Oleh : Je Osland

Assalamualaikum, Wr… wb…
Yth. TUAN Masyhudul Haq/The Grand Old Man/K.H Agus Salim

Belum sewindu,
Selingkar negeri mengagungkan Tuan,
Semesta ranah hingga rantau mengungkit pusaka pemikiran Tuan,
Nama tuan beserta Tuan-tuan hebat lainnya menggelegar hingga ke puncak mandala,
Intelektual Tuan membahana kesudut-sudut kampung,
Bahkan di kedai kopi tempat berKoapun menyajikan riwayat Tuan,
Di tengah jeda para tua mengonggok ikan hasil tangkapan.

Hari ini,
Seabad, tiga dasawarsa, selustrum, setahun dulu,
Tepat di Delapan Oktober Seribu Delapan Ratus Delapan Puluh Empat,
Tuan membumi,
Tangis perdana Tuan adalah lengkingan asa Indonesia,
Tawa mula Tuan seakan berpantul-pantul merangkai Nusantara.

Tapi Tuan,
Maaf seribu kali maaf Tuan,
Membumi Tuan tak segagah pekan itu.


Patik terlupa Tuan,
Terlupa akan semburan ideologi Tuan di kemerdekaan dulu,
Terlupa lagi akan goresan karya Tuan untuk negeri ini,
Mungkin, butuh sembilu menimbul perih,
baru kami ingat Tuan kembali.

Rupanya tuan,
Sasudah di caliak dipareso,
Nyato lah mumuak pakayuannyo,
Tunggak condong sandi lah ratak,
Paran tagajai lapeh pasak,
Rasuak parancah lah maranggang,
Jariayau lah patah pulo,
Atok tirih kasau lah caia,
Lantai lapuak janjang tagantuang,
dindiang nan indak elok lai,
Baitu lah misal jo umpamo nasib Ideologi Tuan kutiko kini.

TUAN!!!
SALAMAIK ULANG TAUN

Wassalammualaikum,


Jamuan ini diramu setahun lalu, ketika rakyatnya berang memberangsang ke penguasa negeri ini.

Benar… Benar para moyang kita pemikir hebat, letupan-letupan gagasan merekalah yang ikut membentuk bangsa ini.

Tapi ada yang kita lupa, kita tidak lagi merawat idealisme mereka, budaya mereka, waris istiadat mereka.

Kita hanya berisik saat diusik, selepas itu kembali tak peduli, tak lagi menghadirkan Buya Hamka, Raja Melewar, Rohana Kudus, Siti Manggopoh kekinian.

Saluang, bansi, ataupun randai diobral murah dalam pergelaran kaki limapun kita tak peduli.

Minangkabau, 8/10/2020

(Visited 118 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

One thought on “CERMIN MERETAK, PELITA MENGABUR (Leiden is Lijden dalam sastra)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.