Judul film : Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita
Sutradara : Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale
Genre : Dokumenter
Produser : Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Yayasan Bentala Pustaka, dll
Tayang : YouTube
Rilis : 7 Maret 2026
Waktu : 95 menit
Lokasi syuting: Merauke, Boven Digoel dan Mappi
Bahasa : Indonesia
Suku : Marind, Muyu, Yei, Awyu
Film dokumenter ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ seharusnya menjadi salah satu karya monumental tahun ini, karena berani mengangkat isu aktual lagi sensitif tentang dua kutub yang berlawanan di tengah masyarakat Papua. Yaitu antara program pemerintah Republik Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan dengan upaya masyarakat lokal mempertahankan tanah adat.
Cerita di film dimulai pada visualisasi masyarakat yang hidup dalam harmoni, apa adanya, menyatu dengan alam, dan berpegang teguh pada hubungan spiritual dan sosial antara manusia, alam dan leluhur.
Selanjutnya ditampilkan ekspansi bisnis perusahaan nasional sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk membangun areal perkebunan tebu dan cetak sawah untuk lumbung pangan. Ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah selatan Papua, tepatnya di Merauke, Mappi dan Boven Digoel.
Lalu film menunjukkan kembali kehidupan sederhana warga lokal yang diilustrasikan melalui pola hidup sederhana dengan mempertahankan cara-cara leluhur dalam kelangsungan hidup. Seperti berburu di hutan, dan mengandalkan sagu sebagai bahan pokok utama. Selain itu ditampilkan juga protes atas tanah mereka yang tiba-tiba diklaim oleh perusahaan dan dikelola dengan eksavator yang masing-masing unit dijaga satu personil berseragam militer.
Pola kehidupan masyarakat sederhana ini ditampilkan silih berganti dengan PSN yang semakin berkembang pesat, diselingi perbandingan beberapa proyek serupa di daerah lain. Seperti di Kabuaten Pulang Pisau dan Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah.
Dalam dua bulan terakhir film ini menjadi viral dan mengisi ruang-ruang diskusi hangat di banyak media sosial. Seperti biasa, yang intelek banyak. Tapi yang yang nyinyir juga tikak sedikit. Karena itu banyak yang menganggap ‘Pesta Babi’ salah satu film paling kontroversial tahun 2026. Ditambah lagi kebijakan untuk bredel film ini dari publikasi turut membuat masyarakat penasaran. Rasa ingin tahu yang besar muncul ibarat bom waktu.
Dari penelusuran di beberapa laman dan situs web, ditemukan beberapa informasi yang intinya film ini tidak diperbolehkan untuk tayang di bioskop, YouTube, Netflix ataupun layanan streaming lainnya.
Media online suara.com menyebutkan bahwa satu-satunya cara resmi untuk menyaksikan film ini adalah melalui acara nonton bareng (nobar) yang diinisiasi kelompok masyarakat, komunitas, ataupun kampus.
Lewat Instagram, WatchDoc menegaskan bahwa film ini hanya bisa ditonton melalui nobar karena beberapa alasan. Salah satunya adalah meminimalisir buzzer. “Untuk nobar, WatchDoc dan pihak terkait lain telah menyiapkan link resmi, yakni https://bit.ly/musimnobar_pestababi,” rilis suara.com.
Namun namanya warganet +62, ada saja ulah-ulah nakal yang sering muncul untuk kontra dengan aturan. Secara kebetulan film ini ditemukan di YouTube, lalu ditonton ramai-ramai. Beberapa jam kemudian saat mau ditonton lagi, film ini sudah tidak ada. Sepertinya sudah di-take down.
Layaknya film dokumenter pada umumnya, semua akting di dalam ‘Pesta Babi’ adalah nyata. Wawancara, laporan hasil observasi, rekaman video, semua asli dari narasumber terkait. Potongan-potongan video diambil dari wawancara langsung dan dikutip dari banyak media, baik media sosial terkemuka maupun media mainstream. Semua dijadikan satu menjadi utuh untuk memberikan pesan yang utuh sesuai judul.
Judul film ini terdiri dari 2 frasa. Pertama, pesta babi. Kedua, kolonialisme di zaman kita. Untuk pesta babi, ini adalah makna sesungguhnya. Kegiatan pesta ditampilkan di ujung film. Dijelaskan bahwa ini adalah ritual adat dan budaya, dengan simbol sosial dan spiritual penting yang dilaksanakan setiap 10 tahun. Caranya, babi dikembangbiakkan di dalam kandang, lalu sebagian anak-anak babi dilepaskan ke hutan untuk mencari hidup sendiri. Ada juga yang dipelihara sampai dewasa.
Pesta diawali dengan kegiatan warga yang melakukan perburuan terhadap babi-babi itu. Dari visual video terlihat bahwa yang diburu bukan hanya babi dilepaskan yang diburu, namun ada juga babi hutan yang asli hidup di dalam hutan. Sementara itu babi yang di kandang dibunuh dengan cara dipanah dari luar melalui sela-sela dinding kandang.
Lalu bagaimana dengan frasa kolonialisme di zaman kita. Suara.com menggambarkan ini sebagai bentuk baru penguasaan tanah dan sumber daya yang dinilai masih terjadi hingga hari ini. Warga Papua menganggap bahwa telah terjadi ‘perampasan dengan menggunakan kekuatan militer’ pada hak milik mereka.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kolonialisme adalah penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara tersebut. Secara istilah, praktik kolonialisme biasanya dilakukan untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan ekonomi suatu wilayah.
Hal yang berbeda jika dilihat dari sisi kebijakan pemerintah Republik Indonesia seperti disebutkan di awal, bahwa program ini termasuk salah satu PSN, untuk perkebunan besar, cetak sawah dan mewujudkan swasembada beras.
Wikipedia mencoba lebih objektif dalam menilai dengan merilis bahwa film ini melambangkan konflik dan simbol perlawanan dengan menyebut ada benturan sosial, hukum dan fisik di lapangan antara Gerakan Salib Merah di komunitas Awyu dengan Patok Militer di suku Yei.
Masalah ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Banyak daerah mengalami hal yang sama, jauh sebelum ada negeri ini. Cuma yang terdokumentasi dengan baik adalah dari zaman Hindia Belanda hingga sekarang ini. Thaib dan Zuska (2020) melalui jurnal yang berjudul ‘Konflik agraria penguasaan tanah ulayat masyarakat Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara’ menyebut pembangunan yang berkelanjutan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan kepentingan umum pada tataran sosial untuk kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut Thaib dan Zuska menyebut dengan model ini akan dicapai pembangunan yang berwawasan lingkungan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mewariskan sumber daya alam kepada generasi yang akan datang.
Terlepas dari pro dan kontra yang sangat terasa dari awal hingga akhir cerita, pembuatan film dilakukan dengan cukup baik. Narasi disampaikan secara objektif dan independen. Kualitas gambar jangan ditanya lagi. Pasti bagus karena diambil dari potongan video di media yang pengambilannya dilakukan secara profesional dan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Singkatnya, sutradara hanya merangkai potongan video itu menjadi satu dokumenter yang nyaris sempurna.
Film ini objektif menilai, menampilkan dan menyampaikan informasi sesuai realita. Yang dikhawatirkan adalah, kuatnya pro dan kontra bisa berdampak pada bola liar di masyarakat dan penggiringan opini yang tendensius lalu menyudutkan salah satu pihak.
Sebagai rekomendasi, diarankan film ini ditonton hanya oleh mereka yang memiliki pengetahuan luas dan objektif terhadap dua sisi, yaitu program strategis pemerintah dan eksistensi adat dan budaya daerah. Selain itu harus dibekali dengan tekad kuat untuk mencegah munculnya justifikasi negatif atau stigma terhadap salah satu pihak setelah menontonnya. Cheerio.
Jakarta, 21 Mei 2026
