Setiap mengenang Gerakan 30 September (G 30 S/PKI), tidak terhindarkan pro dan kontra. Mengapa bangsa Indonesia tidak bisa mempunyai satu pandangan/sikap terhadap G 30 S/PKI? Istilah “pemberontakan” atau “kudeta” yang dipakai dalam banyak artikel juga mengundang pro dan kontra.
Kisah tentang tragedi G 30 S/PKI secara garis besar terbagi dua versi yang sampai saat ini tidak bisa dikompromikan/direkonsiliasi: antara versi pemerintah (Orde Baru) dan versi anti-Soeharto. Masalah pokok yang membelah tajam kedua kubu itu terletak pada: pertama, apa sesungguhnya G 30 S? Kedua, siapa dalang G 30 S? Ketiga, apa sesungguhnya yang terjadi pada 30 September–1 Oktober 1965? Keempat, apa tujuan G 30 S? Kelima, bagaimana sesungguhnya posisi Presiden Soekarno? Dan keenam, apa yang terjadi pasca G 30 S?
Saat ini, dengan gencarnya teknologi informasi, pro kontra semakin berkembang. Pihak-pihak yang berkepentingan secara diametral memunculkan informasi, data, dan nalarnya masing-masing. Lalu, bagaimana masyarakat yang selama ini hanya menjadi “penonton”? Bahkan ayah, ibu, kakek, atau neneknya hanya menjadi “korban” dari konflik kepentingan saat itu? Tidak ada ideologi yang mendarah daging karena mereka adalah rakyat biasa. Lahir pun di kemudian hari. Lalu, mau bicara apa? Mau beropini apa?
Bagaimanapun, ideologi tak akan pernah mati. Ia akan tetap hidup menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan lingkungan yang baru. Ideologi apa pun akan bangkit atau tidak, tergantung sejauh mana kesenjangan hidup dan kemiskinan terjadi. Propaganda simbol-simbol dijadikan bibit persemaian ideologi, termasuk untuk menunjukan eksistensi keberadaannya.
Sambil menyeruput kopi kedai tapal kuda di pagi hari Kesaktian Pancasila ini, sebuah pesan yang cukup bijak layak untuk dipikirkan. Masyarakat harus lebih selektif dalam menilai sebuah berita yang dipublikasikan oleh media, terutama media daring. Setiap media pasti mempunyai kepentingannya masing-masing sehingga pemberitaan akan berbeda-beda satu sama lain.
Masyarakat jangan mudah atau cepat mengambil kesimpulan atas sebuah pemberitaan. Kebenarannya belum pasti. Apalagi media daring yang bersifat up-to-date dan cepat memberitakan suatu peristiwa walaupun belum tentu kebenarannya. Satu hal yang mungkin bisa dijadikan pegangan, “Apa pun ideologinya, kemanusiaan tidak pernah mengenal kekerasan”. []
