Dunia adalah sebuah kampus besar kehidupan. Mahasiswanya adalah manusia. Kampusnya adalah dunia. Kurikulumnya adalah alur kehidupan. Diktatnya adalah firman Tuhan dan risalah para nabi. Ujiannya adalah masalah demi masalah yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya.
Universitas kehidupan menyajikan masalah demi masalah yang harus kita tuntaskan. Masalah itu ibaratkan SKS. Mata kuliah memang kadang ada yang mudah, ada pula yang sulit. Tetapi jika ingin lulus, mata kuliah itu harus dihadapi, bukan dihindari. Begitu pun dengan masalah di kampus kehidupan. Masalah bukan untuk dihindari, tetapi untuk ditaklukkan.
Universitas kehidupan adalah anak rohani dari Ki Hajar Dewantara. Dalam salah satu kutipannya yang terkenal, Ki Hajar Dewantara pernah berkata bahwa semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Sama halnya bahwa semua orang berhak menjadi dosen dan semua orang berhak pula menjadi mahasiswa.
Kita percaya bahwa konsep kecerdasan tidak didominasi oleh kaum-kaum yang ahli dalam menjawab logika matematika, mahir dalam penulisan jurnal ilmiah, atau bisa merumuskan teori-teori sosial yang didasarkan pada pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Kecerdasan adalah milik seluruh manusia.
Seorang petani berhak menjadi dosen di kampus ini sebab ia mengajarkan bagaimana menentukan bulir padi yang baik dan buruk. Seorang nelayan adalah dosen yang mengajarkan bagaimana menentukan arah mata angin berdasarkan bintang-bintang di langit malam. Begitu pula dengan kedua penulis buku ini, keduanya adalah dosen yang mengajarkan bagaimana memaknai aktivitas senam bukan sekadar olahraga untuk kesehatan fisik, juga untuk menghadirkan jiwa-jiwa yang sehat.
Sejak didirikan 23 April 2021, Bengkel Narasi menjadi ruang di angkasa tempat bertemunya para insan pemelajar. Tidak peduli dia guru PAUD atau dosen bertitel doktor, semua berhimpun dalam sebuah universitas kehidupan para pecinta literasi membaca dan menulis. Kami menulis sambil memeluk kemanusiaan. Kami menulis sambil mengurus kehidupan. Kami pun menulis sambil berbagi.
Belum genap satu tahun, Bengkel Narasi sudah melahirkan beberapa buku inspiratif dari para anggotanya. Ibarat mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan, bahkan ada sahabat Bengkel Narasi yang merasa percaya tidak percaya bahwa dia bisa menulis dan bisa menerbitkan buku.
Namun, satu hal yang perlu dipahami bahwa Bengkel Narasi bukan komunitas yang dibentuk semata-mata untuk tujuan bisnis penerbitan buku. Di Bengkel Narasi, kami saling mengulurkan tangan untuk berpegangan. Di Bengkel Narasi, kami tidak menjadikan sahabat Bengkel Narasi sebagai pijakan kepentingan. Kami menginginkan semua sahabat Bengkel Narasi untuk muncul ke permukaan sebagai penulis inspiratif sesuai kompetensinya masing-masing.
Andi Chairul Ichsan Parani (ACIP) adalah sahabat Bengkel Narasi yang multitalenta. Selain profesi utamanya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara, ACIP pun bertangan dingin dalam bercocok tanam. Tidak hanya lincah (agile) sebagai seorang PNS, ACIP pun lincah sebagai seorang instruktur senam.
Pada suatu hari, saya melempar wacana “Senam Jiwa” kepadanya. Anggap saja sebuah tantangan. Saya ingin tahu sejauh mana ACIP bisa menerjemahkan mens sana in corpore sano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat) menjadi sebuah produk literasi.
Tentunya tidak mudah bagi ACIP untuk mewujudkannya sendiri. Waktu pun berlalu, tetapi spirit Bengkel Narasi terus bekerja. Tiba-tiba saya menerima draf buku “Senam Jiwa” ini dan sangat terkesan dengan isinya. Ternyata, ACIP bergandengan tangan dengan Kuspriyanto (Iyan Apt) untuk menjawab tantangan yang saya berikan.
Adinda, kalian berdua hebat! Kalian tahu bagaimana setiap orang pasti punya keterbatasan. Namun, kalian sangat tahu bagaimana kekuatan kecil yang dimiliki bisa menjadi kekuatan besar ketika disinergikan. Kalian berhasil menyelesaikan satu semester perkuliahan di universitas kehidupan dengan saling bergandengan tangan mewujudkan literasi “Senam Jiwa”. Ya, sahabat itu menjadikanmu pegangan dan kalian telah membuktikannya.
Dirancang dalam tiga bagian, buku “Senam Jiwa” ini tersusun apik. Di bagian pertama, penulis menyajikan edukasi tentang pentingnya kesehatan jiwa (pada bagian lain disebut kesehatan mental). Wacananya menjadi sangat kekinian ketika kesehatan jiwa/mental diangkat dalam realita masa pandemi COVID-19. dengan mengedepankan aspek ketahanan keluarga, wacananya menjadi sangat paripurna.
Di bagian kedua, penulis menghadirkan “how to” olahraga, khususnya senam, bisa membentuk membentuk pribadi yang disiplin, kuat, lincah, tangguh, dan bermental juara. Kajian ilmiah pendidikan jasmani dan olahraga dipadukan dengan sentuhan psikologi personal development menjadikan bagian kedua ini sangat aplikatif.
Di bagian ketiga, penulis menghadirkan sudut pandang islami dalam memaknai kesehatan jiwa/mental. Setelah gerakan “pemanasan” pada bagian pertama dan gerakan inti “high impact” di bagian kedua, pembaca diajak untuk menjalani tahap “pendinginan” dengan perspektif kesehatan jiwa/mental yang menyejukkan hati.
Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada duet penulis atas terbitnya buku “Senam Jiwa”. Salut dan bangga pada Adinda ACIP dan Iyan Apt yang telah berhasil mewujudkan literasi “Senam Jiwa”. Tidak berhenti di situ, saya yakin “Senam Jiwa” akan menjadi sebuah brand gerakan masyarakat, menyebar, berkembang, dan kalian adalah tokohnya!
Depok, 20 November 2021
Ruslan Ismail Mage

Luar biasa…..
Good inspiring dan ijin sy akan share ke mana-mana