Pada mulanya, karya sastra (epos) La Galigo diamalkan oleh masyarakat Bugis dalam bentuk tuturan lisan. Namun, memasuki paruh pertama abad XIX, naskah asli epos ini mulai dikumpulkan oleh Dr. Benjamin Frederick Matthes, seorang misionaris berkebangsaan Belanda dan disalin dari Bahasa Sastra Bugis Kuno (pada zamannya disebut Bahasa La Galigo, suatu bahasa yang sudah sangat jarang penuturnya) ke dalam Bahasa Bugis.
Orang yang sangat berjasa dalam penulisan Sureq La Galigo pada tahun 1852 adalah Colliq Pujié. Transliterasi naskah itu ditulisnya selama 20 tahun pada saat ia bersama sejumlah pengawalnya hidup menderita dalam pengasingan menjalani masa tahanan Belanda di Makassar.
Lalu, siapakah sebenarnya Colliq Pujié?
Colliq Pujié adalah sosok perempuan Indonesia keturunan Melayu berasal dari Sulawesi Selatan yang banyak melahirkan karya sastra tingkat dunia. Namanya terkenal di luar negeri dan menuai banyak pujian dan sanjungan dari bangsa-bangsa di Eropa, bangsa yang pernah menjebloskannya puluhan tahun di pengasingan.
Dalam beberapa artikel, namanya ditulis Colliq Pujié Arung Pancana Toa sebagai bangsawan Bugis berdarah Melayu. Lahir pada tahun 1812 dengan nama Puteri Ratna Kencana dan dibesarkan di lingkungan kerajaan Tanete–Barru.
Ayahnya La Rumpang adalah Raja Tanete. Dia tidak dikenal oleh banyak penulis di tanah air karena sedikit sekali rekam jejak sejarah tentang pribadinya. Untuk mengkaji lebih dalam tentang kehidupannya, Anda harus mengunjungi negeri Belanda karena di sanalah tersimpan semua informasi tentang sosok pribadinya.
Darah Melayu mengalir dari garis keturunan Ibunya, Puteri Djohar Manikam, anak ke-5 dari Ince Ali Asdullah Dato Bendahara atau lebih dikenal dengan Dato Pa’beang yang makamnya terletak di Barrang Lompo. Anda yang memiliki buku “Sejarah dan Silsilah Bangsa Indonesia Keturunan Melayu” (KKIKM Ujung Pandang, 1986), silakan buka halaman 24. Lihat pula pedigree Dato Pabeang dalam buku tersebut pada halaman 43 dan pedigree Puteri Djohar Manikam pada halaman 47. Ada sedikit perbedaan penulisan nama pada buku yang ditulis KKIKM dan pada artikel yang menjadi referensi dalam tulisan ini.
Kalau memang keturunan Melayu, mengapa Colliq Pujié tidak memakai “Ince” di depan namanya?
Jika kita perhatikan bagaimana Dato Pa’beang menempatkan gelar “Ince” pada kedelapan orang anaknya, hanya Puteri Djohar Manikam (anak ke-5) yang tidak bergelar “Ince”. Sedangkan anak-anak perempuan lainnya, mulai yang pertama Ince Sitti Daerah dan anak perempuan kedua Ince Sitti Aisyah, semuanya masih lengkap dengan “Ince”-nya.
Dato memberikan pemahaman kepada kita bahwa gelar “Ince” itu bukanlah “kasta”, melainkan “pengenalan” (recognition) bagi seluruh warga masyarakat Melayu yang mukim di Kerajaan Gowa, agar hak-haknya sebagai orang Melayu mendapatkan jaminan perlindungan dari penguasa Kerajaan Gowa.
Silakan buka kembali buku KKIKM halaman 28, tertulis bahwa Puteri Djohar Manikam bersuamikan La Maruga Dg. Malliungan Sultan Adam bergelar Datu Mario Riwawo dari Kerajaan Soppeng. Dengan demikian, Perjanjian Perlindungan yang disepakati antara Datu Maharaja Bonang dan Raja Gowa I Mannarima Gau Karaeng Lakiung Tunipalangga (lihat buku KKIKM halaman 3) tidak bisa diterapkan di wilayah kedaulatan Kerajaan Soppeng. Demikian pula dengan Colliq Pujié, tidak bergelar “Ince” karena selain mukim di luar wilayah kedaulatan Kerajaan Gowa, nasab Melayu diturunkan dari ibunya.
Sosok Colliq Pujié dicatat dalam sejarah tidak hanya sebagai pemikir abad XIX, namun ia dikenal sebagai aktor pejuang yang melawan Belanda. Kemampuan dan kharismanya mampu mempengaruhi pengikutnya untuk melakukan perlawanan terutama pemberontakan rakyat Tanete tahun 1855. Akibatnya, Colliq Pujie diasingkan selama 10 tahun di Lamuru Makassar sebagai tahanan politik Belanda
Selama di tahanan, ia tetap menulis karya sastra Bugis dan membantu B.F. Matthes, misionaris Belanda yang memperkenalkan La Galigo ke seluruh dunia.
Colliq Pujié ditawan oleh Belanda. Betul bahwa selama dalam masa tahanan, dia mendapat kompensasi perbulan sebesar 20 Gulden dan beras dua pikul dari pemerintah Belanda. Namun, tunjangan itu tidak cukup walau hanya sekadar untuk bertahan hidup bersama sejumlah pengawalnya. Akibatnya, harta dan benda-benda pusaka miliknya habis dijual hanya sekadar untuk menyambung hidup.
Kehadiran B.F. Matthes, A. Ligtvoet, dan sejumlah Peneliti Belanda lainnya yang pernah dibantu oleh Colliq Pujié justru pada saat yang tepat. Dari jasanya menyalin dan menterjemahkan naskah-naskah kuno itulah ia mendapatkan honorarium yang pas-pasan digunakan untuk bertahan hidup selama dalam pengasingan.
Semasa hidupnya, Colliq Pujié banyak menyumbangkan pemikran bagi masyarakat Bugis dan menulis pemikirannya dalam bentuk karya sastra, di antaranya: Elong, Sure’ Baweng, Sejarah Tanete Kuno, Kumpulan Adat Istiadat Bugis, dan berbagai adat-istiadat, tata krama, dan etika kerajaan. Karya sastra hasil pemikirannya yang dianggap paling indah oleh para Sastrawan Barat adalah Sure’ Baweng, berisi petuah-petuah yang mengandung nilai estetika sangat tinggi.
Sejarah Tanete Kuno adalah karya sastra yang pernah ditulisnya, diterbitkan oleh Niemann di Belanda. Adat Kebiasaan Kerajaan ditulisnya dalam karya sastra berjudul La Toa, diterbitkan oleh B.F. Matthes dalam buku Boegineesche Christomatie II.
Peneliti Belanda lainnya yang pernah dibantu oleh Colliq Pujié adalah A. Ligtvoet, yang saat itu sedang menyusun Kamus Sejarah Sulawesi Selatan. Keluasan pengetahuan, kepiawaian, dan kecerdasan Colliq Pujié telah mengangkat martabat dan derajat intelektulitas orang Bugis di mata bangsa Eropa pada abad XIX.
B.F. Matthes dalam bukunya Macassaarsche en Boegineesche Chrestathien (Kumpulan Bunga Rampai Bugis Makassar), berkali-kali menyebut nama Colliq Pujié sebagai bangsawan Bugis, memujinya sebagai ratu yang benar-benar pakar dalam bidang sastra.
Menjelang akhir hayatnya, Colliq Pujié masih terus menabur semangat juang. Meskipun didera berbagai penderitaan fisik, dia tetap tegar berjuang merebut kembali kemerdekaan yang telah dirampas oleh kaum penjajah. Sebagaimana tersirat melalui salah satu bait pantun yang ditulisnya.
ININNAWAKKU MUWITA
MAU NATUDDU’ SOLO’
MOLA LINRUNG MUWA
Lihatlah keadaan batinku
Walaupun dihempas arus deras kesusahan
namun aku masih tetap mampu berdiri tegar
Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa
Colliq Pujié wafat pada tanggal 11 November 1876. Dia dimakamkan di Tucae, Lamuru, Kabupaten Bone dengan nama gelar anumerta Puteri Ratna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroe ri Tucae. Untuk mengenang jasa-jasa, pengorbanan, dan kepahlawanannya, Pemerintah Kabupaten Barru membangun Monumen Colliq Pujié di sebuah sudut taman kota, Jl. Abdul Muis, Barru.
Dalam suatu seminar nasional yang diadakan di Bone tahun 2004, pemerintah daerah setempat pernah mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Colliq Pujié. Namun, usulan tersebut ditolak oleh pemerintah pusat pada waktu itu dengan alasan Colliq Pujié memihak kepada penjajah Belanda.
Setelah berproses selama sembilan tahun, diperoleh hasil yang menggembirakan bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis dan Melayu di Barru. Melalui Keppres Nomor: 57/TK/2013 tanggal 13 Agustus 2013, pada urutan Nomor 1 tertulis nama (Almh). Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa sebagai penerima penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma yang disematkan kepada keluarga ahli warisnya oleh Presiden SBY dalam suatu Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta.
Suatu kenyataan bahwa sumbangan pemikiran Colliq Pujié yang begitu berharga membidani lahirnya karya sastra Sureq La Galigo. Epos ini mendapatkan penghargaan Memory of the World dari Badan Dunia UNESCO.
Daya tarik epos Sureq La Galigo adalah ukuran keseluruhan teksnya sangatlah besar, yaitu terdiri dari 6.000 halaman ukuran folio memuat 300.000 baris puisi. UNESCO menyatakan bahwa La Galigo adalah produk karya sastra yang paling produktif di dunia, lebih panjang daripada epik India, yaitu Mahabharata dan Ramayana yang hanya terdiri dari 200.000 baris puisi, juga lebih panjang dari Homerus epik Yunani.
Setelah terpendam puluhan tahun lamanya, Sureq La Galigo kembali menjadi perhatian masyarakat dunia ketika sutradara papan atas dari Amerika Serikat, Robert Wilson, mengangkat Sureq La Galigo ke panggung teater internasional. Pertama kali dipentaskan pada tanggal 20-23 Maret 2004 di Singapura.
Dua bulan kemudian, kembali tampil di atas pentas negara-negara Eropa. Bermula pada tanggal 12, 14, dan 15 Mei 2004 di Amsterdam. dilanjutkan ke Barcelona (20-23 Mei 2004), Madrid (30 Mei-2 Juni 2004), Lyon Perancis (8-10 Juni 2004), dan mengakhiri perjalanan pentasnya di Eropa setelah tampil di Ravenna, Italy pada tanggal 18-20 Juni 2004. Setelah itu, berlanjut pentas di kota New York, Amerika Serikat pada 13-16 Juli 2004.
Lebih dua tahun setelah pentas di Amerika Serikat, La Galigo muncul di hadapan masyarakat Sulawesi Selatan di Jakarta pada tanggal 10-12 Desember 2006. Setelah melalang buana hampir tujuh tahun lamanya ke berbagai negara, La Galigo dibawa pulang dan dipentaskan di tanah kelahirannya Makasar pada 23-24 April 2011.
Pada tahun yang sama ini pulalah, UNESCO menetapkan La Galigo sebagai Memory of the World dalam bentuk documentary heritage (pusaka dokumenter). Memory of the World apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kolektif ingatan dunia”. Maksudnya, dunia mengingat bahwa di suatu daerah di Sulawesi Selatan, ada suatu kekuatan dahsyat yang mengajarkan kehidupan kepada umat manusia di seluruh dunia dan kini sudah menjadi literatur dunia.
13 September 2014, atas prakarsa Galeri Indonesia Kaya bekerja sama dengan Yayasan Lontar kembali menampilkan Sureq La Galigo dalam sebuah pertunjukan dramatic reading di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta. Pada waktu itu, turut dihadiri Guru Bangsa Indonesia Prof. Dr. B. J. Habibie.
Mengutip pernyataan Prof. Dr. Arif Rahman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kemendikbud, “La Galigo tidak lagi menjadi literatur masyarakat Bugis, bukan lagi literatur Indonesia tetapi sudah dinyatakan sebagai literatur dunia yang patut menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.”
Sumber: https://web.facebook.com/zulkifli.azir

Great…