kelas atas, hingga ke manca negara. Apalagi, setelah ada televisi swasta yang menyelenggarakan lomba lagu dangdut. Dangdut semakin terpatri di hati masyarakat Indonesia, sebagai salah satu identitas musik Indonesia. Selain musik Keroncong dan musik Melayu.

Pada tahun 2018, Indonesia mendapatkan kehomatan, ditunjuk sebagai penyelenggara pesta olah raga Asia, yaitu Asian Games. Dengan rasa bangga dan percaya diri, pada kesempan emas tersebut, panitia penyelenggara, dan tentunya atas restu Presiden, menampilkan seorang biduan dangdut ‘Via Vallen’, menyanyikan lagu “Meraih Bintang’ sebagai Official Them Song Asian Games 2018. Lagu tersebut bernuansa dangdut koplo. Tentu saja, seluruh pelosok Asia pasti mendengar lagu itu. Masyarakat Asia, pasti menempatkan musik dangdut, sebagai salah satu identitas musik bangsa Indonesia.

Musik populer Indonesia yang akarnya berasal dari musik Melayu dan musik India, yaitu musik dangdut. Kini sudah tembus ke lingkungan Istana Negara Indonesia. Puncak peringatan Hari Kemerdekaan RI, yang setiap tahunnya digelar di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Dahulu, Upacara Bendera di Istana terkesan formal dan ketat. Namun dalam masa pemerintahan Jokowi beberapa tahun terakhir, rangkaian acara yang dihadirkan terkesan lebih luwes tanpa meninggalkan kesan khidmat dan tetap mengusung semangat nasionalisme.

Pada Upacara Bendera HUT RI ke-78 yang digelar pada Kamis (17/08/2023), penyanyi Putri Ariani menjadi salah satu pengisi acara. Gadis Yogyakarta berusia 17 tahun ini, yang naik daun setelah menerima Golden Buzer America’s Got Talent 2023 (sekarang Ia juara 4 AGT). Melantunkan lagu dangdut koplo berjudul “Rungkad”. Lagu “Rungkad”, pada awalnya dipopulerkan oleh penyanyi asal Kediri, Happy Asmara. Sementara penciptanya adalah Vicky Prasetyo. Saat lagu ini dilantunkan Putri Ariani, seluruh tamu undangan termasuk para pejabat ikut bergoyang.

Kesan musik dangdut, yang dulu kerap dianggap norak dan musik akar rumput oleh sebagian kalangan, kini sudah lenyap. Kini banyak penyanyi dangdut yang dipercaya tampil dalam acara bergengsi hingga level internasional. Malah, kini lagu dangdut didendangkan dalam acara resmi di Istana Merdeka.

Putri Ariani sambil memainkan piano dan diiringi oleh orkestra Gita Bahana Nusantara. Mengundang para pimpinan negara dan Ibu negara ikut bergoyang. Betul-betul, musik dangdut sudah menembus Istana Negara Indonesia.

Bravo buat para kreator dan inovator musik dangdut. Semoga UNESCo segera mengabadikan musik dangdut sebagai warisan tak benda milik Bangsa Indonesia. Aamiin Yaa Rabb.

*Dosen Tetap Fasa Unfari.

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.