Terimakasih Tuhan lewat perantaramu, siapa nyana berpapasan dengan teman terbaikku…
Tanpa berlama-lama aku membidikkan lensa kamera, lantaran dia menunggu seseorang dari jauh, namun begitu posturnya begitu akrab dari penciumanku.
Meski masker menyembunyikan anggunnya wajahnya, tatapan bola matanya seolah berbicara, bahwa rasa kangen itu masih ada.
Yang paling tak bisa aku lupakan semampai tubuhnya selalu menyenangkan perasaanku…
Waktu itu dia mengenakan baju pink, celana levis biru, mengenderai sebuah motor warna merah, kembali mengingatkan memoriku yang mulai memudarkannya.
Sekuat mungkin aku berjuang menghindarinya, namun bayangannya tetap menggelayut dalam ingatanku.
Sekian kali usahaku melepasmu tapi tetap saja tak bisa melepasnya..
Meskipun ribuan koneksi medsos tentangmu kau-blokir dari seluruh benakmu.
Aku selalu saja ingin membukanya, agar namamu terukir indah dalam sanubariku…
Konyol memang, dan kini aku hidup terobsesi lagi pada dirimu, ketika kembali menatap bola matamu.
Meski sekejab waktu itu, aku menatapmu dari kejauhan, dan binar mata kita menyatu pada saat yang kurang bersahabat, itulah yang terjadi saat itu….
Sayangnya tiada waktu melepas rindu berdua, Bahkan untuk menyalurkan rasa kangen yang lama terpendam tak terlaksana…
Seharian aku berjuang hindari hembusan aroma tubuhmu, tapi tetap aja tak bisa…
Lalu ku mulai bertanya pada waktu mengapa dia datang lagi di saat yang tidak tepat? Begitukah Tuhan…
